Aku membuka mata perlahan, mendapati Mas Rasya yang terlelap di kursi samping ranjangku. Tiang dengan infus tinggal setengah menganggung di atasnya. "Mas Rasya. Mas Rasya," gumamku sambil mengguncang tangannya. Ia membuka mata, melihat ke arahku lalu menegakkan tubuhnya. "Pus." Diusap-usapnya matanya yang menghitam tampak kelelahan dan kurang tidur. "Mana Qila, Mas?" Aku menatap sekeliling, tak mendapati Qila dimanapun. Aku mencoba bangkit, Mas Rasya membantuku bersandar pada bantal. Teringat telepon mama terakhir kali, aku tak dapat menahan isak tangis. "Kita harus segera berangkat ke Jakarta, Mas. Kita harus segera ke Jakarta." Tangan Mas Rasya mengusap air mataku. Tatapannya terlihat begitu mengasihani. Wajahnya menyiratkan kesedihan. "Qila sedang dirawat," ucapnya pelan sambil m

