Bab 25

1331 Kata

Kirana menatap panci itu cukup lama sebelum akhirnya mencicipinya lagi dengan ujung sendok. Asin. Masih asin. Ia menghela napas pelan, lalu menutup mata sejenak. Entah karena pikirannya masih berantakan sejak pagi, atau karena tangannya gemetar tanpa ia sadari, bumbu yang ia memasukkan tadi jelas terlalu banyak. Padahal ia sudah memasak seperti biasa, dengan takaran yang selama ini ia hafal di luar kepala. Masalahnya, kali ini ia membuat dalam jumlah banyak. Untuk Murni. Untuk Tora. Untuk semua orang di meja makan. Kirana berdiri kaku di dapur, sendok masih di tangannya. Ada rasa takut yang merayap pelan di dadanya. Ia tahu betul bagaimana reaksi Tora jika sesuatu tidak sesuai dengan standar yanbg ia inginkan. Dan sejak kejadian semalam, sejak ketegangan di meja makan pagi tadi, Kira

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN