Sisa-sisa kartu nama Thomas yang telah dirobek Amara berserakan di lantai parkiran seperti serpihan salju yang kotor. Amara duduk di balik kemudi mobilnya, namun ia tidak segera menjalankan mesin. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena kemarahan yang dingin. Ia baru saja menyadari bahwa perusahaan yang ia perjuangkan dengan darah dan air mata ternyata hanyalah salah satu simpul kecil dalam jaringan kriminal internasional yang jauh lebih luas. Ia menyandarkan kepala di sandaran kursi, menatap langit-langit mobil yang gelap. Thomas bukan seperti Dion yang ceroboh atau Arlan yang emosional. Thomas adalah tipe pria yang bisa melenyapkan seluruh kota hanya dengan satu tanda tangan tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Konsorsium yang ia sebutkan kemungkinan besar ada

