Menarik napas dalam, Leana menatap Melvin lama sekali.
“Oke.” Dia berkata singkat. “Oke. Ayo kita lakukan, tanpa kontrak. Tapi, kau tahu kan, itu tidak semudah itu. Ada banyak hal yang harus diurus, Vin,” katanya.
Justru kali inilah Melvin yang bengong.
“Heleh. Gantian siapa yang bengong. Siapa yang ngajak nikahnya?” Leana berdecak sebal.
Melvin terkekeh kecil. “Ya, maaf. Aku kaget juga. Aku pikir harus effort lagi,” katanya. “Untuk yang lainnya, kau tak perlu memikirkannya, Na. Kau hanya perlu menyampaikan kesediaanmu saja, sisanya aku akan urus termasuk surat nikah dan juga orang tua kita.”
Mata Leana membulat mendengar apa yang Melvin katakan itu.
“Kau gila?”
Dahi Melvin mengerut.
“Apanya?”
“Orang tua? Kau akan bicara dengan orang tuaku? Nggak. Nggak usah, Vin.”
“Bagaimana mungkin nggak, Na? Ngaco kamu. Pokoknya, aku yang akan urus itu. Kau, fokus saja menyusui Alvaro dan … tetaplah di sisi aku, Leana. Itu sudah lebih dari cukup.”
Tapi mata Leana memicing mendengar apa yang Melvin katakan. Tidak biasanya Melvin demikian. Tapi, dia tak melanjutkannya, melanjutkan pikiran yang sempat singgah itu. Hanya berpikir, mungkin waktu yang berlalu itu memang mengubah seseorang walau sedikit.
“Ya, oke. Terserah. Kau tepati janji saja sudah cukup.” Leana lebih memilih pergi dari sana untuk mengecek bayi Alvaro. Sudah waktunya juga bermain.
Sepeninggal Leana itu, Melvin diam di tempatnya. Ada banyak sekali pikiran dan beban lain yang diembannya. Hanya saja, dia tidak begitu memperlihatkannya. Tapi kehadiran Leana itu sebuah berkah untuknya.
“Janjiku dan janji padanya, akan aku lakukan perlahan, Na.” Melvin terpejam, membiarkan sekelebat ingatan dalam benaknya. Dia … terlalu lelah untuk bicara.
Andai saja, takdir itu bisa diketahui oleh manusia, apakah bahagia akan bisa digenggam tanpa harus terluka? Tapi sayangnya, semesta kadang bekerja dengan cara yang gila, sesuatu yang tak bisa diakali manusia.
***
Leana tak banyak interaksi dengan Melvin. Hanya sibuk dengan Alvaro tanpa sempat menjelajah. Rumah itu sepi, tidak ada ART di sana dan Melvin tak banyak menjelaskan apapun selain mewanti-wanti Leana agar berhati-hati di rumahnya itu sementara dia pergi untuk beberapa urusan karena bagaimanapun juga Melvin adalah seorang direktur yang memegang sebuah perusahaan besar. Seingat Leana, Melvin memang kaya.
Namun, ketenangan Leana yang duduk santai di ruang tengah dengan bayi Alvaro di sofa itu terganggu dengan suara bel. Ada sebuah interkom di ruang tengah itu yang bisa memonitor tamu di depan gerbang. Melvin mengatakan untuk bertanya lebih dulu siapa tamu yang datang dan jangan membukanya sembarangan.
“Halo. Mencari siapa?” Leana bertanya lewat interkom itu yang menampik seorang perempuan dengan rambut panjang.
Di depan gerbang sendiri terdapat kamera kecil yang nyaris tak terlihat bentuknya dan sebuah kamera Cctv yang tergantung di atas pintu gerbang.
“Halo? Apakah ini rumah Melvin Rayder?” tanya tamu itu.
Dahi Leana mengernyit, dia bingung. Tamu itu bukan untuknya tapi untuk Melvin. Haruskah dia mempersilakan atau mengusir?
“Ah, maaf. Aku tidak benar-benar akan menemui Melvin. Aku hanya ingin bicara dengan seseorang yang tinggal di sini,” kata tamu itu.
Leana masih diam, bimbang.
Seakan tamu itu tahu tentang diamnya Leana maka dia tersenyum dan terkekeh kecil.
“Aku bukan orang jahat. Aku temannya Freya. Ada yang ingin aku sampaikan pada Melvin, jika boleh.”
Cukup lama sekali Leana diam, mempertimbangkan banyak hal, termasuk pengakuan tamu itu yang mengatakan dia adalah teman Freya. Apakah tamu itu tahu kalau Freya sudah tidak ada?
“Baik. Silakan masuk,” putus Leana kemudian. Sebelum dia menekan tombol buka gerbang, dia bertanya lagi, “Anda membawa kendaraan?”
“Ya, mobil.”
“Oke. Sebentar.”
Leana menakan tombol buka gerbang penuh agar mobil sang tamu bisa masuk dan parkir di halaman rumah Melvin itu.
Siang itu, langit mulai mendung. Aroma tanah basah tercium dari sela-sela jendela yang sedikit terbuka. Leana berjalan ke pintu setelah memastikan Alvaro aman di sofa dengan penghalang khusus agar bayi itu tidak terguling. Leana menunggu di teras tamu itu yang keluar dari mobil dan berjalan menghampirinya.
Dengan sedikit ragu, Leana menyambut. Seorang wanita berdiri di sana, mengenakan mantel panjang berwarna krem dan rambut yang diikat rapi ke belakang. Wajahnya terlihat lelah tapi lembut.
“Permisi … apakah ini rumah Tuan Melvin Rayder?” tanyanya sopan, kembali memastikan.
Leana mengangguk. “Ya, betul. Ada yang bisa aku bantu?”
Wanita itu tersenyum tipis. “Aku, teman lama Freya. Namaku Kiandra. Aku baru kembali dari luar negeri dan mendengar tentang kepergiannya. Aku tak sempat datang ke pemakamannya. Jadi aku ingin tahu apakah masih bisa melihat anaknya?”
Leana tertegun. Nama itu asing, tapi sorot matanya tidak. Ada kejujuran di dalamnya, dan kesedihan yang nyata. Dia ragu sejenak, namun akhirnya mempersilakan Kiandra masuk.
“Alvaro sedang tidur. Mari, silakan masuk,” ujar Leana sembari menuntunnya ke ruang tamu.
“Terima kasih. Kamu pasti Leana, ya?” tanya Kiandra tiba-tiba.
Leana menoleh cepat. “Kau mengenalku?”
Kiandra tersenyum. “Freya sering menyebutmu. Katanya, kau adalah satu-satunya orang yang selalu menghiburnya, yang membuatnya merasa aman. Dia sangat sedih saat kau pergi dari hidupnya.”
Hati Leana mencelos. Tiba-tiba saja, rasa bersalah itu kembali membuncah. Dia hanya menjawab dengan senyum.
“Alvaro di ruang tengah, tidur di sofa. Kita di sana saja. Aku akan membuatkan teh untukmu.”
Kiandra mengangguk dan mengikuti Leana yang mengarahkan tamunya ke sofa ruang tengah di Alvaro berada.
Beberapa menit kemudian, mereka duduk berhadapan. Kiandra memandang sekeliling rumah, lalu menatap Leana dalam.
“Boleh aku jujur?” tanyanya tiba-tiba.
Leana mengangguk pelan.
“Sebelum Freya meninggal, dia pernah menghubungiku. Kami bertukar pesan. Saat itu, dia sedang hamil besar dan sangat ketakutan.”
Leana mencengkeram cangkir tehnya. “Ketakutan?”
Kiandra menatap ke luar jendela. “Dia merasa sendirian. Katanya, dia tidak tahu apakah Melvin benar-benar ayah dari anak yang dikandungnya. Mereka, dijodohkan secara mendadak oleh keluarga. Tapi hubungan mereka tak pernah benar-benar menjadi cinta, hanya formalitas dan untuk menghargai hubungan baik kedua orang tua. Freya pernah mencintai seseorang, tapi pria itu meninggalkannya.”
Leana menahan napas. Semua kata-kata itu terasa menamparnya.
“Saat aku tanya siapa pria itu, dia hanya bilang, pria itu dulunya sahabat Melvin.”
Cangkir di tangan Leana hampir terjatuh. Dia buru-buru meletakkannya ke meja.
“Jadi, Freya hamil anak orang lain? Siapa?”
Kiandra diam. “Freya tidak tahu pasti. Dia tidak pernah melakukan tes DNA. Dia tidak mau Melvin tahu meskipun hubungannya dengan Melvin sudah ….”
Leana memejamkan mata. “Sebentar.” kepalanya terasa pusing dengan kabar itu. Bagaimana mungkin ada seorang tamu yang tiba-tiba saja menceritakan sesuatu yang mengejutkan bagi Leana. Dia membuka mata dan menatap Kiandra lagi. “Siapa yang Freya maksud?” tanyanya.
Kiandra diam, memperhatikan Leana. “Dion.”
Satu nama itu membekuka seluruh dunia Leana.
Dion.
Nama itu … haram!
“Bagaimana kau tahu?” Nada suaranya menuntut.
“Freya … menceritakan banyak hal padaku sekaligus menitipkan pesan sebelum meninggal, setelah dia melahirkan anaknya.”
“Pesan apa?”
“Pesan untuk Melvin.” Kiandra mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menaruhnya di meja. “Di dalamnya ada pesan untuk Melvin. Tolong sampaikan ke dia nanti.”
“Kenapa tidak kau saja yang memberikannya?” Leana menatap Kiandra aneh.
Kiandra tertawa. “Aku tidak bisa laam di sini, Leana. Pekerjaan aku banyak dan tidak bisa ditunda. Besok pagi aku akan terbang ke negara tetangga untuk urusan bisnis. Aku datang karena sedang sempat, jika tidak sekarang, aku takut rahasia itu tak terungkap. Kasihan Freya jika matinya tidak tenang.”
Leana diam, tertegun dengan penuturan akhir dari Kiandra.
Tapi di benaknya, semua potongan puzzle itu mulai menyatu. Freya, Dion, Melvin n, dan kini Alvaro. Melvin pasti tahu. Mungkin itulah alasan kenapa dia begitu protektif. Mungkin dia tahu Alvaro bukan anak kandungnya, tapi tetap memutuskan untuk merawatnya demi Freya.
Tapi … apa itu mungkin?