Tora berdiri di ambang pintu kamar Kirana dengan wajah datar. Pandabngan matanya jatuh pada sosok Kirana yang masih terbaring di atas ranjang, tubuhnya terlihat lebih kurus di balik selimut, nafasnya pelan dan tidak teratur. Ini sudah hari ketiga. Tiga hari Kirana tidak benar-benar beranjak dari tempat tidurnya, hanya bangun sebentar untuk minum obat atau makan beberapa sendok, lalu kembali terbaring dengan wajah pucat dan mata yang sayu. Tora mendengus pelan. “Cih,” gumamnya, hampir tidak terdengar, tapi cukup untuk menunjukkan ketidak sabarannya. “Kalau sakit, jangan lama-lama.” Ia melangkah masuk beberapa langkah, berhenti di dekat kaki ranjang. Tatapannya tetap dingin, menilai, seperti melihat sesuatu yang tidak bekerja sesuai fungsinya. “Kamu tahu tugasmu, kan?” ucapnya datar. “S

