POV Puspita "Bagaimana, Mas?" tanyaku saat Mas Rasya mendekat dengan wajah muram. Ia duduk di sebelahku yang tengah menyusui Shaliha. "Tidak diangkat juga." Ia menatap HP-ku, menekan nomer Mama. Aktif. Tapi tak diangkat. Rasa menyakitkan menyeruak ke dadaku. Apa Mama benar-benar marah karena aku tak bisa datang melihat papa untuk yang terakhir kalinya? Mas Rasya menatapku lama lalu menggenggamkan HP-ku. "Mungkin mama sedang sibuk. Atau tidak pegang HP karena mama masih berkabung." Aku mengangguk walau tak merasa yakin. Tapi mempercayai hal itu setidaknya lebih baik daripada aku berpikir bahwa mama memang tengah menjauhiku. "Ibu barusan menelepon katanya sudah lewat Prinsewu. Aku tunggu ibu di rumah saja." "Mas, aku ikut pulang. Gak betah lama-lama di sini." Mas Rasya meraih piring

