Kirana duduk kaku di kursi penumpang, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Sabuk pengaman sudah terpasang rapi, tapi jantuvngnya tetap berdebar tidak karuan. Di sampingnya, Tora menyetir dengan tenang, kedua tangannya mantap di setir, pandangannya lurus ke depan. Pria berusia empat puluh sembilan tahun itu terlihat seperti biasa—dingin, rapi, penuh kendali. Tidak ada gerakan yang terburu-buru, tidak ada ekspresi yang terlihat lebih baik dibanding wajab datarnya itu. Seolah-olah dunia di luar kaca mobil ini berjalan sesuai kehendaknya. Kirana mencuri pandang sebentar, lalu cepat-cepat menunduk lagi. Ada jarak yang terasa begitu tebal meski mereka duduk hanya dipisahkan konsol tengah. Setiap kali mobil melambat di lampu merah, kegugupan itu justru makin terasa. Ia tidak tahu haru

