Malam itu, langit di atas Jakarta seolah ikut merasakan gejolak di hati Amara. Guntur menggelegar di kejauhan, mengirimkan getaran rendah yang merambat melalui lantai kaca penthouse Arlan. Amara duduk di depan meja rias, berpura-pura menghapus riasan wajahnya dengan gerakan yang lambat dan tenang. Melalui pantulan cermin, ia bisa melihat Arlan yang sedang duduk di sofa ruang tengah, menyesap wiski sambil menatap laporan bursa saham di tabletnya. Arlan tampak sangat tenang, terlalu tenang bagi seorang pria yang baru saja mengancam nyawa sahabatnya sendiri. Sejak pulang dari kantor tadi sore, pria itu tidak banyak bicara. Ia hanya memberikan tatapan-tatapan posesif yang membuat Amara merasa seperti seekor burung yang sedang diamati oleh predator sebelum diterkam. "Kau terlihat sangat lelah

