Bab 05

1039 Kata
Murni masuk ke dalam rumah, lalu matanya bertemu dengan Rafan—sang putra duduk dengan menonton film yang ada di depannya. Murni berjalan mendekati putranya dengan langkah pelannya. “Kamu kapan pulang? Kenapa wajahnya kesal gitu?” tanya Murni menatap putranya dengan wajah bingungnya. “Nggak ada.” Jawaban singkat dari Rafan, membuat Murni tahu kalau anaknya ini ada dalam masalah. “Kenapa hem? Coba bilang sama Mama, kamu kenapa?” tanya Murni lembut, kini tangannya mengusap rambut anaknya manja. “Pacar Rafan, udah seminggu ini dihubungi malah nggak bisa. Biasanya dia nggak kayak gini. Rafan bingung, kenapa dia susah dihubungi kayak gini?” tanya Rafan menghela napasnya kasar. Murni mendengar apa yang dikatakan oleh putranya tersenyum. Masalah cintaan toh! Dia kira kenapa putranya malah kelihatan tidak mood seperti ini. Dia tahu kalau Rafan memiliki pacar. Tapi dia tidak tahu siapa pacar putranya itu. Karena selama ini, Rafan tidak pernah mengenalkan pada Murni. Siapa gadis yang mampu membuat putranya jatuh cinta. “Kamu sudah coba datang ke rumah dia?” tanya Murni, masih dengan nada lembut. Rafan mendengar apa yang ditanyakan oleh ibunya dia menggeleng. Rafan tidak tahu dimana tempat tinggal kekasihnya. Mereka belum saling untuk ke tempat tinggal orang tua masing-masing. Rencananya mereka akan mengenalkan diri mereka ke orang tua masing-masing ketika usia menjalin kasih mereka sudah tiga tahun. Ini masih satu tahun. “Rafan tidak pernah tahu dia tinggal di sini. Kami sepakat akan tahu kalau sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Ini baru satu tahun. Ini Mama habis dari mana?” tanya Rafan, menatap pada ibunya. Tidak mungkin ibunya dari rumah sakit. Karena ibunya itu akan mengabari dirinya kalau ke rumah sakit. Setelahnya Rafan akan menyusul ibunya. Dan menemani ibunya check up rutin. Berharap ada keajaiban pada ibunya. Walau itu tidak mungkin rasanya. “Mama habis ketemu sama perempuan yang akan menjadi istri kedua Papa kamu.” Jawaban dari ibunya membuat Rafan mendengarnya terkejut lalu dia menggeleng pelan. Tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya barusan. Habis bertemu dengan wanita yang akan menjadi madu ibunya? Yang benar saja! “Ma! Untuk apa Mama ketemu wanita itu? Bilang sama Rafan, kalau Papa yang maksa Mama untuk ketemu wanita itu ya? Rafan masih tidak setuju kalau Papa menikah lagi. Mama masih di sini dan hidup. Tidak bisa Papa menduakan Mama gitu saja. Cuman gara-gara Nenek minta Papa untuk nikah lagi!” Rafan meremas rambutnya, tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya sekarang, yang mau saja dipaksa oleh ayahnya untuk bertemu dengan wanita sialan itu. “Rafan … nak. Mama nggak pernah dipaksa sama Papa kamu. Coba kamu pikirkan sekarang. Selama ini Papa kamu itu cuman fokus sama Mama yang sakit-sakitan ini. Dia tidak pernah punya waktu untuk menghibur dirinya. Tidak ada yang melayani dia dengan baik. Nenek kamu hanya memikirkan tentang anaknya yang masih pantas untuk mendapatkan wanita yang sehat dan muda. Dan bisa melayani dia dengan baik.” Murni mengusap rambut Rafan, membawa Rafan masuk ke dalam pelukan hangat seorang ibu. “Kamu harusnya mikirin tentang Papa kamu. Bukan hanya Mama. Mama senang meninggalkan kamu dan Papa kamu nantinya. Disaat kalian sudah ada yang menjaga dan memberikan kasih sayang selayaknya Mama. Mama sudah bertemu dengan dia. Kamu? Dia itu sangat baik sekali nak. Mama tidak tega sebenarnya melihat dia juga yang terpaksa menerima pernikahan ini. Jangan bersikap jahat pada dia nanti ya. Buat dia nyaman di rumah kita, yang akan menjadi rumah dia juga nantinya.” Rafan melepaskan pelukan ibunya, lalu menatap ibunya bingung. Maksud ibunya ini apa? Tentang buat nyaman di rumah ini. Jangan bilang- “Dia akan tinggal di sini. Papa kamu yang minta. Mama juga sudah setuju buat dia tinggal di sini. Jangan dipotong dulu. Mama ada alasan nerima dia tinggal di sini. Kalau dia tinggal pisah dengan kita Mama yakin, kalau Papa kamu tidak akan pernah pulang ke rumah istri mudanya, dia akan di sini terus.” Ucapan dari ibunya membuat Rafan terkekeh sinis mendengarnya. “Mama yakin sekali kalau pisah rumah. Maka Papa tidak akan ke rumah wanita itu. Ma! Jelas Papa akan lebih sering di sana. Istri kedua dan segar. Dibanding di sini. Mama kenapa bisa baik sekali menjadi wanita? Mama harusnya menentang keputusan Papa dan melarang dia untuk membawa wanita itu masuk ke dalam rumah ini! Rafan makin nggak setuju sama pernikahan ini. Rafan sudah pusing memikirkan kekasih Rafan ntah kemana. Sekarang Rafan pusing dengan keputusan Mama yang begitu baik. Hati Mama terbuat dari apa?” tanya Rafan. Tidak ada orang yang sebaik ibunya di dunia ini. Menyuruh suami menikah lagi. Lalu istri kedua suaminya akan tinggal di sini setelah menikah nanti. Jangan lupakan. Ibunya baru pertama kali bertemu dengan wanita itu, tapi ibunya sudah mengatakan kalau wanita itu sangat baik sekali dalam sekali bertemu. Yang benar saja! Ibunya ini sedang bercanda? Murni tersenyum manis. “Sayang, jangan tuduh Papa kamu hal yang tidak-tidak. Kamu selama ini pernah lihat Papa kamu main perempuan. Pulang larut malam. Bekas parfum dan lipstick di Papa kamu?” tanya Murni, sudah jelas suaminya tidak pernah melakukan itu semuanya. “Tidak pernah. Tapi kalau Papa cinta sama Mama. Dia tidak akan menerima perjodohan dari nenek dengan mudah saja Ma. Berarti dia memang ingin menikah lagi. Lalu menggantikan posisi Mama dengan wanita lain!” tuduh Rafan, sudah jelas tahu tujuan ayahnya itu. Jangan bilang ayahnya lelaki baik dan tidak pernah bermain perempuan. Apa yang dilakukan oleh ayahnya sekarang sudah membuktikan kalau dia itu bermain perempuan. Dan mau saja menikahi wanita pilihan sang nenek. Ibunya ini saja yang terlalu baik dan polos. “Rafan! Mama lelah bicara sama kamu! Kamu pikirkan semuanya. Percaya sama Mama, kalau Papa kamu itu tidak seperti apa yang kamu tuduhkan. Dia itu lelaki yang baik nak. Mama sudah mengenalnya puluhan tahun. Dan sudah tahu semua sifatnya. Dia hanya ingin menjadi anak yang berbakti untuk orang tuanya yang umurnya sudah senja dan bisa saja kakek dan nenek kamu meninggal dalam waktu dekat,” ucap Murni, setelahnya ia berdiri dari tempat duduknya dan pergi dari hadapan Rafan. Tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh putranya lagi. Dia lelah bicara dengan anaknya itu. Yang tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan. Dan masih saja terfokus dengan pikirkan buruknya itu. Ya. Pikirkan tidak bisa dikendalikan oleh Murni soal anaknya ini. Untuk menerima Tora menikah lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN