Bab 07

1036 Kata
Tora menatap pada Murni yang tampak memakai pakaiannya. Kali kedua Tora akan membawa Murni untuk menemui Kirana— gadis yan satu minggu lagi akan menjadi istrinya. Malam ini, Tora akan pergi makan malam dengan keluarga Kirana. Ia membawa Murni bersama dengannya, agar mengenal keluarga Kirana. Sebaliknya keluarga Kirana juga mengenal Murni. “Kamu sudah siap” tanya Tora lembut, melihat penampilan Murni yang selalu tampak anggun dan membuat ia ingin memeluk tubuh yang sudah kurus itu oleh penyakit mematikan. “Sudah Mas. Gimana sama Rafan? Dia tidak mau untuk pergi bersama kita ke makan malam itu. Rafan menolak dan mengatakan untuk apa pergi makan malam dengan-” Murni terdiam, tidak melanjutkan ucapannya. Putranya itu masih saja bersikap kasar dan tidak mau menerima pernikahan ini. Padahal Murni sudah mengatakan baik-baik pada putranya, tentang Murni tidak masalah dengan pernikahan yang dijalani oleh Tora. Malahan Murni sangat senang sekali suaminya sudah ada yang menemani disaat Murni pergi jauh nantinya tidak akan pernah kembali. “Kamu sabar ya. Saya yakin kalau Rafan nanti akan melunak. Ini sudah mau jam tujuh malam, kita berangkat. Tidak enak membuat keluarga Kirana menunggu.” Ucap Tora membawa Murni keluar dari dalam kamar. Mata Tora bertemu dengan mata Rafan yang menatap tajam pada Tora. “Cih! Mama mau-mau saja diajak makan malam dengan calon istri mudanya. Mama di sana bakalan sakit hati, di sini saja. Tidak usah pergi.” Ucap Rafan melarang ibunya untuk pergi. Lebih baik ibunya di rumah bersama dengan dirinya, kalau memang mau pergi makan malam. Biarkan saja pria itu pergi sendiri. Murni mendengar itu menggeleng. “Rafan!” tegur Murni. “Mama kenapa sih selalu saja bela Papa? Papa itu mau nikah lagi Ma! Lagian Rafan tidak mau punya ibu tiri!” ucap Rafan. Ucap Rafan, ingin sekali dia bertemu dengan wanita yang dijodohkan dengan ayahnya. Lalu Rafan akan menghina wanita itu. Karena mau-maunya menikah dengan lelaki yang sudah punya istri dan tidak tahu malu lagi. Mau saja tinggal di sini nanti setelah menikah. “Kamu yang kenapa? Mama tidak pernah mengajarkan kamu kurang ajar Rafan! Mama tidak mau mendengar kamu merendahkan Papa kamu atau kamu bilang tidak mau punya ibu tiri. Mama mau pergi dengan tenang nanti. Tidak bisa meninggalkan kalian berdua tanpa ada orang yang menjaga kalian!” ucap Murni. “Ma! Mama itu masih hidup dan belum pergi. Kenapa Mama selalu saja bilang mau pergi dan pergi. Mama tidak akan pergi. Rafan yakin, kalau Mama akan tetap di sini bersama dengan Rafan.” Ucap Rafan, menatap pada ibunya dengan tatapan nyalang dan tidak suka mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya tentang pergi yang sama saja mengatakan kematian. Rafan tidak bisa membayangkan ibunya pergi untuk selamanya. Ibunya tetap di sini. “Mama tetap akan mati nanti Rafan. Penyakit yang Mama derita sangat mematikan. Sudahlah. Mama tidak mau berdebat, kalau kamu tidak mau pergi ya sudah. Jangan kemana-mana. Kamu masih pusing dengan pacar kamu tidak menghubungi kamu,” ucap Murni, setelahnya membawa suaminya untuk keluar dari dalam rumah. Rafan mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya terdiam. Menatap pada lantai. Ini pacarnya kemana? Sudah mau sebulan tidak bisa dihubungi. Apakah hubungan mereka masih bisa dibilang pacaran atau sudah putus? Rafan pusing hanya memikirkan ini. *** Murni menatap pada orang tua Kirana, membuat dirinya terkejut. Ternyata dia sudah kenal dengan orang tua Kirana. “Mbak Ayu? Mas Tedi?” tanya Murni lalu tertawa kecil. Dua orang itu tertawa kecil. “Murni, kamu gimana? Baik-baik saja, ‘kan? Maafkan kami. Tidak sempat menjenguk kamu di rumah sakit.” Ucap Ayu— ibu Kirana, merasa bersalah pada adik tingkatnya di masa kuliah dulu. Murni menggeleng. “Ndak usah minta maaf Mbak. Lagian saya memang sudah sakit, dan Dokter juga bilang kalau umur saya sudah tidak lama lagi. Saya baru sadar, ini Rana? Kirana itu Rana?” tanya Murni, lalu menatap pada Kirana yang duduk diam dan tidak mengatakan apapun. “Iya, dia itu Rana. Yang suka kamu dan Tora culik waktu dulu. Dan bawa jalan-jalan.” Jawab Tedi tertawa kecil. Kirana mendengarnya menatap pada Tora. Lelaki itu diam-diam melirik pada dirinya. Kirana dari kecil ternyata sudah dekat dengan Tora dan Murni. Sekarang saking dekatnya ia dengan Tora dan Murni, dia menjadi istri kedua dari Tora Suseno. Pria yang sudah memiliki satu orang anak. “Maaf, ya Murni. Saya terpaksa menjodohkan Kirana dengan Tora. Orang tua saya tidak bisa dibantah.” Tedi menatap Murni dengan tatapan tidak enaknya, saat mengetahui kalau putrinya akan menikah dengan Tora— adik tingkatnya yang menjadi incaran para mahasiswi dulunya. Dan selalu saja mengejar Murni untuk dijadikan pasangan hidup. Murni tertawa kecil. “Ndak apa Mas. Saya tidak masalah dengan itu. Saya sudah menerima semuanya, lagian saya senang siapa yang dipilih oleh mertua saya. Adalah orang yang tepat. Mas dan Mbak pasti didik Kirana dengan baik. sehingga Kirana nggak membantah apa yang diminta oleh Kakek dan Neneknya.” Ucap Murni, matanya melirik pada Kirana yang menatap pada Murni. Kirana ingin mengatakan kalau ia menentang pada awalnya. Namun setelahnya tidak bisa setelah mendengar apa yang dikatakan oleh kakek dan neneknya. Tentang segala hal yang merugikan dirinya dan juga keluarganya. Hanya karena dirinya keluarganya menjadi rugi. Kirana tidak mau. “Ya, Kirana ini anak baik. Tora, saya mau kamu jaga Kirana dengan baik ya. Kamu tahu usia kalian itu terpaut lumayan jauh. Kalau dia salah kamu tegur saja. Kalau dia keras kepala, kamu bicara lembut sama dia ya. Jangan pernah sakiti dia,” ucap Tedi, mengusap rambut Kirana lembut. Tora tertegun mendengarnya. Dua kali dirinya mendengar hal seperti ini. Dulu saat dia akan meminang Murni. Dan mendiang orang tua Murni, berpesan seperti itu. Tora merasa berat untuk mengangguk. Dulu Tora pernah berjanji pada orang tua Murni, ia akan setia pada Murni. Tidak akan pernah menduakan Murni. Namun kenyataannya sekarang apa? Tora menduakan Murni. Dan akan menikah lagi. Tora menatap pada tangannya yang digenggam oleh Murni. Tora menatap pada mata Murni yang berusaha untuk meyakinkan dirinya. Menjawab ucapan dari Tedi—seorang ayah yang mau putrinya dijaga dengan baik dan tidak akan pernah disakiti. “Baik Mas Tedi. Saya akan menjaga Kirana dengan baik. Saya tidak akan pernah—menyakitinya.” Ucap Tora mantap dan penuh keyakinan. Kini sudah ada dua beban di pundaknya. Murni dan Kirana harus dijaga dengan baik oleh dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN