Bab 11

1001 Kata
Kirana menatap pada rumah yang ada di depannya. Matanya menatap pada Murni dan Tora yang sudah membuka pintu rumah itu. Murni berbalik. "Kirana, ayo, masuk. Semua barang-barang kamu biar Mas Tora saja yang bawa. Kamu nggak usah sungkan gitu. Ini juga rumah kamu," ucap Murni lembut. Kirana mendengar apa yang dikatakan oleh Murni mengangguk. Perlahan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Mata Kirana menatap sekeliling rumah. Tampak sepi. "Mbak, ini memang sepi?" tanya Kirana. "Iya, Mbok pulang kampung dua hari lalu. Kami memang memberikan libur sama Mbok. Terus anak Mbak memang nggak lagi di sini. Dia lagi ke Bandung. Hindarin pernikahan kamu dan Mas Tora," jawab Murni tersenyum tipis. "Sampai dia pergi ya Mbak. Gimana kalau dia pulang nanti dan lihat saya di sini?" tanya Kirana, tak bisa membayangkan bagaimana tatapan kebencian dan bisa saja kata-kata kasar diterima oleh dirinya dari anak pasangan suami istri di depannya ini. Kirana yang selama ini selalu hidup dalam kasih sayang yang melimpah dan tidak pernah selama ini. Kirana mendapatkan kata-kata kasar. Bahkan pacarnya saja selalu bersikap lembut padanya. "Kamu tenang saja. Ada saya. Saya tidak akan biarin dia berlaku kasar sama kamu Kirana. Saya akan menjaga kamu dengan baik. Tenang ya." Ucap Murni mengusap lengan Kirana. Gimana mau tenang! Kirana mau bilang, kalau anak wanita itu pasti membenci dirinya. Karena sudah berani masuk ke dalam rumah ini. Dan merebut ayah anak itu dari ibunya. Kirana tidak merebut. Kalau merebut, maka Tora dan Murni berpisah. Kirana menjadi yang kedua. Kata kasar kalau pernikahan ini berhasil, maka Kirana menjadi pengganti Murni di dalam rumah ini. Saat wanita itu pergi untuk selamanya. "Ini kamar kamu Kirana." Kirana tersentak, lalu menatap pada kamar yang pintunya dibuka dan kamarnya ada di lantai atas? Sendirian begitu? "Ini kamarnya yang besar kedua setelah kamar utama. Saya mau kasih kamar utama sama kamu. Tapi barang-barang saya di sana banyak. Dan susah buah dipindahkan. Lalu saya nggak bisa untuk turun dan naik tangga. Maaf, ya." Murni meminta maaf. Kirana menggeleng. "Nggak apa-apa Mbak. Lagian ini kamarnya besar kok. Lebih besar dibanding kamar saya di rumah orang tua saya. Terus, yang sana itu kamar siapa?" tanya Kirana, menunjuk pada kamar yang tidak berada jauh dari kamarnya. Dia tahu kalau kamar itu berpenghuni. Setelah menutup pintu kamar yang akan ditempatinya setelah melihat sekilas. "Itu kamar anak saya. Nanti kalau terjadi sesuatu kamu bisa minta tolong sama anak saya. Yang menjadi anak kamu juga." Anak tiri! Kirana mengangguk, padahal dia mengharapkan kalau di lantai atas ini hanya ada kamarnya sendiri. Tapi siapa Kirana? Bukan siapa-siapa di rumah ini. Kecuali menjadi istri kedua yang keberadaannya pasti tak dianggap. Dan tetap akan tidur sendiri setelah menikah. Tidak ada tidur berdua. Suaminya lebih memilih untuk tidur bersama istri pertamanya. "Oh, iya Mbak. Nanti kalau ada sesuatu saya akan meminta tolong pada dia. Kalau dia mau menolong saya." Kirana berucap, namun matanya menatap pada Tora yang membawa barang Kirana. Lalu membuka pintu kamar itu lebih dulu. "Masuk." Ucap Tora datar. Kirana mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya. Kirana tidak menyadari Murni yang sudah turun ke bawah. Meninggalkan Kirana dan Tora berdua di dalam kamar. Tora membantu Kirana untuk menyusun semua barang-barang wanita itu. Yang sudah diantar ke sini juga kemarin sebagian. "Kamu juga penulis?" "Hah?" Kirana menatap pada lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh Tora. Atau otaknya memang bekerja sangat lamban sekarang, saat Tora bertanya padanya. Tora berdecak pelan. "Kamu juga seorang penulis? Bukannya kamu itu pemiliki penerbitan. Jadi?" Tora menunggu jawaban dari Kirana. Kirana tersenyum tipis. "Tidak. Aku suka membaca. Tapi kalau untuk menulis dan mengoreksi itu orang yang sudah aku kerjakan. Yang handal dalam bidangnya. Aku suka dengan novel-novel yang menurutku kisahnya sangat bagus sekali." Jawab Kirana menyusun novel-novelnya, di lemari yang tempat menyimpan buku yang sudah disediakan oleh Tora ... mungkin. "Kenapa?" "Apanya?" "Tidak menulis?" tanya Tora kembali, menatap pada novel-novel romansa yang dibaca oleh Kirana. Murni juga sama dengan Kirana, suka membaca novel. Kalau bosan dan jenuh di rumah. Wanita itu sudah berhenti bekerja semenjak empat tahun yang lalu. Saat Tora tahu Murni mengidap penyakit kanker. Segala upaya sudah dilakukan oleh Tora demi kesembuhan Murni. Tetap saja penyakit itu tidak akan pergi dari tubuh Murni. Kanker adalah salah satu penyakit mematikan di dunia dan tidak mudah untuk pergi. "Aku tidak percaya diri dengan kemampuanku sendiri," jawab Kirana, lalu menatap pada beberapa barangnya yang lain. Kirana juga tidak memiliki waktu untuk menulis. Namun nanti akan dicobanya lagi, kalau ada waktu sengang untuk mencoba menulis. "Cobalah. Saya yakin kamu bisa," ucap Tora. Kirana mendengar apa yang dikatakan oleh Tora pada dirinya mengangguk. "Ya, Om. Nanti saya coba. Oh iya, itu- -Itu apa?" tanya Tora menatap pada Kirana yang menatap sekeliling. Lalu gadis itu berlari keluar dari dalam kamar. Setelahnya masuk ke dalam kamar. "Itu Mbak Murni kemana?" tanya Kirana. Tora kembali melanjutkan menyusun barang. "Ke kamarnya. Murni nggak boleh kelelahan. Dia sudah cukup kelelahan di pesta pernikahan kemarin." Jawab Tora. "Jadi..." Kirana menatap dirinya dan Tora berdua di dalam kamar. Tora mendengar ucapan Kirana, lalu berjalan mendekati gadis itu. Menyentil kening Kirana. "Aduh! Sakit!" ucap Kirana memegang keningnya yang barusan kena sentil oleh Tora. "Lebih baik kau susun cepat barang-barangmu ini. Jangan berpikiran yang tidak-tidak Kirana!" ucap Tora dengan nada penuh memerintahnya. Kirana mendengar itu mengangguk. Lalu berjalan menuju barang-barangnya dan kembali menyusunnya. Kirana yang melihat Tora yang akan membuka koper kainnya. Langsung membelalakkan matanya terkejut. "Jangan Om!" teriak Kirana. Tora mendengar teriakan Kirana terkejut. Lalu menyingkir perlahan dari gadis itu. "Om lebih baik keluar. Tinggal ini lagi. Kirana bisa melakukannya sendiri." Kirana mendorong Tora untuk keluar dari dalam kamarnya. Tora mendengar itu mengangguk. Lalu keluar. Menatap pintu kamar Kirana tertutup. "Kamar itu! Kamarnya istri kedua Papa?" Tora menatap pada anaknya yang berdiri di depannya sekarang. "Kamu kapan pulang?" "Barusan. Cih! Jadi juga dia tinggal di sini." Jawab Rafan berlalu dari sana, masuk ke dalam kamarnya. Mencoba untuk menghubungi kekasihnya kembali. Berharap kekasihnya akan menjawab panggilan teleponnya. Dan semoga saja kekasihnya baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN