Hawa dingin yang tidak wajar merayap dari permukaan laut, menyelimuti kapal nelayan Pak Malik dengan kabut tipis yang berbau ozon. Kapal pesiar hitam legam di hadapan mereka berdiri kokoh seperti benteng terapung yang menelan seluruh cahaya bulan. Amara berdiri di geladak yang licin, tangannya menggenggam erat pagar kayu sementara matanya tak lepas dari sosok pria berjubah putih yang berdiri di samping ayahnya. Hendra Arisanti, pria yang pernah ia anggap sebagai otoritas tertinggi dalam hidupnya, kini tampak seperti pelayan yang patuh di hadapan sosok tersebut. "Amara, jangan melawan takdir," suara Hendra menggema, kali ini tanpa bantuan pengeras suara, terbawa angin yang mendadak sunyi. "Kau telah membawa Leo sejauh ini. Tugasmu sebagai pelindung emosional telah selesai. Serahkan dia kep

