Kirana sudah rapi sejak tadi. Rambutnya diikat sederhana, kemeja kerjanya licin karena ia setrika sendiri, dan tas kerjanya sudah tergantung di bahunya. Ia berjalan menuju garasi dengan langkah yahng sedikit lebih cepat dari biasanya, ingin segera berangkat ke kantor sebelum semua urusan di rumah ini kembali menyedot energinya. Begitu pintu mobilnya terbuka, langkah Kirana langsung terhenti. Ia menunduk. Ban depan kiri mobilnya terlihat kempis, nyaris menyentuh lantai garasi. Bentuknya jelas tidak normal. Tidak perlu jadi ahli untuk tahu bahwa mobil itu tidak mungkin dipakai dalam kondisi seperti itu. Kirana berdiri diam beberapa detik, menatap ban itu tanpa berkedip. Dadanya terasa mengencang, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. “Serius…” gumamnya pelan. Ia berjongkok, meny

