Bab 26

1424 Kata

Kirana menghela napas berulang kali, tapi setiap tarikan udara justru terasa seperti menusuk kepalanya sendiri. Tangannya menekan pelipis, mencoba meredakan denyut yang berhdetak begitu kuat, seolah ada palu kecil yang terus memukul dari dalam. Pandangannya berkunang-kunang. Langit-langit kamar terlihat berputar pelan. Badannya terasa panas, tapi di saat yang sama menggigil. “Jangan sekarang…” bisiknya, nyaris tidak terdengar. Ia tahu tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Sejak semalam, sejak kejadian di jalan itu, sejak rasa takut dan adrenalin yang tak kunjung turun, kepalanya mulai terasa berat. Pagi tadi masih bisa ia paksa berdiri. Masih bisa ia paksa tersenyum. Tapi sekarang, setelah semua emosi itu menumpuk, setelah tubuhnya akhirnya berhenti menahan, semuanya runtuh bersamaan.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN