POV Mira Bunyi bel membuatku yang sejak tadi hanya guling-guling ke kanan dan kiri tak bisa tidur, cepat beranjak bangun. Aku tertegun begitu membuka pintu, seorang perempuan dengan rambut tergerai tengah memapah Kak Satria yang tertunduk, suamiku nyeracau tak jelas. "Kamu siapa?" "Temannya." Aku menyingkir, membiarkannya memapah Kak Satria masuk dan merebahkannya ke sofa. Entah kenapa aku merasa tak senang saat melihatnya hendak melepas sepatu Kak Satria, maka aku mendekat dan menarik tangannya agar ia berdiri. "Kamu pulang saja, aku bisa urus suamiku sendiri." Ia menatapku sangsi. "Oh, ya? Dulu, ia tak pernah yang namanya mabuk. Apa kamu perempuan yang membuat hidupnya terbebani?" Terbebani apanya? Justru aku yang merasa terbebani. Ia mengibaskan tangan, lalu berjalan pergi. Kuant

