Hari Mvinggu dulu selalu jadi hari yang paling Kirana tunggu. Dulu. Hari di mana ia bisa bangun siang tanpa rasa bersalah, menarik selimut lebih tinggi, mematikan notifikasi kantor, lalu bermalas-malasan di kamar dengan rambut masih berantakan dan kaus longgar. Kadang ia membaca, kadang hanya menatap langit-langit sambil mendengarkan musik. Tidak ada yang menuntut. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang mengingatkan soal kewajiban. Itu sebelum ia menikah. Sekarang, Hari Minggu tidak lagi terasa seperti hari libur. Tidak ada istilah bangun siang. Tidak ada waktu untuk sekadar berdiam diri. Bahkan sebelum matahari benar-benar naik, Kirana sudah terbangun, duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang seolah sedang menyiapkan diri menghadapi satu hari penuh yang sudah ia tahu akan mengura

