Kirana duduk di kursi belakang. Menatap pada jalanan menuju ke rumah Tora dan Murni. Rasa gugup membuat Kirana memainkan tangannya. Tapi rasa lapar dirasakan olehnya sekarang lebih mendominasi. Di hotel tadi. Kirana tidak sempat untuk sarapan.
“Hem … Om. Saya lapar. Bisa makan dulu.” Kirana menatap penuh keraguan pada Tora yang duduk di depan lalu menoleh ke belakang sebentar. Tora mendengar apa yang dikatakan oleh Kirana mengangguk.
“Murni kita makan dulu ya.” Ucap Tora lembut pada Murni.
“Iya, Mas. Kasihan itu Kirana dia kelaparan. Tadi nggak sempat sarapan di hotel ya Kirana. Keburu kita mau pulang.” Ucap Murni lembut.
Kirana mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu padanya mengangguk. Hem, dia memang tak sempat makan. Kepalanya saat bangun tadi terasa sangat pusing sekali. Karena semalam Kirana yang menangis dan membuat dia tampak sangat kacau sekali.
“Ya, Bu.” Jawab Kirana.
Murni tertawa kecil. “Panggil Mbak aja ya Kirana. Nggak enak di dengar ini dipanggil Bu. Kamu itu bukan anak saya. Tapi istri kedua Mas Tora,” ucap Murni, secara langsung mengatakan Kirana adalah madunya Murni.
Kirana mengangguk lalu menatap pada kafe yang tempat mereka makan nantinya. Kirana keluar dari dalam mobil. Mengabaikan Tora dan Murni yang berjalan berdua. Sedangkan dirinya berjalan di belakang kedua orang itu. Dia seperti adik mereka. Atau dia seperti anak mereka? Kirana tersenyum miris.
Kirana duduk di depan Tora dan Murni yang duduk berdampingan. “Kamu mau pesan apa Kirana?” tanya Murni menatap pada buku menu di tangannya.
Kirana menunjuk satu makanan dan satu minuman tanpa bersuara. Pelayan kafe segera mencatatnya. Tora memesan makanan untuknya dan Murni. Sudah sangat dihapal oleh Tora apa yang disukai oleh Murni atau tidak disukai oleh Murni.
Kirana mendengar pesanan yang disebutkan oleh Tora. Kirana segera menunduk lalu dia menatap pada kukunya. Sambil memainkan jari jemarinya. Kirana menghela napas kasar. “Saya ragu tentang anak Om dan Mbak yang akan menerima saya nantinya. Bukan apa. Saya itu-
-Kirana! Kamu jangan ragu kayak gitu. Memang dia itu agak keras dan melarang Papanya untuk menikah lagi. Tapi dia itu anak yang baik. kamu hanya perlu mengenalnya dan akrab dengan dia. Maka dia akan menerima kamu.” Murni memotong ucapan Kirana.
Akrab?
Kirana saja tidak bisa terlalu mudah untuk akrab dengan orang. Bagaimana bisa dia akrab dengan anak tirinya nanti. Yang benar saja! Kirana tidak bisa mendekati orang lebih dulu. Kirana tidak mengatakan apapun memilih untuk memakan makanannya sekarang.
Ponsel Kirana berbunyi. Kirana menatap pada nama kekasihnya yang meneleponnya. Dari mana kekasihnya ini mendapatkan nomornya? Padahal Kirana tidak pernah mengatakan kalau dia ganti nomor. Kecuali sekretarisnya yang ada di perusahaan mengatakan ini. Kirana mematikan sambungan telepon itu.
“Siapa yang menelepon? Kenapa nggak dijawab aja?” tanya Murni, memakan makanannya.
Kirana menggeleng pelan. Nanti Kirana akan menelepon balik mengajak kekasihnya bertemu dan memutuskan hubungan mereka dengan cara yang baik. Sekarang Kirana akan bertemu dulu dengan anak tirinya. Dia akan mendekatkan dirinya dengan anak tirinya. Walau Kirana tidak bisa mendekatinya lebih dulu. Tapi Kirana akan berusaha untuk mendekatkan diri pada anak tirinya itu nanti.
Diumur Kirana baru dua empat puluh empat tahun. Sudah memiliki anak. Kirana lebih baik menikah dengan duda? Ya. Harapan Kirana saat orang tuanya mengatakan ia akan menikah dengan lelaki dewasa. Kirana mengira dia akan dijodohkan dengan duda. Namun pria yang sudah memiliki istri dan sangat mencintai istrinya.
“Kirana! Kau melamun?”
Kirana tersadar lalu menatap pada Murni. Kirana memakan makanannya dan tidak menjawab pertanyaan dari Murni.
Tora melihat pada Kirana. “Kirana, tidak sopan kamu tidak menjawab pertanyaan orang yang lebih tua dari kamu!” ucapan tegas dari Tora, langsung Kirana menatap pada pria yang sudah menjadi suaminya itu.
“Nggak Mbak. Cuman mikirin masalah di kantor aja.” Ucap Kirana, kembali memakan makanannya tanpa minat untuk menatap kedua orang di depannya. Tora yang menyuapi Murni makanan yang ada di depannya. Lalu Murni menerima suapan dari Tora dengan lembut.
Murni membalas menyuapi Tora. Orang-orang di sini Kirana melihat sekilas menatap pada Tora dan Murni dengan senyuman manis mereka.
“Mbak, dibanding jadi jomlo sama kakaknya. Mending makan sama saya.”
Semua orang di meja itu menatap salah satu pria muda yang Kirana yakin umurnya sama dengan kekasihnya. Ya. Kirana lebih tua dua tahun dibanding kekasihnya.
“Tidak boleh. Anda bisa pergi jangan mengganggunya!” Tora mengusir pria itu menatap tajam pada pria itu.
Pria itu langsung pergi dari hadapan Kirana dan yang lainnya. Kirana menatap pada Tora dengan senyuman tipisnya.
“Mas, kamu harus perhatian sama Kirana loh. Lihat, banyak yang suka sama Kirana. Nanti kalau Kirana tertarik sama pria yang mencoba mendekatinya. Kamu nanti menyesal telah menyiakan Kirana.” Ucap Murni, tidak ditanggapi oleh Tora.
“Itu terserah Kirana. Dia memang tak nyaman untuk di sisiku. Maka dia boleh pergi. Aku tidak akan menahannya.”
Ucapan Tora membuat Kirana terdiam. Siapa dirinya sehingga ditahan oleh Tora. Kirana hanya gadis ingusan yang menikah dengan lelaki dewasa yang sudah memiliki istri dan satu orang anak. Kalau Murni yang pergi pasti Tora akan menahan wanita itu. Tidak akan membiarkan Murni pergi dalam hidupnya.
“Hush! Nggak boleh ngomong gitu. Kirana! Kamu jangan dengerin apa yang dibilang sama Mas Tora. Kalian memang belum mencintai sekarang. Tapi nanti kalian akan saling mencintai satu sama lain. Mas Tora bakalan bergantung sama kamu, apapun yang dia cari akan mencari dirimu lebih dulu.” Ucap Murni, diangguki saja oleh Kirana.
“Kita pulang sekarang. Kayaknya dia nggak ada di rumah. Kemarin dia bilang mau ke Bandung. Jalan-jalan daripada hadir di pernikahan itu.” Ucap Tora, berdiri dari tempat duduknya.
Kirana ikut berdiri, berjalan di belakang Tora dan Murni kembali. Kirana menatap pada punggung pasangan suami istri itu. Sekarang saja rasanya berat. Saat dia makan bersama dengan mereka. Maka dia seperti nyamuk yang diabaik dan tidak dilihat. Apalagi tinggal serumah? Apakah Kirana bisa menahannya.
Kirana menghela napasnya kasar. Ya Tuhan … sampai kapan? Kirana tidak tahu sampai kapan posisi ini akan terjadi. Dan menjadi wanita jahat di mata masyarakat. Menikahi suami orang dan tinggal serumah dengan istri pertama juga anak mereka.
Kirana juga harus menghadapi orang-orang yang mencemooh dirinya nanti. Mereka hanya melihat. Tanpa cari tahu lebih dalam apa yang terjadi. Apa yang mereka lihat, itu yang mereka tahu. Dan berkata dengan perkataann yang menyakitkan hati seseorang.
Kirana ... harus lebih banyak sabar dan kuat menghadapi semuanya.