Pagi di Puncak terasa jauh berbeda dari kota. Udara begitu bersih sampai setiap tarikan nafas terasa lebih dalam. Kabut tipis masih menggantung di antara lereng-lereng hijau, sementara matahari perlahan naik dari balik bukit, menyoroti hamparan kebun teh yang luas seperti permadani. Kirana berdiri di tepi jalan kecil berbatu, kamera di tangannya. Klik. Suara shutter terdengar pelan ketika ia memotret barisan tanaman teh yang tersusun rapi mengikuti kontur bukit. Ia memiringkan sedikit kameranya. Klik lagi. Cahaya pagi memantul lembut di daun-daun hijau muda yang masih basah oleh embun. Kirana menghela napas panjang. Udara sejuk memenuhi paru-parunya. Aromanya khas—campuran tanah lembap, daun teh, dan kabut gunung. “Indah sekali…” gumamnya pelan. Ia menutup mata sejenak, menghirup

