Leroy langsung menatap tajam ke arah Zia setelah mendengar semua yang Zia katakan. Sementara Alvaro langsung melipat bibirnya ke dalam. Permintaan Zia benar benar sebanding dengan apa yang dilakukan Leroy dengan Evelyn.
Dirgantara melirik sekilas ke arah Leroy yang rahangnya sudah mengeras. Dia ingin sekali tertawa ketika Zia mampu menandingi semua yang Leroy lakukan.
Dirgantara menepuk punggung tangan Zia dan tersenyum puas.
"Tentu Zia, kau bisa melakukannya. Terlebih itu pekerjaanmu dan kau bisa profesional. Jadi kau bisa melakukannya. Mengingat suami mu juga masih mempunyai hubungan dengan wanita lain secara terang-terangan."
Mata Alvaro membola sempurna.
"Gila, kenapa bisa begini? Dan nyonya muda benar benar tak bisa di remehkan. Wajahnya saja yang lembut tapi semua sikap yang di ambil membuat tuan muda mati kutu. Ah, aku tahu kenapa tuan muda tertarik pada nyonya di banding wanita itu. Tapi mulai sekarang aku akan ada di pihak nyonya muda. Aku juga sudah muak dengan wanita itu sebenarnya." batin Alvaro.
"Pa, kenapa malah papa dukung. Dia istriku!" protes Leroy.
Dirgantara berdecih sinis, dia mengabaikan teriakan Leroy saat ini.
"Kenapa tidak, kau bahkan terang terangan masih berhubungan dengan wanita itu. Apa kau baru sadar jika kau sudah menikah Leroy?" bentak Dirgantara.
"Tapi Leroy mencintai Evelyn, dan Leroy menikah juga karena paksaan kalian. Jika kalian tak mengancam Evelyn, Leroy tak mungkin mau menikahi Zia!!"
Nyut....
Hati Zia berdenyut, sementara Dirgantara memejamkan matanya mendengar semua perkataan Leroy.
Zia menatap Leroy datar, tak ada ekspresi yang bisa di tebak oleh Alvaro.
Mata Leroy bergerak gelisah ketika menyadari dia kelewatan bicara.
"Siapa yang bilang aku dan mama mu mengancam wanita itu? Apa dia yang mengadu? Dan kau lebih percaya pada orang lain di banding orang tuamu sendiri?"
Kali ini ada gurat kekecewaan yang terlontar dari kata kata Dirgantara.
Leroy yang tersadar dengan kesalahannya langsung menunduk. Natalie yang melihat Zia menahan sesuatu segera mengambil alih keadaan.
"Zia, sebentar lagi ada pemotretan iklan kosmetik yang baru. Kita harus berangkat."
Zia melihat Natalie yang mengangguk ke arahnya. Zia tahu jika Natalie berusaha untuk mengalihkan semua pembicaraan menyakitkan itu.
Zia mengambil napas panjang lalu tersenyum ke arah papanya.
"Pa, jangan terlalu emosi lagi. Nanti darah tingginya naik lagi. Zia ada pekerjaan, jadi Zia harus pergi. Dan soal masalah ini, Natalie sudah mengurusnya. Berita itu sudah turun sejak tadi aku sampai disini. Papa tak perlu khawatir. Zia akan baik baik saja, papa tahu kan Zia keturunan siapa?"
Dirgantara terenyuh melihat ketegaran hati Zia. Tak salah jika dia memilih Zia menjadi menantu.
Zia pamit pada Dirgantara melewati Leroy yang masih berlutut di depan papanya. Tak juga melirik atau berpamitan. Dagu Zia terangkat tinggi dan pantang berebut sesuatu dengan orang lain.
"Pa, jangan terlalu keras pada putra papa."
Satu pesan Zia kali ini membuat Leroy seperti tertampar. Bahkan dia merasa menjadi laki laki tak berguna ketika semua masalahnya harus Zia yang membereskan.
Tepat sebelum Zia benar benar meninggalkan ruangan itu, dia berhenti disisi Alvaro.
"Jaga tuanmu baik baik!"
Alvaro meneguk ludahnya kasar, badannya tiba tiba merinding. Aura Zia benar benar berbeda dan lebih menakutkan dari pada sebelumnya.
"Kenapa nyonya muda lebih menakutkan daripada tuan muda?" batin Alvaro.
Setelah itu, Zia benar benar pergi dari sana. Banyak pasang mata menatap kasihan pada Zia yang baru saja menikah dengan bos mereka. Tapi pada kenyataannya di hari kedua pernikahan malah ditinggal bersama Evelyn yang tengah berada di rumah sakit.
Natalie menatap kesal pada semua orang yang melihat Zia kasihan sementara Zia sendiri tak peduli dengan mereka semua.
Zia yang melihat Natalie tengah kesal pun meraih lengan Natalie lalu memeluknya erat.
"Biarkan saja, mereka tak tahu seperti apa aku aslinya. Lagian wajahku terlalu imut untuk harus bersedih gara gara masalah ini." ucap Zia sambil tertawa lepas.
Semua sikap Zia yang masih bisa tertawa di abadikan banyak orang yang melihatnya. Mereka lalu mengunggah potret Zia itu ke media sosial mereka ramai ramai. Banyak dukungan untuk Zia.
"Rencana kita berhasil, biarkan dia menikmati dramanya sendiri." bisik Zia sambil cekikikan.
Natalie yang memang sudah tahu akal bulus Zia hanya menggeleng.
Mereka lalu pergi ke tempat pemotretan yang selanjutnya. Untuk urusan pekerjaan Zia tak akan pernah berbohong dan jadwalnya hari ini memang padat sampai malam hari. Beberapa waktu dia menunda karena rencana pernikahannya. Jadi dia harus menebus semuanya saat ini juga.
#
Sementara itu, di ruangannya Evelyn dia sudah mengamuk karena melihat Zia yang bahkan tak terusik sedikitpun tentang beritanya tentang Leroy. Dia sudah membayar mahal orang untuk mengambil gambar Leroy juga dirinya. Tapi sepertinya tak berpengaruh sama sekali pada Zia.
"Berengsek, kenapa dia masih bisa tertawa? Harusnya dia sudah menangis sekarang karena Leroy lebih memilih menemaniku dari pada menemaninya bekerja!"
Evelyn bahkan sudah mencoba menghubungi Leroy berkali kali tapi tak kunjung mendapatkan respon dari Leroy dan itu semakin membuatnya kesal. Tak hanya itu, berita tentang dirinya dan Leroy hanya dalam hitungan jam sudah hilang tanpa ada sisanya lagi.
"Sia sia aku bayar mereka mahal, bisa bisanya semua berita itu langsung tenggelam dan terganti dengan berita soal Zia bahkan pencapaian Zia!!"
Evelyn meremas ponselnya karena geram dengan semua usahanya yang gagal. Dia akan memikirkan rencana yang lainnya setelah ini.
"Tunggu saja kau Zia, setelah ini Leroy akan kembali jadi milikku. Kau tak akan bisa memilikinya lagi. Dia juga akan ku buat untuk menceraikan mu!"
#
Kembali ke perusahaan Dirgantara.
Saat ini Leroy sudah dibawa kembali ke ruangannya. Alvaro juga baru selesai mengompres luka Leroy yang terkena bogeman mentah dari Papanya.
"Tuan, nona Evelyn terus menghubungi Tuan. Perlu aku jawab?"
Leroy yang sejak tadi memejamkan matanya perlahan menatap Alvaro datar.
"Apa kau sudah menemukan semuanya?"
Alvaro yang mendapat pertanyaan seperti itu ragu ingin mengatakannya.
"Al....."
Nada bicara Leroy sudah rendah, tandanya Leroy ingin mengetahui semuanya.
"Iya tuan muda, semuanya sudah lengkap. Dan nona Evelyn sengaja melakukan ini semua untuk memisahkan tuan dan nyonya. Masalah ponsel dan foto yang tersebar juga semua ulah nona Evelyn. Anak buah kita sudah menemukan siapa yang memotret kalian sewaktu di rumah sakit. Tapi saat anak buah kita ingin menangkapnya, dia sudah dibawa ke kantor polisi terlebih dahulu. Dia juga di bayar oleh nona Evelyn. Bukan menggunakan uang tapi...."
to be continued