Hari ini Kirana kembali bertemu dengan Tora— lelaki dewasa yang akan menjadi calon suaminya. Untuk mencari cincin pernikahan mereka berdua. Kirana dengan lesuh menatap pada mobil Tora yang sudah terpakir di depan rumah orang tuanya, dengan langkah pelan Kirana berjalan menuju lelaki itu.
“Sudah nunggu lama Om? Maaf, saya baru saja selesai bersiap.” Ucap Kirana dengan nada sopannya.
Tora menggeleng. “Tidak. Masuk.” Ucap Tora singkat, diangguki oleh Kirana, lalu masuk ke dalam mobil BMW keluaran terbaru milik Tora.
Kirana tidak mengatakan apapun. Tidak tahu membahas tentang apa. “Bu Murni gimana? Sehat?” akhirnya Kirana bertanya, tentang istri pertama Tora, yang begitu baik sekali. Dengan senyuman penuh teduh dan tutur yang lembut masih diingat oleh Kirana, saat pertemuan mereka di kafe waktu itu.
“Hem, sehat.”
Jawaban singkat dari Tora, membuat Kirana tidak tahu harus berkata apalagi, dia hanya diam dan menatap ke jalanan yang dilalui oleh keduanya. Mata Kirana menatap pada sekumpulan anak muda yang tertawa bersama dengan pasangan mereka masing-masing.
Ada kerinduan di hati Kirana pada sang kekasih sudah tidak dikabari oleh dirinya semenjak mendengar kabar tentang perjodohan yang dilakukan oleh keluarganya sekarang. Kirana bingung, harus mengatakan apa pada kekasihnya, tentang perjodohan yang akan membuat dirinya menjadi milik lelaki lain.
“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Tora pada akhirnya, tidak betah juga dalam keheningan. Melihat wajah sendu Kirana juga sebenarnya. Dia tahu gadis itu masih belum bisa menerima perjodohan ini, dia juga yakin kalau Kirana pasti sudah memiliki kekasih.
Kirana terdiam mendengar pertanyaan Tora. “Memikirkan ke depannya bagaimana. Apakah pernikahan ini bisa bertahan dengan baik? Dan untuk anak Om, bagaimana?” Kirana balik bertanya, tahu anak Tora menolak perjodohan ini. Siapa juga yang mau ayahnya menikah lagi.
Tora menghela napasnya kasar. “Dia masih menolak. Tapi kau tenang saja, dia akan menerima lamban laun. Kau hanya perlu untuk mengambil hatinya nanti. Lagian Murni juga sudah berusaha untuk membujuk dia,” jawab Tora.
Kirana mengangguk, ia salut dengan Bu Murni yang mau membujuk anaknya untuk menerima pernikahan suaminya dengan wanita lain. Lalu akan tinggal serumah. Ada wanita yang lebih baik dari Murni lagi? Maka Kirana akan memberikan tepuk tangan yang luar biasa.
Kebaikan dari Murni saja, sudah membuat Kirana salut. Melihat suaminya menikah lagi, lalu bukannya marah. Malahan dia menerima dengan senyuman. Meminta Kirana juga mencintai suaminya. Dunia memang penuh kejutan.
“Ayo, turun!”
Kirana tersadar dari lamunannya, lalu menatap pada toko perhiasan terbesar di kota ini. Kirana tidak perlu heran dengan apa yang dilakukan oleh Tora, membawanya ke toko perhiasan yang terkenal sangat mahal dan semuanya terjamin dengan keaslian dan kemewahannya. Keluarga Tora adalah keluarga kaya raya.
“Kau masih mau di sini? Tidak turun?”
Pertanyaan Tora membuat Kirana malu, lalu turun dari dalam mobil. Keduanya masuk ke dalam toko perhiasan. Mereka langsung disambut dengan ramah oleh karyawan di toko. Dan Kirana tahu yang berhadapan dengan Tora sekarang adalah pemilik toko perhiasan ternama ini.
“Tora! Ibu kamu sudah mengatakan kalau kamu mau menikah lagi. Dimana calonnya?” pertanyaan yang tampak sangat akrab itu. Pasti keduanya sudah saling mengenal satu sama lain. Dan terlibat dalam pertemanan.
Tora tersenyum lalu menarik tangan Kirana lembut ke depan. Kirana menatap pada tangannya yang dipegang oleh Tora. Ada rasa bagaimana menjelaskannya? Selama ini hanya pacarnya yang menggenggam tangannya. Dan menyentuhnya.
“Maaf.” Tora melepaskan tangannya dari Kirana, lalu ia menatap pada temannya kembali. Pemilik toko perhiasan yang didatangi olehnya bersama Kirana.
“Namanya Kirana Larasati. Kirana, dia ini pemilik toko perhiasan ini.”
Kirana mengangguk, lalu menunduk sopan pada pria di depannya.
“Muda ya Tora. Ternyata Ibumu suka daun muda untuk dijodohkan denganmu. Kabar Murni bagaimana? Dia masih suka masuk dan keluar rumah sakit?”
“Hem, begitulah. Tapi beberapa hari ini sudah mendingan dari sebelumnya. Jadi tidak perlu risau tentang Murni. Dia itu wanita kuat.” Tora menjawab dengan senyuman manis tersampir dibibirnya.
“Dia memang kuat dan baik sekali. Bagaimana tanggapannya saat tahu kamu nikah lagi?”
“Dia menerima dengan baik. Kamu sudah tahu bagaimana sifat Murni, ia tidak akan menentang apa yang diminta oleh Mama. Malahan Murni yang lebih dulu menyuruhku untuk menikah lagi, sebelum Mama menyuruhku untuk menikah lagi,” ucap Tora.
“Dia memang wanita yang sangat baik sekali. Silahkan dipilih mau cincin yang mana. Ini saya keluarkan model terbaru semua, untuk harga. Kamu tidak akan mempermasalahkannya Tora?” tanya pemilik toko perhiasan tertawa kecil setelah mengatakan itu.
Tora mendengarnya ikut tertawa. “Kirana, coba kamu pilih. Mau yang mana,” ucap Tora, menyuruh Kirana untuk memilih mau cincin yang mana.
Kirana mendengar itu, menatap pada berbagai cincin pernikahan yang tampak sangat bagus dan berkilau sekali. Seandainya Kirana menikah bersama pacarnya, mungkin memilih cincin ini adalah hal yang sangat menyenangkan sekali untuk dirinya.
Namun sangat disayangkan sekali, ia tidak menikah dengan kekasihnya. Sehingga cincin yang ada di depannya ini. Tampak tak diminati oleh dirinya.
“Yang mana saja.” Jawab Kirana memerhatikan perhiasan yang lainnya. Matanya menatap pada salah satu kalung, yang harganya sampai tujuh ratus juta. Mahal sekali. Uang tabungannya tidak cukup untuk membeli kalung itu.
Mata Tora menatap pada Kirana yang memerhatikan kalung di depan matanya. Ia tahu gadis itu pasti mau kalung tersebut. “Saya pilih cincin yang ini. Dan kalung itu, saya mau mengambilnya juga,” ucap Tora menunjuk pada kalung yang ditatap Kirana dengan tatapan penuh minatnya.
Kirana terkejut, lalu setelahnya ia tahu kalau kalung itu pasti untuk Bu Murni. Bukan untuk dirinya, lagian Tora sangat mencintai Murni. Kirana berdiri dari tempat duduknya.
“Sudah Om? Kita langsung pulang, ya,” Kirana mau pulang ke rumahnya, ia tidak bisa untuk berlama-lama di sini.
Membuatnya semakin lama terjebak dengan Tora. Kirana mau pulang ke rumah, dan kembali merenungi semuanya. Berusaha untuk menerima kenyataan.
“Makan siang dulu Kirana,” ucap Tora, memberikan paper bag berisi kalung yang dibelinya tadi pada Kirana.
“Apa ini Om?” tanya Kirana, menatap bingung pada Tora.
“Untuk kamu. Saya tahu kamu ingin kalung itu. Terima saja Kirana,” jawab Tora, hal itu mampu membuat Kirana tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu pada dirinya.
Kirana menerima paper bag berisi kalung itu. Lalu matanya menatap pada Tora yang tersenyum pada Kirana. Setelahnya pria itu keluar lebih dulu dari toko perhiasan.
Kirana mengikuti langkah pria itu, dengan menenteng paper bag diberikan oleh Tora.