Bab 14

915 Kata
Evelyn masih menunggu Leroy untuk menjenguknya tapi lebih dari satu jam Evelyn menunggu tak juga Leroy datang kesana. Evelyn mulai emosi, dia yang tak kunjung bisa menghubungi Leroy ingin keluar dari kamarnya. Tapi saat dia membuka pintu kamar, beberapa petugas rumah sakit masuk ke dalam dengan dua orang dokter baru yang akan menangani Evelyn. Evelyn mundur ke belakang, dia menatap semua orang itu bingung. "Kalian siapa? Kenapa kalian datang ke kamar ku?" "Nona Evelyn, kami di perintahkan untuk memindahkan nona ke kamar biasa. Tuan Leroy menghentikan semua biaya pengobatan nona karena laporan pemeriksaan nona baru saja keluar. Nona Evelyn baik baik saja, dan tuan Leroy berpesan jika nona masih mau di rumah sakit nona bisa pindah ke ruang rawat biasa." Mata Evelyn membelalak mendengar itu semua. Dokter itu bersikap tegas dan profesional membacakan semua rekam medis Evelyn yang asli. Dari hari pertama sampai hari ini tak ada yang berbahaya. "Apa maksudnya, aku sedang sakit dan aku belum sembuh. Panggilkan Leroy kesini, aku ingin bertemu dengan nya!" Evelyn memerintahkan orang orang itu dengan keras, suaranya membuat beberapa orang yang berlalu lalang disana menghentikan langkah mereka dan melihat ke arah Evelyn. Tapi semua perawat dan dokter itu memilih diam. Evelyn yang melihat itu tentu saja meradang, dia tak terima dengan perlakuan petugas kesehatan itu. "Aku akan mengadukan kalian semua pada anak buah Leroy di depan, setelah ini kalian pasti akan di panggil Leroy ke depan dewan direksi dan aku pastikan kalian akan di pecat!" Evelyn menunjuk semua orang yang ada disana dengan mata yang nyalang. Saat Evelyn ingin mendorong salah satu dari mereka, semua orang malah membuka kan jalan untuk Evelyn. Merasa ada yang aneh, dia bergegas keluar ruangan. Ternyata diluar ruangan tak ada satupun anak buah Leroy yang berjaga. Begitu juga Alvaro yang tak terlihat batang hidungnya. "Nona, silahkan pindah atau nona bisa langsung pulang karena sudah di ijinkan untuk pulang hari ini. Semua dalam keadaan baik, tapi jika nona masih ingin tetap tinggal disini aku akan memberitahu rincian pengobatannya. Satu malam diruangan ini sekitar lima puluh juta ke atas, belum lagi obat obatan yang mungkin nanti di perlukan!" Evelyn mengepalkan kedua tangannya marah, dia tak akan sanggup membayar itu semua jika dia terlalu lama disana. Alhasil Evelyn meriah beberapa barang miliknya tak lupa juga ponsel nya. Dia akan membuat perhitungan nanti dengan Leroy jika dia sudah bisa bertemu dengan Leroy. "Tuan muda, wanita itu sudah pergi dari rumah sakit. Sepertinya dia akan kembali ke apartemennya!" Leroy yang mendapat laporan seperti itu hanya melihat sekilas. Semua yang berhubungan dengan Evelyn di larang lagi disebutkan. Semua pekerjaan Alvaro juga sudah selesai dilakukan. Memblokir semua akses dan juga menarik semua fasilitas yang diberikan Leroy kepada Evelyn. Yang paling utama adalah saat semua orang dilarang menyebut namanya di depan Leroy. "Atur jadwal ku sampai siang nanti, setelahnya aku harus menjemput Zia di tempat pemotretan. Jangan sampai aku melihat Zia bersama laki laki lain!" Alvaro mengangguk mengerti, perubahan Leroy yang langsung seperti ini sepertinya membuat Alvaro senang juga khawatir. Alvaro takut jika Evelyn akan nekat dan membuat masalah di kemudian harinya. # Di satu sisi, Natalie tiba tiba bersorak bahagia ketika melihat ponselnya. "Kau kenapa?" Natalie mendekat ke arah Zia, menunjukan sebuah berita di bagian gosip jika ada yang mengupload tentang Evelyn yang di usir dari rumah sakit karena tak sanggup membayar. "Suami mu benar benar membuktikan semua ucapannya. Dan wanita ular itu pasti sekarang kalang kabut. Aku yakin tak hanya biaya rumah sakit yang di hentikan pasti yang lainnya juga." Natalie mengatakan semua itu dengan wajah yang menggebu gebu. "Itu bukan urusan ku, lebih baik segera siapkan pakaian ku yang akan di pakai selanjutnya." Natalie mengangguk, dia pergi dari hadapan Zia untuk mengambil berapa gaun buat Zia. Kening Zia mengkerut, lalu dia mengangkat wajahnya ketika melihat sebotol minuman ada di depan wajahnya. "Rama ...." Rama tersenyum, dia duduk di dekat Zia sambil mengulurkan kopi kemasan pada Zia. "Rama, maaf tapi aku sudah lama tak minum kopi." Zia menolak dengan halus pemberian Rama mengingat jika Leroy saat ini juga sedang berjuang menjauhi masa lalunya. "Ah, aku tak tahu kalau kau sudah berhenti minum kopi." Zia mengangguk, dia kembali fokus pada gambar miliknya. Rama merasa jika Zia mengacuhkannya. "Kau mengabaikan ku?" "Hah, apa?" Zia menatap Rama tak mengerti, pasalnya sejak tadi dia sibuk dengan beberapa design aksesoris yang di pesan beberapa orang secara langsung. Zia menatap Rama bingung, belum sempat Zia menyahut lagi ponselnya berbunyi. Disana tertera nama Leroy sang suami. Rama yang melihat itu tentu saja tak terima. "Zia, jika nanti ada pose yang terlalu intim kau akan mengambilnya atau tidak?" Zia memejamkan matanya mendengar pertanyaan Rama lalu menghela napas panjang. " Leroy, aku akan menghubungi mu nanti." Setelah mengatakan itu, Zia mematikan sambungan telfonya dan menatap tajam ke arah Rama. "Rama maaf, tapi tadi kau mengganggu ku telfon dengan suami ku. Dan masalah pertanyaan mu tadi, aku tegaskan sekali lagi. Tak ada adegan mesra sama sekali. Pihak manager yang akan mengatur semuanya dengan baik. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi!" Zia pergi dari sana meninggalkan Rama sendirian menatap punggung Zia yang semakin lama semakin menghilang dari jarak pandangnya. "Zia, aku akan cari cara agar kau bisa terbebas dari laki laki yang bahkan tak mencintai mu. Dia bahkan meninggalkan mu untuk menemui kekasihya itu!" Rama meremas botol minuman kosong itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Zia sempat melihat Rama pergi dari sana, tapi dia merasa aneh karena sikap Rama barusan. Seperti ada seseorang yang dengan sengaja menyuruh Rama melakukannya. "Jika itu benar, siapa yang bikin ulah?" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN