Murni berdiri di dekat pintu kamar Kirana, menatap ke dalam dengan wajah yang penuh khawatir. Tubuh Kirana terlihat lebih kecil di bawah selimut, napasnya masih belum teratur sepenuhnya, dan keningnya masih terasa hangat meski obat sudah diminum. Pemandangan itu membuat d**a Murni terasa sesak. Ia menoleh ke arah salah satu asisten rumah tangga yang berdiri tidak jauh dari sana. “Tolong buatkan mabkanan yang sehat untuk Kirana,” ucapnya lembut tapi tegas. “Sup bening, sayur, yang ringan dan hangat. Setelah itu, antar ke kamarnya. Jangan biarkan dia keluar. Dia harus istirahat yang cukup.” Asisten itu mengangguk cepat. “Baik, Bu.” Murni memastikan lagi, “Pastikan dia minum obatnya tepat waktu. Dan kalau dia butuh apa-apa, langsung lapor ke saya.” “Iya, Bu.” Di belakang mereka, Tora ber

