Bab 08

1030 Kata
Kirana menatap pada para tamu undangan yang datang ke pernikahannya dengan Tora. Kecuali anak Tora yang masih tidak mau datang ke pernikahan Kirana dan Tora. Katanya anak Murni dan Tora masih tidak setuju dengan pernikahan ini. Kirana semakin tidak siap rasanya, untuk masuk ke dalam rumah Tora dan Murni. Lalu bertemu dengan anak mereka nanti. Yang akan menjadi anaknya juga nantinya. Di usia Kirana dua puluh empat tahun. Kirana sudah menikah dan menjadi ibu tiri dari seorang anak—Kirana. Tidak tahu berapa umur anak Tora dan Murni. Lupa menanyakan. Kirana kaget ketika pundaknya yang tidak tertutupi oleh apapun disentuh oleh Tora. “Y-ya Om?” tanyanya, segera menyingkirkan tangan Tora secara halus dari pundaknya. Tora tak marah. Memaklumi apa yang dilakukan oleh Kirana padanya. Gadis itu, pasti tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Tora. “Kau memikirkan apa? Ibumu bertanya, apa kau mau makan?” tanya Tora, menatap pada wanita—yang umurnya sekitar empat tahun lebih tua darinya. Mata Kirana menatap pada ibunya. “Ma,” ucap Kirana lembut. Ayu berjalan mendekat. “Kamu mau makan? Mama ambilkan.” Ayu menatap putrinya lembut, lalu mengusap rambut Kirana lembut. Matanya melihat Tora hanya diam saja, tidak mengatakan apapun. Lelaki itu juga tampak tersenyum sopan pda Ayu. “Tidak usah Ma. Kirana belum lapar.” Tolak Kirana lembut, bukan rasa lapar yang dipikirkan olehnya sekarang. Malahan Kirana, memikirkan tentang besok pagi. Dirinya sudah berada di rumah. Yang bukan rumah yang ditinggali oleh Kirana selama ini. Di dalam rumah itu juga ada Murni dan anak wanita itu. Membuat dirinya merasa gugup. Dan tidak harus seperti apa di dalam rumah itu nantinya. “Kau memikirkan apalagi?” tanya Tora, matanya menatap pada Kirana, yang tampak diam dan seperti orang banyak beban pikiran. Ya. Seharusnya Tora tak perlu bertanya. Pasti Kirana memikirkan tentang pernikahan ini. Pada akhirnya mereka menikah juga. Dan tidak dihadiri oleh anak Tora. Tora sudah berusaha untuk membujuk Rafan, datang ke pernikahannya dengan Kirana. Bukan sebuah harapan tentang kehadiran putranya yang didapat olehnya. Tapi putranya yang memaki dan berkata tidak akan pernah menerima pernikahan Tora dengan wanita yang akan menjadi madu dari Murni. “Hem, aku hanya memikirkan. Anak Om? Apakah- -Kau tidak usah memikirkan tentang dia Kirana. Sekarang dia memang menolak pernikahan ini. Tapi Murni, kau tahu bagaimana Murni mencoba untuk membujuk anaknya menerima dirimu. Lambat laun kau akan diterima oleh dia. Kau hanya perlu mendekatkan diri saja dengannya.” Tora memotong ucapan Kirana. Wajahnya masih terlihat datar ketika berbicara pada Kirana. Kirana mendekatkan diri pada anak Tora? Untuk mendekatkan diri dengan Tora saja, Kirana tidak tahu caranya. Bagaimana bisa dia mendekatkan diri dengan anak lelaki itu? Mengetahui namanya saja tidak. Kirana menghela napasnya kasar, lalu menatap pada Tora yang menatap pada Murni yang berada tidak jauh dari mereka. Kirana tahu bagaimana tatapan Tora yang begitu berbinar dan penuh cinta pada Murni. Ia tidak akan pernah bisa masuk ke dalam hati pria itu. Tidak akan bisa menjadi istri yang dicintai oleh Tora. Kirana? Ia akan mencoba untuk mencintai dan menerima Tora. Bagaimanapun menikah hanya sekali dalam seumur hidup. Dan ia berharap ini yang terakhir kali dirinya menikah. “Murni sepertinya kelelahan. Kirana, saya akan ke tempat Murni dulu. Saya akan mengantarnya masuk ke dalam kamar hotel.” Ucap Tora, tanpa menunggu jawaban dari Kirana. Lelaki itu sudah berlari menuju Murni. Membawa Murni masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Kirana di atas pelaminan sendirian. Kirana seperti orang kebingungan ditinggal sendirian di atas pelaminan. Matanya menatap para tamu yang melihat padanya. Kirana menyalami para tamu yang naik ke atas pelaminan, lalu memberikan ucapan selamat dan semoga bahagia dan langgeng. Kirana mengangguk dalam senyuman paksa. “Kirana… kau sungguh sudah menikah? Bagaimana dengan dia?” Kirana menatap pada temannya yang berdiri di depannya sekarang. Bertanya tentang dia yang dimaksud. Tentu saja Kirana tahu siapa itu. Kirana menghela napasnya kasar. Ia tahu kalau dirinya telah salah. Karena masih menjalin hubungan dan tidak memutuskan hubungan dengan pacarnya. Atau bisa dibilang sudah putus. Kirana tidak pernah menghubungi kekasihnya itu lagi. Seolah Kirana menghilang. “Aku tidak bisa menemuinya.” Kirana ingin menangis sekarang, namun semuanya ditahan. Tidak mungkin Kirana menangis di pesta pernikahannya dengan Tora—pria yang sedang mengantar istri pertamanya ke dalam kamar dan meninggalkan Kirana sendirian di atas pelaminan. Teman Kirana menatap sendu pada Kirana. “Kirana, aku kira kau hanya bercanda saat mengatakan ingin menikah waktu itu. Bersama lelaki yang umurnya jauh di atasmu. Dan ternyata benar. Apalagi suamimu sudah memiliki istri. Aku tidak tahu, apakah ini bisa membuatmu bahagia atau tidak nantinya. Tapi kau harus tetap menemuinya Kirana. Menyudahi hubungan secara baik-baik itu lebih baik dibanding kau menghilang tak ada kabar. Dan tidak mau menemuinya.” “Bagaimana caraku menemuinya? Bagaimana caraku menatapnya tanpa rasa sedih dan terluka? Bagaimana caranya agar dia tidak kecewa? Aku tidak tahu! Aku cinta padanya.” Air mata itu akhirnya lolos juga. Dengan cepat Kirana menghapusnya, sebelum ibunya atau tamu undangan yang lain melihatnya. “Kau harus menguatkan dirimu menemuinya Kirana. Coba untuk mengatakan padanya perlahan. Dan kamu harus memberikan pengertian padanya, kalau kau tidak bisa menolak perjodohan ini.” Ucap teman Kirana. Kirana mendengar apa yang dikatakan oleh temannya mengangguk. Tora sudah kembali, dan pria itu tersenyum sopan pada teman Kirana. Yang dibalas oleh teman Kirana dengan senyuman sopannya juga. Teman Kirana pergi dari atas pelaminan, meninggalkan Kirana dan Tora. Kedua orang yang sudah sah menjadi suami istri itu. Hanya diam-diam dan tidak mengatakan apapun. “Om, apakah saya bisa untuk tahu siapa nama anak- -Selamat Pak Tora, semoga bahagia dan diberikan kebahagiaan yang sangat melimpah.” Kirana bungkam dan tidak jadi bertanya, ketika beberapa tamu undangan yang Kirana tahu dari pihak Tora. Memberikan selamat pada mereka mendoakan pernikahan mereka yang terbaik. Walau Kirana sempat melirik beberapa orang yang memberikan salam padanya ini, menatapnya sinis. Karena mau-maunya menjadi istri kedua dari pria sudah beristri. Kalau boleh Kirana juga tidak mau menjadi istri kedua. Dia maunya menjadi yang pertama dan terakhir. Namun takdir tak bisa dilawan olehnya. Terpaksa Kirana menerima keadaan menjadi istri kedua dari Tora Suseno—pria tampan dan kaya raya memiliki segalanya. Juga memiliki harta melimpah. Dan Kirana akui, di usia Tora empat puluh empat tahun masih terlihat sangat tampan dan gagah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN