Zia selesai di kala waktu sudah masuk jam makan siang. Saat dia ingin pergi membeli makan, Leroy tiba tiba datang kesana membawa beberapa makanan.
"Al, bagikan, jangan sampai ada yang tak kebagian."
Alvaro membagikan beberapa makanan yang dibawa oleh Leroy. Sedangkan khusus untuk Zia, Leroy sendiri yahh membawanya.
"Kenapa kesini? Apa urusanmu sudah selesai?"
Cup....
Tubuh Zia mematung tatkala Leroy meraih kepala Zia dan menciumnya dalam, tak peduli saat ini mereka berada di depan banyak orang.
Uhukk....
Natalie yang baru saja minum langsung tersedak melihat keberanian Leroy seperti itu.
"Wah, kesambet apa dia tiba tiba begitu?" gumam Natalie.
"Makan Zia, kenapa malah bengong."
Zia yang tersadar langsung memberengut kesal. Bisa bisanya Leroy melakukan itu tanpa aba aba.
"Kenapa mencium ku?" protes Zia.
"Kau istriku, salahnya dimana? Tak mungkin aku mencium perempuan lain!" jawab Leroy santai.
Zia melipat bibirnya ke dalam tak lagi membalas perkataan Leroy lagi. Mereka duduk berdua dan Leroy lagi lagi membuat Zia bengong. Pasalnya dia menyiapkan semua makanan itu di depan Zia dengan telaten. Zia berkedip melihat semua yang dilakukan Leroy saat ini.
"Dia kenapa? Tiba tiba sekali baik padaku. Apa dia sudah selesai dengan perempuan itu? Atau mungkin dia kesini hanya mau menepis kabar kemarin?" batin Zia.
Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya, tapi detik berikutnya dia meringis karena Leroy menyentil keningnya.
"Jangan pakai otak mini mu itu untuk banyak berpikir."
Mata Zia melotot, tapi sebelum Zia sempat mengatakan apapun Leroy sudah menyuapi Zia dengan makanan yang dia bawa.
"Makan Zia, aku lapar. Berdebat dengan mu pun aku butuh tenaga. Aku hanya punya waktu sebentar untuk makan siang, jadi jangan mengajakku bertengkar lagi."
Setelah mengatakan itu Leroy mengambil miliknya lalu makan dengan tenang. Sementara Zia masih memperhatikan Leroy dari tempatnya duduk.
Dia merasa jika Leroy hari ini berbeda, meskipun mulutnya masih sangat tajam tapi dia lebih lembut dari pada biasanya.
Tak ada tatapan marah dan juga benci kepadanya, hanya tatapan kesedihan dan juga lelah yang mungkin Zia tak pernah tahu.
Leroy dan Zia makan dengan tenang, tapi ketenangan itu tak berlangsung lama karena Rama yang sejak tadi memperhatikan mereka tiba tiba datang kesana.
Zia yang sejak tadi menikmati makanannya mendongak, dia menghela napas panjang saat melihat siapa yang ada di depannya.
"Zia, kau kan tak bisa makan makanan seperti itu? Bukannya pihak brand juga tak mau kalau kau sampah gendut? Itu terlalu berlemak."
Kening Leroy mengkerut, dia lalu melihat Zia dengan penuh pertanyaan.
Sedangkan Zia menatap bingung pada Rama. Seingatnya tak ada peraturan seperti itu. Tapi kenapa Rama tiba tiba mengatakan hal tak masuk akal padanya.
Zia juga melirik ke arah Natalie yang langsung disambut dengan gelengan tak mengerti.
"Rama, bisa tidak kau jangan menggangguku? Aku makan dengan suamiku, seingat ku tak ada aturan yang kau sebutkan tadi. Masalah berat badanku jangan terlalu mengaturku, aku bisa jaga diriku!"
Zia langsung berdiri dari duduknya, dia ingin pergi dari sana karena muak dengan tingkah Rama sejak tadi. Zia lalu menarik tangan Leroy untuk dibawanya pergi. Tapi Rama juga menahan tangan Zia yang satunya.
Mata Zia melebar, dia melihat Rama sedang mencekal tangannya.
"Lepasin!"
Rama tak menggubris itu, dia semakin menarik Zia ke arahnya tapi ternyata Leroy tak mau kalah.
"Lepaskan istriku!"
Leroy menepis tangan Rama dari lengan Zia. Dia melihat lengan istrinya yang merah karena ulah Rama.
"Sayang, sakit?"
Tiba tiba saja nada bicara Leroy berubah menjadi lembut. Zia menggeleng, dia menepuk pelan punggung tangan Leroy yang sedang memeriksa lengannya yang memerah karena ulah Rama.
Lalu pandangan Leroy berpindah pada Rama.
"Ini peringatan terakhir untuk mu, jangan mengganggu istriku. Jika sampai terjadi lagi kau akan benar benar menyesal berurusan dengan ku."
Setelah mengatakan itu, Leroy mengajak Zia pergi. Semua pekerjaan Zia juga sudah selesai.
Rama Ingin mengejar Zia, tapi bahunya di cegah oleh Alvaro juga Natalie.
"Rama, berhentilah mengganggu mereka. Kau tak perlu ikut campur urusan Zia dan suaminya."
Rama menatap Natalie tak suka, dia menepis tangan Natalie tapi Alvaro yang membalas nya. Alvaro mendorong tubuh Rama agar tak mengganggu Natalie saat ini.
"Tuan Rama, jangan karena kau merasa dekat dengan Nyonya muda, kau bisa seenaknya. Nyonya ku akan baik baik saja dengan tuan Leroy jadi kau jangan membuat masalah lagi. Pastikan karirmu baik baik saja setelah ini!"
Alvaro dan Natalie pergi dari sana meninggalkan Rama begitu saja. Pertengkaran Rama dan juga Leroy serta Zia menjadi tontonan menarik untuk orang orang yang disana. Tapi tak ada yang berani mengambil video atau sekedar foto. Anak buah Leroy sudah berjaga disana jangan sampai ada foto yang tak menyenangkan yang beredar seperti sebelumnya.
Leroy membawa pergi Zia ke apartemen miliknya yang tak jauh dari lokasi Zia. Entah kenapa Leroy memilih untuk pergi kesana meredam semua emosinya yang baru saja muncul karena ulah Rama.
Zia yang melihat kemana dia dibawa pun menjadi bingung. Mereka tak pulang ke rumah tapi kesebuah apartemen mewah.
Leroy tak mengatakan apapun pada Zia. Dia turun dari mobil, lalu mengitari mobil dan menarik Zia keluar dari dalam mobil.
Dia membawa Zia naik ke lantai atas dimana unit milik Leroy berada.
"Leroy kenapa kita kesini.... mmph......"
Mata Zia membola ketika Leroy tiba tiba menciumnya disaat mereka baru masuk ke dalam apartemen.
Leroy juga menghimpit Zia ke dinding, mengangkat kedua tangan Zia ke atas kepala. Zia yang kewalahan ingin memberontak tapi tak bisa karena Leroy mengunci semua tubuhnya. Ciuman itu semakin brutal yang membuat Zia mendesis kesakitan. Tapi ternyata Leroy tak membiarkan Zia begitu saja.
Zia memutar otak agar Leroy tak terus terusan menciumnya dengan penuh emosi. Akhirnya, Zia membalas ciuman itu lebih lembut dari apa yang Leroy lakukan. Mata Leroy terbuka, dia merasakan jika Zia membalas ciumannya.
Perhitungan Zia tepat, Leroy mulai merubah ciumannya mengikuti Zia. Kedua tangan Zia sudah terlepas diganti dengan tangan Leroy yang menahan kepala belakang Zia agar ciuman mereka lebih dalam lagi. Tangan Leroy merambat ke bawah lalu mengangkat tubuh Zia dan membawanya masuk ke ruang tengah. Leroy duduk di sofa dengan posisi Zia yang berada di pangkuannya.
Leroy menghentikan ciuman itu lalu menatap wajah Zia yang merah karena ulahnya.
Melihat bibir Zia yang sangat bengkak membuat Leroy merasa bersalah. Dia mengusap bibir itu dengan ibu jarinya.
"Maafkan aku sudah menyakitimu, aku tak bisa mengendalikan semua emosiku!"
to be continued