“Umur kamu berapa?” tanya Murni, pada Kirana yang duduk di depannya yang sedari tadi gadis itu tersenyum manis padanya. Sekali-kali Kirana akan meminum coklat hangat di depannya, mungkin gadis itu merasa gugup sekarang.
“Dua puluh empat,” jawab Kirana singkat.
Murni mengangguk, lalu matanya melirik pada meja suaminya yang berjarak dua diantara mejanya dengan Kirana sekarang. Memang Tora sengaja untuk meninggalkan Murni dan Kirana berdua saja. Agar keduanya bisa berbicara dan saling kenal lebih dekat lagi. Bagaimanapun pernikahan ini tidak akan pernah bisa dibatalkan.
Dan Kirana tetap akan menjadi istri keduanya, madu Murni.
“Hem, kau berjarak dua puluh tahun dari Mas Tora. Kau tidak mencoba menolaknya Kirana?” tanya Murni, hal itu membuat Kirana tertawa kecil mendengar pertanyaan dari wanita yang setara umurnya dengan ibunya.
“Menolak? Kalau bisa saya akan menolaknya. Bu. Tapi tidak bisa, karena bagaimanapun kekuasaan keluarga Pak Tora itu lebih berkuasa dibanding keluarga saya. Bisa saja mereka menghancurkan bisnis keluarga saya dengan mudah, kalau saya menentang perjodohan ini.” Tutur Kirana memainkan gelas yang ada di tangannya. Sekali-kali dia akan meniup coklat yang pasti sudah mulai dingin dan tidak panas lagi.
Murni mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Kirana, keluarga Tora memang memiliki kekuasaan yang luar biasa mereka bisa membuat bisnis keluarga Kirana hancur begitu saja. Tapi, Tora juga tidak bisa menolak perjodohan ini. Tora ingin menjadi anak penurut untuk orang tuanya.
“Ya, kamu bilang benar sekali. Hem, kamu bersedia tinggal bersama saya dan anak saya?” tanya Murni, ia tahu kalau seorang wanita yang sudah menikah dengan seorang pria. Hanya mau tinggal bersama dengan suaminya saja. Tidak ada yang namanya tinggal bersama dengan istri tua dan anak pria itu yang bersama dengan istri tua.
Kirana menatap wanita di depannya yang memakai penutup kepala. Kirana tahu kalau wanita ini tidak akan memperlakukan dia dengan jahat di dalam rumah itu. Melihat dia yang yang sedari tadi berbicara lembut dan tersenyum manis pada dirinya. Memang wanita idaman sekali untuk dijadikan seorang istri.
Namun sangat disayangkan. Orang baik di depannya ini terkena penyakit yang begitu mematikan dan akan merenggut nyawanya tak lama lagi.
“Kalau memang itu keputusan dari Om Tora, saya akan menerimanya dengan baik,” jawab Kirana, mampu membuat Murni mendengarnya tertawa kecil. Karena Kirana tadi memanggil Tora dengan sebutan Pak sekarang memanggilnya dengan sebutan Om. Lucu sekali.
“Kamu bisa memanggil Mas Tora nanti kalau sudah menikah dengan dia. Tidak baik memanggil suami sendiri dengan panggil Om atau Pak. Dia memang sudah menjadi Bapak-bapak. Tapi kamu lihat, dia seperti pria yang baru berumur tiga puluh lima tahun,” ucap Murni menatap pada Tora yang memainkan ponselnya.
Mata Kirana menatap pada Tora juga. Kirana segera menatap ke arah lain ketika Tora menatap pada dirinya. Membuat pipi Kirana bersemu merah, dan apa yang terjadi pada dirinya? Ingat! Dia masih memiliki kekasih dan jangan jatuh hati pada pria yang sudah beristri.
“Akan terasa aneh saya manggil Mas padanya. Dia itu lebih pantas menjadi ayah saya dibanding suami saya.” Helaan napas keluar dari bibir Kirana, ketika dia menatap keluar jendela. Di luar sedang rintik hujan yang menyejukkan dan membuat Kirana kembali ke masa dimana dia bertemu dengan kekasihnya dibawah hujan.
Kirana tersenyum dengan lembut. Membuat Murni melihat itu mengerutkan kening. “Kirana! Kau sedang melamunkan apa?” tanya Murni memegang tangan Kirana, langsung membuat Kirana tersentak mendengar pertanyaan dari Murni.
“Tidak ada. Kenapa Bu? Ibu bicara apa tadi?” tanya Kirana, menatap pada Murni—istri pertama dari seorang Tora Suseno.
Lucu ya. Istri pertama dan calon istri kedua tampak begitu akrab sekali berbicara berdua. Dan tidak ada yang namanya adegan jambakan dan kata kasar. Atau memperlakukan Kirana dengan kasar.
“Kamu jangan berpikiran kalau Tora itu lebih pantas menjadi ayah kamu. Itu tidak baik nanti kalau kamu terus berpikiran seperti itu. Cobalah untuk menerima Mas Tora dengan baik, karena dia itu memang lelaki yang sangat baik sekali. Yang mampu membuat kamu nantinya jatuh hati padanya secara perlahan, kamu bisa percaya dengan apa yang saya bilang,” ucap Murni tersenyum manis, matanya berbinar membicarakan tentang Tora.
Kirana tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu pada dirinya. Ya. Memang Tora lelaki yang baik sekali.itu bagi Murni, bagaimana kalau nanti—dirinya tidak akan pernah mencintai Tora dan pria itu tidak akan pernah bisa memberikan perhatian pada dirinya?
Ya. Semuanya percuma saja di dalam pernikahan ini. Seharusnya kalau memang Tora mau menikah lagi, biarkan saja lelaki itu memilih pasangannya sendiri untuk dipersunting menjadi istri keduanya. Bukan Kirana yang sudah memiliki pacar.
“Ibu sangat mencintai Om Tora ya?” tanya Kirana.
Murni tersenyum. “Kamu juga akan mencintai Mas Tora nantinya. Dia itu memiliki perhatian dan kebaikan hati yang sangat luar biasa. Sekarang kamu memang ragu akan pernikahan ini, juga jarak umur kalian yang jauh. Tapi percaya sama saya, kalau Mas Tora tidak akan menyakiti kamu. Belajar mencintainya ya Kirana. Karena saya harap kamu itu pelabuhan terakhir Tora,” kata Murni, ada wanita sekuat Murni. Meminta perempuan lain untuk mencintai suaminya dan menerima suaminya dengan baik.
Lalu menjadi pelabuhan terakhir suaminya. Hanya Murni saja yang seperti ini, tidak untuk wanita lain di dunia ini. Kirana tidak membalas ucapan Murni, dia masih memikirkan semuanya. Juga pernikahan yang sisa tiga minggu lagi.
“Kamu jangan ragu. Maafkan saya tadi nanya apakah kamu tidak mencoba menolaknya. Saya bukan tidak setuju kamu jadi istri kedua suami saya, tapi karena kamu masih sangat muda. Dan saya juga yakin, kalau pilihan mertua saya tidak akan pernah salah untuk anaknya. Mas Tora itu anak kesayangan mertua saya, mereka selalu ingin yang terbaik untuk Mas Tora.” Murni tersenyum lembut mengusap punggung tangan Kirana.
Kirana tanpa sadar mengangguk. Anggukkan kepalanya. Entah mencoba mencintai Tora atau dia menerima Tora sebagai suami. Atau tentang dia akan tinggal bersama dengan Murni dan anaknya. Kirana juga berharap, anaknya Murni akan menerimanya dengan baik. seperti wanita ini yang mampu menerimanya dengan baik.
Tidak bersikap kasar pada dirinya. Lalu mengatakan dia perebut suami ibunya. Kirana hanya bisa berharap, tinggal di rumah Murni dan anak wanita itu. Bukan sesuatu yang buruk juga. Dan dapat diterima dengan baik oleh anak Murni, yang dia tidak tahu siapa dan belum mengenalnya. Kirana berharap setelah berkenalan dengan anak Murni nantinya. Dia mau bersikap baik dengan Kirana—walau Kirana menjadi ibu tirinya.