Kirana masuk ke dalam kamar hotel. Jantungnya berdegup dengan kencang. Malam ini adalah malam pertamanya dengan Tora— pria yang sudah sah menjadi suami Kirana tadi pagi. Kirana tidak siap melakukan itu dengan Tora. Kirana menggeleng pelan. Ia lebih baik mengganti pakaiannya sekarang, lalu mulai berbaring dan istirahatkan tubuhnya.
Tora juga sepertinya tidak akan masuk ke dalam kamar dalam waktu dekat. Kirana sudah memakai gaun tidurnya keluar dari dalam kamar mandi. Kirana terkejut melihat pria yang berdiri di depannya sekarang menatapnya dengan tatapan datar dari pria itu.
“Om…” panggil Kirana lembut, melihat suaminya berdiri di depannya. Mengatakan kata suami. Kirana menggeleng pelan. Rasanya sesak sekali saat mengatakan pria itu adalah suaminya bukan kekasihnya.
“Hem. Saya akan tidur bersama dengan Murni,” ucap Tora dingin, setelahnya keluar dari dalam kamar Kirana yang sudah dihias oleh bunga mawar yang berada di atas ranjang.
Kirana mendengar itu langsung tersenyum tipis. Kirana berjalanan menutup pintu kamar hotel dan menguncinya. Mana mau Tora tidur bersama dengan Kirana, sudah jelas pria itu akan tidur dengan Murni—istri pertama Tora yang begitu dicintai dan disayangi oleh Tora.
Kirana berjalan menuju ranjang. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dan menatap pada langit kamar. Kirana menghembuskan napasnya kasar. Menatap cincin pernikahan yang sudah tersemat di jarinya sekarang. Kirana tersenyum sendu. Pada akhirnya kamu juga menikah Kirana. Dengan lelaki yang tidak kamu cintai. Lalu lelaki itu juga tidak mencintai dirimu.
Kirana tertawa kecil menutup wajahnya setelahnya ia menangis terisak. Memukul dadanya pelan. Kirana menenggelamkan wajahnya di bantal sambil menangis. “Hiks! Kenapa kau menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai? Kenapa aku harus terjebak di dalam pernikahan ini?” Kirana terus bertanya lalu menghapus air matanya kasar.
Dada Kirana semakin sesak rasanya membayangkan bagaimana kekasihnya nanti mengetahui hal ini. Pasti kekasihnya akan sakit hati dan juga kecewa dengan apa yang dikatakan olehnya nanti tentang semuanya. Kirana tidak bermaksud untuk menikah dengan lelaki lain.
“Maafkan aku. Maaf. Aku melanggar janji kita.” Ucap Kirana, memukul dadanya yang begitu sesak sekali.
***
“Loh, Mas! Kamu ngapain di sini? Kamu nggak tidur sama Kirana? Ini malam pertama kamu sama Kirana?”
Murni bertanya menatap pada Tora yang masuk ke dalam kamar dengan wajah yang tampak tenang padahal di dalam pikirannya. Terdapat berbagai macam hal. Tora sebenarnya ingin kembali ke kamar Kirana dan tidur di sana. Namun pintu kamar itu terkunci dan Tora juga mendengar isakan tangis dari dalam kamar Kirana.
Tora tahu Kirana menangis dan belum bisa menerima pernikahan ini. Gadis itu pasti menangisi semuanya dan apa yang terjadi di dalam hidupnya. Tora tidak mau kembali ke dalam kamar Kirana, yang membuat Kirana canggung dan merasa tidak nyaman.
“Aku mau di sini. Masih banyak waktu dengan Kirana. Kalau bersamamu-” Tora menghentikan ucapannya, membayangkan Murni bisa kapan saja pergi dari dalam hidupnya.
Murni menggenggam tangan Tora. “Kamu jangan bilang seperti itu Mas. Bagaimanapun Kirana itu sudah menjadi istri kamu dan ini malam pertama kalian. Kamu harus memikirkan perasaan Kirana, kalau mulai malam pertama saja kamu tidak mau bersikap adil padanya. Bagaimana besik-besok?” tanya Murni.
Tora terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Murni. Tora tahu dirinya tidak akan bisa adil antara Murni dan Kirana. Karena yang dicintai oleh Tora adalah Murni. Dia hanya mau dekat dengan Murni dan memperhatikan Murni.
“Kamu harus mencoba mencintai Kirana. Pernikahan bukanlah sebuah mainan Mas. Aku tidak mau nanti aku pergi, kamu masih bersikap seperti ini dengan Kirana. Rafan yang belum menerima Kirana. Kamu juga tidak bisa mencintai Kirana. Aku tidak mau Kirana sakit hati lalu memilih mengakhiri pernikahan ini. Pikirkan lagi ya Mas. Untuk malam ini kamu bisa tidur bersamaku. Tapi nanti kamu bisa tidur dengan Kirana, dan coba untuk dekat dengannya. Dia itu memang masih muda dan kamu canggung berada dengannya. Kamu yang menjadi lelaki di sini dan sesosok suami. Harus bisa membimbing istrinya dan baik pada istrinya.”
Tora mengangguk. Membawa Murni ke dalam pelukannya. Murni memang sangat luar biasa baik sekali. Mau suaminya mencintai perempuan lain. “Kamu kenapa baik sekali Murni? Tidak ada seorang istri mau cinta suaminya terbagi. Sedangkan kamu, mau cinta suaminya terbagi. Dan mau aku mencintai Kirana. Aku tidak bisa mencintai Kirana dalam waktu dekat,” ucap Tora.
Tora lupa untuk jatuh cinta dengan perempuan lain. Cintanya habis pada Murni. Wanita yang cantik dan hatinya yang juga baik bak malaikat.
Murni tertawa kecil mendengar ucapan suaminya. “Hati kamu ini tidak ada yang tahu Mas. Bisa saja nanti seminggu lagi kamu sudah mencintai Kirana. Aku memang berbeda dengan wanita lain, yang aku pikirkan di sini itu adalah kebahagiaan kamu dan anak kita. Saat kalian kehilangan diriku, maka ada sosok wanita yang begitu baik yang menggantikan diriku di sisi kalian berdua.”
Tora mengangguk, lalu membawa Murni untuk berbaring. “Sudah kita tidak usah bahas Kirana. Ini sudah pukul sebelas malam. Kamu kenapa belum tidur hem?” tanya Tora, mencium puncak kepala Murni. Tora ingin menangis melihat kepala istrinya yang rambutnya sudah tidak ada.
Murni menggeleng. “Aku tidak bisa tidur Mas.” Jawab Murni.
“Kamu mau dipeluk dan dinyanyikan sebuah lagu?” tanya Tora.
Murni mendengar pertanyaan suaminya mengangguk. Ingin dinyanyikan sebuah lagu oleh suaminya. Tora mulai bernyanyi sambil tangannya mengusap punggung Murni lembut. Murni memejamkan matanya dan mulai terbawa ke alam mimpi.
Tora yang sudah melihat Murni tidur. Perlahan melepaskan pelukannya pada Murni. Langkah kaki Tora keluar dari dalam kamar. Tora menatap pada kamar Kirana yang masih tertutup dan terkunci. Tora membuka kamar itu dengan kunci yang ada di tangannya. Tora masuk ke dalam kamar.
Menatap Kirana yang tertidur dengan air mata yang tersisa di pipi Kirana. Tora menghela napasnya kasar.
“Maaf. Kau harus merasakan menikah dengan lelaki yang tidak kau cintai. Aku tahu, kau mencintai lelaki lain,” ucap Tora.
“Tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu Kirana. Aku memang tidak bisa mencintaimu sekarang. Tapi masa depan tidak ada yang tahu. Selamat malam. Dan jangan menangis lagi,” ucap Tora menyelimuti tubuh Kirana, lalu berjalan keluar dari dalam kamar Kirana kembali ke dalam kamar Murni.
Memeluk Murni. Menikmati waktunya dengan Murni. Sampai Tuhan menjemput Murni dan tidak akan pernah mengembalikan Murni lagi padanya dan Rafan. Untuk Rafan. Tora juga meminta maaf pada putranya itu. Yang tak bisa menolak pernikahan ini. Dan menduakan Murni—ibu Rafan yang sangat disayangi oleh Rafan.