Perjalanan menuju Puncak dimulai pagi sekali. Udara masih dingin ketika mobil-mobil di halaman rumah mulai dipanaskan. Kabut tipis menggantung di sekitar pepohonan, sementara suara mesin mobil bercampur dengan langkah para ART yang membantu membawa beberapa tas kecil. Tora berdiri di dekat mobilnya, memeriksa sesuatu di ponsel. Wajahnya tetap seperti biasa—tenang, tegas, sulit ditebak. Murni berdiri di sampingnya dengan mantel tipis, terlihat cukup bersemangat meskipun tubuhnya masih belum sepenuhnya kuat. Rafan sudah berada di dekat mobilnya sendiri, bersandar santai di pintu pengemudi. Sementara Kirana berdiri sedikit menjauh dengan tas kecil di tangannya. Ia tahu sejak awal perjalanan ini tidak akan sederhana. “Rafan bawa mobil sendiri saja,” ujar Tora datar. “Kirana ikut dengan sa

