Ruang keluarga terasa hangat malam itu. Lampu kuning lembut memantul di dinding, menciptakan suasana yang sekilas tampak damai. Murni duduk di sofa panjang dengan selimut tipis menutupi kakinya. Tora duduk di sebelahnya, sedikit condong, memperlihatkan layar ponselnya. “Kita ke Puncak saja,” ujar Murni lembut. “Sudah lama tidak ke sana.” Tora mengangguk pelan. “Cuacanya sedang bagus. Tidak terlalu ramai kalau berangkat lebih pagi.” Nada suara mereka ringan. Teratur. Seperti pasangan yang memang terbiasa merencanakan sesuatu bersama. Di kursi seberang, Kirana duduk tegak dengan tangan terlipat rapi di pangkuan. Ia tidak menyela. Tidak memberi komentar. Ia hanya mendengarkan. Liburan. Kata itu terdengar seperti milik orang lain. Rafan duduk agak menyamping di ujung sofa, memainkan pon

