Langkah kaki mereka bergema di atas lantai marmer bandara pribadi Zurich yang sangat sunyi. Udara pegunungan Alpen yang kering dan menusuk tulang memberikan kejutan instan bagi tubuh Amara yang masih terbiasa dengan kelembapan tropis Jakarta. Di sampingnya, Raka berjalan dengan bantuan tongkat penyangga, namun punggungnya tetap tegak dengan keangkuhan yang tidak bisa dihancurkan oleh peluru mana pun. Leo berjalan di antara mereka, tangan kecilnya menggenggam erat jemari Amara seolah takut jika dilepaskan, ia akan kembali terisap ke dalam kegelapan Gunung Salak yang baru saja mereka tinggalkan. Identitas mereka sekarang telah berganti sepenuhnya. Di dalam saku jaket bulu mahalnya yang berharga ribuan dolar, Amara menyimpan paspor dengan nama Isabella Vance, seorang janda pengusaha properti

