Beberapa hari setelah demam itu pergi, Kirana akhirnya bisa bangun dengan tubuh yang terasa lebih ringan. Kepalanya tidak lagi berdenyut, langkahnya tidak lagi goyah. Pagi itu, ia sudah berdiri di dapur lebih awal dari biasanya, mengikat celemek, menyiapkan sarapan dengan gerakan yang hati-hati—seolah takut kalau tubuhnya kembali protes kalau ia terlalu memaksakan diri. Wajan di atas kompor mengeluarkan suara pelan. Ajroma makanan mulai memenuhi dapur. Kirana mengaduk perlahan, mencicipi sedikit, lalu menambahkan bumbu secukupnya. Ia tidak ingin mengulang kesalahan. Tidak hari ini. Di benaknya, ada rasa campur aduk. Lega karena sudah lebih baik. Tapi juga cemas, karena setiap kali ia kembali ke rutinitas ini, ia tahu posisinya di rumah itu tidak pernah berubah. Ia tetap Kirana yang harus

