Bab 38

1357 Kata

Perahu karet darurat itu terombang-ambing di atas kegelapan Samudra Hindia, sebuah titik kecil yang tidak berarti di tengah kemarahan ombak yang menghantam lambungnya. Siska mendayung dengan sisa tenaga yang ia miliki, napasnya memburu dan tersengal, sementara Amara duduk di dasar perahu, memeluk Leo yang kini terasa lebih berat dari biasanya. Bahu Amara yang terkena serempetan peluru Arisanti mengeluarkan darah yang membasahi kain jaketnya, namun rasa sakit fisik itu kalah telak oleh kengerian yang ia saksikan pada diri anak itu. "Amara... lihat matanya," bisik Siska sekali lagi, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh air. Amara menangkup wajah Leo. Anak itu tidak menangis, tidak gemetar, bahkan tidak tampak kedinginan meski mereka baru saja terjun ke laut yang membeku. Pupil mata Leo y

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN