Kirana duduk di ruang tengah dengan laptop terbuka di pangkuannya. Beberapa berkas berserakan di meja kecil di depannya—laporan keuangan yang harus direvisi, tabel yang perlu diperiksa ulang, dan beberapa catatan kecil dengan tinta biru yang ia tulis sendiri agar tidak lupa. Lampu ruang tengah menyala cukup terang, tapi suasana rumah malam itu terasa sunyi. Murni sudah beristirahat lebih awal. Rafan menghilang ke kamarnya. Dan Kirana memilih tidak mahsuk ke kamarnya sendiri karena kalau ia sendiri di sana, pikirannya justru semakin berisik. Ia mengetik perlahan. Jemarinya bergerak teratur di atas keyboard. Sesekali ia berhenti, memijat pelipisnya yang masih terasa sedikit berat. Meski demamnya sudah hilang, tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Tapi pekerjaan kantor tidak bisa menunggu. Ia ti

