Rafan tidak langsung kembali ke kamarnya setelah melihat Kirana keluar dari kamar utama dengan langkah pelan dan wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menelan pahit. Dadanya terasa penuh, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Ia menunggu beberapa saat di koridor, memastikan Kirana benar-benar masuk ke jkamarnya sendiri, sebelum akhirnya berbalik arah. Langkahnya mantap menuju ruang kerja Tora. Ketika melihat lelaki itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Pintu ruangan itu tertutup, tapi lampunya masih menyala. Dari balik celah pintu, terlihat bayangan ayahnya yang sedang berdiri di dekat meja kerja, mungkin sedang merapikan berkas atau sekadar berdiri sambil berpikir, seperti kebiasaannya. Rafan tidak mengetuk. Ia langsung membuka pintu dan masuk. Tora menoleh.

