Zia benar benar tak mengerti dengan apa yang di inginkan Leroy saat ini. Dia menatap mata laki laki itu untuk mencari tahu tujuannya.
"Aku tak bisa, kau pikir kau siapa? Meskipun kita menikah aku tak lupa kalau kita tak saling mencintai. Apa kau juga lupa jika semalam kekasihmu ada disini?"
Sorot mata Leroy semakin menajam ketika Zia kembali mengingatkan status mereka. Rahang Leroy mulai mengeras karena Zia terus membantah semua perkataannya.
Leroy tahu bagaimana pekerjaan Zia selama ini. Sering sekali Zia beradegan mesra dengan partner laki laki yang lainnya.
"Turuti saja, dan lagi kau tak ku ijinkan mengambil adegan berpasangan. Ingat kau sudah menikah!"
Alis Zia menyatu, dia bingung kenapa tiba tiba Leroy bersikap seperti itu kepadanya.
"Apa kepalamu baru saja terbentur? Kau ingin membatasi kegiatanku disaat kau sendiri masih menjalin hubungan dengan wanita lain lain? Kau gila!"
Semua perkataan Zia membuat Leroy terdiam, dia sadar jika dia sudah mengatur kehidupan Zia saat ini.
Zia mendorong tubuh Leroy agar menyingkir dari atas tubuhnya.
Leroy yang lengah, akhirnya terguling ke samping. Tapi sebelum Zia bisa kabur dari sana tangannya lagi lagi di tarik oleh Leroy.
Bruk....
"Ssh ...."
Zia meringis saat tubuhnya terjatuh di atas tubuh Leroy.
"Leroy lepaskan aku!"
Zia berusaha bangun tapi Leroy menahan pinggangnya.
Dia terus mengamati wajah kesal Zia yang berusaha untuk bangun dari atas tubuhnya. Akhirnya Zia berhenti ketika Leroy benar benar tak mau melepaskannya.
Dia menatap tajam kepada Leroy.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?"
Leroy terdiam, dia tak menyangka jika akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Zia.
Zia masih menunggu jawaban dari Leroy. Tapi beberapa saat berlalu dan Leroy masih diam tanpa menjawab.
Akhirnya perlahan Zia bangun dari atas tubuh Leroy dan masuk ke kamar mandi.
Leroy yang melihat kepergian Zia tak bersuara lagi pun menghela napasnya panjang. Sejujurnya Leroy bingung ada apa dengan dirinya saat ini.
Zia yang berada di dalam kamar mandi, terpaku pada wajahnya sendiri.
"Aku memang ingin menikah sekali seumur hidupku. Tapi jika pasangan ku masih mempunyai kekasih di hatinya aku bisa apa? Dia masih mencintai wanita itu. Meskipun aku tak mencintainya sekarang, aku tetap akan melakukan kewajiban dan tanggung jawab ku sebagai seorang istri. Itu yang selalu di pesan mommy kepadaku sejak dulu."
Zia menatap tajam ke depan, mengingat bagaimana Evelyn semalam.
Juga beberapa informasi yang dia dapatkan sebelumnya soal Evelyn.
"Wanita itu bermain rapi sekali. Pantas jika Leroy buta seperti itu. Atau jangan jangan Leroy juga tak tahu tentang bagaimana aslinya Evelyn?"
Zia masih berada di dalam kamar mandi, banyak hal yang dia pikirkan setelah menikah dengan Leroy. Zia menepuk pelan pipinya, dia tak ingin berlarut karena masalah ini.
Zia bergegas membersihkan dirinya. Pekerjaan nya tak bisa di tunda karena kontrak ini sudah di sepakati jauh jauh hari sebelum ada pernikahannya dengan Leroy.
Saat Zia kembali ke kamar, dia melihat Leroy yang tengah sibuk dengan laptop kerja miliknya. Leroy sedikit melirik ke arah Zia yang sedang bersiap.
Tak lama dia langsung menaruh laptop nya dan pergi ke kamar mandi.
"Aku akan mengantarmu."
Suara berat Leroy terdengar seperti perintah bukan seperti tawaran kepada Zia.
Zia ingin menjawab tapi Leroy sudah terlanjur masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada apa dengannya? Kenapa aneh sekali?"
Zia tak ingin memikirkan Leroy dan fokus dengan make up nya saat ini. Tak menunggu lama Leroy juga sudah bersiap dengan pakaian yang rapi.
"Kau yakin ingin mengantarku? Bagaimana jika kekasihmu mengetahuinya?"
Gerakan tangan Leroy terhenti, tapi detik berikutnya dia melanjutkan merapikan penampilannya lagi.
"Dia di rumah sakit bersama assisten ku."
Zia mengangguk pelan, apa yang Zia harapkan. Meskipun raga Leroy bersamanya tapi semua perhatian Leroy ada pada Evelyn.
"Sudahlah terserah dia saja mau seperti apa. Aku tak perduli dan itu bukan urusanku." batin Zia.
Mereka berdua keluar dari kamar mereka. Jatah di hotel itu masih beberapa hari lagi. Sesuai dengan perintah dua pasang orang tua, mereka di larang pulang sebelum jatah menginap di hotel itu habis. Di tambah lagi hotel itu juga milik keluarga Leroy.
Selama dalam perjalanan ke tempat pemotretan, tak ada obrolan yang terdengar. Leroy fokus pada jalanan di depannya. Sementara Zia fokus dengan ponselnya.
Tak lama terdengar Zia sedang menelfon asistennya.
"Nat, pesankan sarapan untuk ku."
Zia sekilas melirik Leroy yang ternyata juga sedang memperhatikan nya.
"Dan juga untuk suamiku. Jangan lupa kopi hitam untuknya."
"Apa ada lagi?"
"Sarapan untuk semua orang seperti biasa. Dan Nat, bisakah kau menolak kontrak untuk pemotretan yang berpasangan?"
"Tentu, aku mengerti. Aku akan memilah semua pekerjaanmu khusus yang seperti itu mulai dari sekarang."
Leroy mengeratkan pegangannya pada kemudi mobilnya. Entah kenapa dia merasa Zia memang mengikuti semua permintaannya. Ada senyum samar yang tercetak di wajahnya saat ini.
"Dia patuh sekali, tapi apa ada alasan lainnya kenapa dia tiba tiba patuh seperti itu padaku? Bukannya sejak semalam dia selalu membantahku?"
Leroy tak berani bertanya, dan akhirnya mereka sampai di tempat pemotretan Zia.
Leroy memilih menunggu di mobil. Dia tak ingin mengganggu Zia bekerja.
Sementara Zia masuk ke dalam, Leroy menghubungi Alvaro untuk menanyakan kondisi Evelyn.
"Al, bagaimana keadaannya?"
"Nona Evelyn sejak kemarin tak mau makan tuan muda. Dia juga mencari tuan muda. Jika dia belum makan sama sekali, kondisi nya tak akan lekas membaik."
Leroy mengusap wajahnya kasar, lalu dia melihat ke arah tempat kerja Zia yang mungkin masih lama selesainya.
"Aku akan kesana, tapi aku tak lama. Aku sedang mengantar Zia."
Setelah itu, Leroy mengirim pesan pada Zia jika dia ada urusan mendadak sebentar. Dia akan kembali menjemput nya jika Zia sudah selesai pemotretan.
Zia yang baru saja siap mengerutkan keningnya, tapi tak lama ada pesan masuk lagi.
"Ternyata masih saja," gumam Zia lirih.
Zia tak ingin mood nya berubah dalam bekerja hanya karena Leroy pergi meninggalkan nya demi Evelyn.
Leroy terlalu meremehkan Zia yang terlihat manja di depan semua orang tanpa tahu jika gadis itu bisa melakukan apa saja yang dia inginkan.
"Kau kenapa?"
Natalie baru saja sampai dan memberikan pesanan Zia.
"Buang saja kopinya, orangnya sudah tak ada disini!"
Alis Natalie mengkerut, lalu dia duduk di sebelah Zia tanpa melakukan apa yang dikatakan oleh Zia tadi.
"Kemana dia? Menemui kekasihnya itu?"
Zia tersenyum tipis, dan Natalie sudah tahu jawaban nya hanya dengan melihat senyuman di wajah Zia.
to be continued