Pintu kamar Kirana terbuka tanpa ketukan panjang. Hanya satu dorongan pelan namun tegas, lajlu sosok tinggi itu masuk begitu saja seolah ruangan itu memang miliknya sepenuhnya. Tora berdiri di ambang pintu. Wajahnya datar. Tatapannya dingin. Sorot mata yang tak pernah benar-benar menunjukkan apa pun selain kendali. Kirana yang sedang duduk di depan meja, mengetik di laptopnya, langsung terkejut. Jemarinya terhenti di atas keyboard. Ia menoleh cepat, lalu spontan berdiri. “Om…” Suaranya pelan, sedikit tertahan. Tora melangkah masuk tanpa meminta izin. Pintu tertutup di belakangnya. Langkahnya terukur, tidak tergesa, tapi cukup untuk membuat udara di kamar itu terasa lebih berat. “Kamu masih sibuk?” tanyanya dingin. Kirana menunduk sedikit. “Sedikit pekerjaan yang belum selesai.” To

