Kirana membuka pintu rumah dengan perlahan ketika jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Helaan napas panjang terdengar dari gadis itu, seolah seluruh beban seharian baru boleh jatuh saat kakinya menginjak lantai rumah. Sepatunya dilepas rapi di dekat pintu, tas kerjanya masih tergantung di bahu ketika matanya langsung menangkap sosok Murni di dapur. Perempuan itu berdiri di depan kompor, mengenakan celemek sederhana, tangannya sibuk memotong bawang. Api kecil menyala di bawah wajan. Kirana menegang seketika. “Mbak…” Kirana langsung melangkah cepat mendekat. Tangannya refleks menahan pergelangan tangan Murni sebelum pisau itu bergerak lagi. “Jangan masak dulu.” Murni terkejut, menoleh dengan wajah bingung. “Kenapa, Ran? Mbak cuma mau masak sebentar.” Kirana menggeleng kuat. Wajahnya te

