Kirana berjalan cepat menyusuri trotoar dengan langkah yang lebih pendek dari biasanya. Kantong obaht di tangannya diremas kuat, sampai plastiknya berkerut dan berbunyi pelan setiap kali ia menggenggamnya lebih erat. Lampu-lampu jalan menerangi aspal dengan cahaya kekuningan, tapi beberapa bagian tetap terasa gelap, seperti ada ruang-ruang kosong yang sengaja dibiarkan tanpa pengawasan. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan napasnya sendiri. “Sebentar lagi sampai,” gumamnya, lebih untuk meyakinkan diri sendiri daripada apa pun. Di kejauhan, suara motor lewat, lalu sunyi lagi. Angin malam terasa lebih dingin ketika menyentuh kulitnya. Kirana mempercepat langkah, tanpa sadar bahunya menegang. Dan di saat itulah ia mendengar suara langkah lain. Bukan satu. Dua. Kirana melirik ke sampin

