Bab 13

1040 Kata
Leroy tetap memaksa untuk mengantar Zia meskipun Zia sudah beberapa kali menolak. "Kenapa masih cemberut saja? Kau masih marah padaku hanya karena aku mengantarmu?" Zia menghela napas panjang karena sudah lelah berdebat. Dia kesal karena Leroy mengatakan banyak hal ambigu di depan kedua orang tuanya yang membuat mereka salah paham. Saat ini mereka masih ada di parkiran mobil dimana Zia akan mengadakan pemotretan outdoor sebuah brand baju yang baru. Zia duduk menyamping lalu melihat ke arah Leroy kesal. "Bisa tidak, kau tidak usah mengatakan hal aneh aneh pada Mommy? Kau tahu kalau hubungan kita... mmph......" Belum sempat Zia menyelesaikan kalimatnya Leroy sudah lebih dulu mencium bibirnya. Mata Zia membola, tapi saat Zia ingin menjauh, Leroy menahan pinggang Zia agar tak bisa bergerak. Tak ciuman biasa, seperti yang sudah sudah, Leroy seperti lupa diri. Ciuman itu berlangsung lama, sampak suara ketukan jendela mobil Leroy terdengar. Barulah Leroy melepaskan Zia istrinya. Sejenak Leroy melihat wajah Zia yang merah karena ulahnya begitu juga dengan bibir Zia yang terlihat bengkak. Leroy mengusap bibir itu yang membuat semua pertahanan nya runtuh, yang membuat dia melupakan segala hal tentang Evelyn. Yang membuat Leroy mengambil keputusan besar untuk semua perasaan denial nya tentang Evelyn. "Zia, jika mungkin aku tak punya masa lalu yang masih belum selesai, sungguh aku benar benar ingin mengurung mu di kamar. Membuat mu terus mendesah dan memanggil namaku setiap detiknya." Suara Leroy terdengar serak dan berat. Tubuh Zia meremang, tiba tiba sekujur badannya merinding semua karena perkataan Leroy. Bisa bisanya laki laki itu mengatakan hal vulgar tanpa filter sedikit pun. "Dia kerasukan setan apa? Tolong mommy, Zia takut!" batin Zia. "Ja-jangan bicara sembarangan. Dan bukan pintunya, Natalie sudah menungguku." Wajah Zia menjadi gugup dan itu membuat Leroy tersenyum samar. "Lucu sekali istriku, ingin sekali aku menerkamnya. Tapi sialnya, ada masalah yang harus aku selesaikan terlebih dahulu!" batin Leroy. Leroy yang melihat Zia panik terpaksa membuka kunci mobilnya dan membiarkan istrinya kabur dari sana bersama Natalie. Sedangkan dia menatap gemas punggung Zia yang perlahan menghilang masuk ke dalam tempat kerja Zia. Saat Leroy akan melajukan mobilnya, tak sengaja matanya menangkap sosok Rama yang juga berjalan masuk ke dalam tempat pemotretan. Matanya menyipit, spontan tangannya mencengkram setir mobil dengan kuat. "Sabar Leroy, selesaikan dulu masalah mu baru kau bisa mendekati Zia sepenuhnya dan menyingkirkan semua laki laki yang ingin mendekati istrimu!" gumam Leroy. Dia mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Menahan emosinya, lalu dia sadar jika mungkin Zia juga merasakan hal yang sama kemarin setelah melihat postingan media sosial tentang dirinya dan juga Evelyn. "Sial, membayangkan Zia menangis dan kesal saja aku marah. Apalagi lihat langsung dia menangis, sialan kau Leroy, kau laki laki berengsek. Dan kau Evelyn, berani sekali kau memanfaatkan ku selama ini!" Leroy mengirim pesan pada Alvaro untuk menunggunya di rumah sakit. Dia hanya sebentar datang kesana karena ada masalah yang lebih penting lainnya untuk diselesaikan. Tak menunggu lama, mobil Leroy sudah berada di parkiran rumah sakit. Dan kali ini Leroy tak datang sendiri. Dia membawa beberapa pengawal agar tak ada lagi yang berani mendekatinya atau mencuri fotonya diam diam untuk memanfaatkan keadaan. Aura Leroy berbeda ketika sekarang tiba dirumah sakit. Sebelum itu Leroy terlihat biasa saja dan pada akhirnya kecolongan fotonya bersama Evelyn. Alvaro sudah menunggu Leroy di depan ruangan dokter yang memeriksa Evelyn sejak awal. Alvaro juga mengundang dokter spesialis lain yang ditugaskan untuk memeriksa Evelyn dan hasil pemeriksaan nya berbeda. "Apa yang tuan pikirkan benar. Nona Evelyn menyuap dokter itu untuk membuat laporan yang berbeda. Dia membuat seolah nona Evelyn sakit parah." Alvaro memberikan laporan kesehatan Evelyn yang sesungguhnya. Sementara dokter yang sejak menangani Evelyn pertama kali sudah berlutut di depan Leroy dengan wajah ketakutan. Dimana itu disaksikan oleh semua petinggi rumah sakit. Leroy melempar laporan itu di depan para direktur rumah sakit. "Jadi siapa yang ingin bertanggung jawab dengan semua kejadian ini? Apa karena selama ini aku terlalu baik sehingga kalian membiarkan seorang dokter spesialis di rumah sakit kalian menerima suap seperti ini? Di bayar dengan apa dia? Uang? Berapa jumlahnya? Atau dibayar dengan tubuh wanita sialan itu?" Suara Leroy terdengar rendah tapi lebih menakutkan dari pada Leroy berteriak seperti biasa. Kemarahannya sudah tak bisa terbendung kali ini. Dia merasa selama lebih dua tahun dia membuang waktunya hanya untuk Evelyn yang nyatanya malah membodohi dirinya. Dan kemungkinan orang tuanya juga sudah tahu hal ini. Untuk itulah dia langsung dijodohkan tanpa bisa menolak. Entah apa yang orang tuanya katakan pada Zia sampai Zia mau menerima laki laki bodoh sepertinya. "Tuan Leroy, maafkan keteledoran kami untuk hal ini. Tapi sebelumnya kami ingin bertanya, bukannya nona Evelyn adalah kekasih tuan Leroy?" Salah satu dokter dan direktur rumah sakit itu bertanya dengan hati hati pada Leroy. Dan inilah yang Leroy benci akibat semua kebodohan yang dia lakukan. Dia terlalu menutup mata dan telinga tentang semua yang dilakukan Evelyn selama ini. "Kalian buta? Aku baru saja menikah, dan Evelyn bukan siapa siapa lagi untukku. Jika pun dia masih menjadi kekasihku, apa kalian pantas memalsukan data kesehatan seseorang? Dimana sumpah kalian sebagai dokter yang akan berkerja dengan jujur itu?" Jawaban Leroy membuat semua orang itu terdiam, harusnya mereka tetap mengedepankan sumpah mereka untuk tak menerima suap dalam bentuk apapun. "Alvaro, pindahkan wanita itu ke ruangan biasa. Cabut semua fasilitas nya di rumah sakit ini. Aku tak mau lagi berurusan dengan wanita itu. Dan satu lagi, blokir semua kartu yang dia bawa. Matikan aksesnya untuk kembali ke apartemen, keluarkan semua barangnya dari sana. Sterilkan semua tempat yang pernah dia tempati apapun alasannya. Ah dan satu lagi, tarik mobil yang dia bawa lalu jual. Uangnya sumbangkan ke panti asuhan!" Perintah Leroy mutlak, awalnya Alvaro ragu tapi mendengar semua yang dikatakan Leroy barulah Alvaro yakin jika Leroy sudah terbuka lebar matanya dengan kelakuan Evelyn selama ini. Leroy bangkit berdiri dari duduknya, dirasa dia tak ada urusan lagi disana. "Dan satu lagi, blokir nama dokter ini dari semua rumah sakit. Ini peringatan terakhir untuk kalian semua. Jika wanita itu masih bersikeras ingin tetap disini silahkan saja, itu bukan lagi urusanku!" Leroy dan anak buahnya pergi dari sana disusul oleh Alvaro. Sementara Evelyn yang mendengar jika Leroy akan datang ke rumah sakit sudah bersiap secantik mungkin. Tapi setelah menunggu berjam jam, Leroy tak kunjung tiba di ruangannya. "Kemana Leroy sebenarnya? Kenapa dia tidak langsung kesini saja?" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN