Bab 31

1080 Kata

Rafan duduk di samping Murni di sofa ruang keluarga. Televisi menyala tanpa benar-benar mereka tonton. Cahaya lampu temaram membuat ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya. Murni menyandarkan punggungnya, selimut tipis menutup kahkinya, sementara Rafan duduk agak condong ke depan, kedua tangannya saling mengait di depan lutut. Murni menoleh dan tersenyum melihat putranya. Senyum yang selalu ia simpan untuk Rafan—lembut, penuh sayang, seolah ingin menenangkan dunia yang sering terasa terlalu keras. “Kamu kelihatan capek,” katanya pelan. Rafan menghela napas panjang. Helaan itu keluar begitu saja, berat, seperti membawa beban yang sudah terlalu lama ia simpan di d**a. Murni menangkapnya. “Ada apa, Fan?” Rafan terdiam beberapa detik. Ia menatap lantai, lalu menoleh ke arah ibunya. Ada ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN