Kirana menyiapkan sarapan dalam diam pagi itu. Tanganbnya bergerak seperti biasa—memecah telur, mengaduk, menata piring—tapi pikirannya tidak pernah benar-benar ada di dapur. Setiap bunyi sendok yang menyentuh piring terasa terlalu keras. Setiap aroma makanan yang menguar terasa asing. Di balik wajahnya yang terlihat tenang, dadanya masih menyimpan sisa gemetar dari malam sebelumnya. Ia masih ingat dengan sangat jelas. Lampu jalan yang temaram. Langkah kaki yang mendekat. Tatapan yang membuat kulitnya merinding. Tangan yang hampir meraih. Suara dirinya sendiri yang pecah memanggil tolong. Dan rasa takut yang tidak pernah benar-benar ia kenal sebelumnya—takut yang membuat tubuhnya kaku dan pikirannya kosong. Kalau Rafan tidak datang. Kalau ia terlambat beberapa menit saja. Kirana menel

