Pintu kamar Kirana terbuka dengan kasar. Bukan diketuk. Bukan didorong pelan. Tapi dibukah begitu saja sampai daun pintu itu menghantam dinding dan menimbulkan bunyi keras yang membuat Kirana terlonjak dari duduknya di tepi ranjang. Ia baru saja selesai membereskan rambutnya setelah mandi. Piyama sederhana masih ia kenakan. Rambutnya setengah kering, masih sedikit lembab di ujung-ujungnya. Ia menoleh cepat ke arah pintu dengan jantung yang langsung berdegup kencang. Tora berdiri di sana. Wajahnya tegang. Rahangnya mengeras. Tatapannya dingin seperti biasa, tapi kali ini ada sesuatu yang lebih berat di sana—tidak sabar, tidak mau berdebat, tidak mau mendengar alasan apa pun. “Om?” Kirana berdiri refleks. “Ada apa?” Tora menghembuskan napas kasar, seperti sedang menahan kesal. “Murni bu

