Bab 2

1054 Kata
Kalimat itu menghantam keras sisi pertahanan Shanin. Penilaiannya terhadap Bravendra salah besar. Pria yang kini menatapnya tajam menjadi sosok bengis dan kejam. Luka di beberapa titik tubuhnya terasa makin perih saat melihat bagaimana reaksi suaminya yang tidak memiliki belas kasihan. Bravendra mencengkeram pinggang Shanin. Sementara satu tangannya mencekik leher perempuan tersebut. Napasnya berderu panas, berembus tepat di wajah istrinya yang sudah berantakan. Ia melumat bibir Shanin dengan kasar. Shanin berusaha menghindar. Ia tidak ingin melalui malam pertamanya dengan sakit di ambang batas. Dan apa yang dilakukan suaminya kali ini benar-benar di luar akal sehatnya. Bravendra menjelma menjadi iblis berwujud manusia. "Kenapa? Huh?!" Bravendra menekankan pertanyaannya. Ia mengangkat pinggul Shanin untuk didudukkan ke atas nakas. Kedua kaki perempuan tersebut kembali dibuka lebar secara paksa. Celah yang tercipta membuat tubuh tegapnya masuk cepat ke sana. "Kamu mau apa, Mas?!" Suara Shanin meninggi. Ia menahan takut dan kecewa karena ekspektasinya terhadap pria tersebut. Sekujur tubuhnya gemetar. Entah apa lagi yang akan dilakukan Bravendra. Yang jelas, senyum pria tersebut mengisyaratkan sesuatu. Tidak banyak bicara, Bravendra langsung menyambar bibir istrinya yang sudah basah akibat bekas ciumannya beberapa detik lalu. Ia menyesapnya kuat. Memagutnya kasar dan dalam. Satu tangan pria tersebut bertahan di tengkuk istrinya. Menekannya kuat hingga ciuman itu lebuh dalam lagi. Sementara satu tangannya kini bergerak cepat ke punggung Shanin. Ia berusaha meraih pengait bra yang ada di sana. Hanya dalam satu tarikan kerasnya, pengait itu terlepas. Penyangga d.a.da itu jatuh ke pangkuan hingga memperlihatkan bagian dadanya yang penuh. Shanin hanya bisa pasrah. Sekalipun ia melawan, Bravendra justru akan melakukan hal lebih gila lagi. Ia membiarkan dirinya dalam posisi seperti sekarang, meski ketegangan itu makin besar dan sulit dikendalikan. "Aku benci setiap kali kamu memandang dia, Shanin." "Memandang siapa yang kamu maksud, Mas? Dari tadi aku nggak paham apa—" Plak! Tamparan keras itu melayang ke pipi kiri Shanin. Kalimat pembelaan yang diberikan tidak berarti sama sekali. Wajahnya yang sudah memerah makin panas. "Diam, Shanin! Arghhh!" Teriakan frustrasi Bravendra membuat Shanin menciut. Wajahnya mundur, menghindari suara keras yang menghantamnya. Ia makin mengecil di bawah tubuh pria yang berusaha mengendalikannya. "Belum cukup peringatan dariku, Shanin?" Mata basah dan sembab milik Shanin mengerjap bingung. "Peringatan yang mana, Mas? Aku bahkan merasa nggak pernah langgar perintah kamu." Sikap Shanin yang terus-menerus menyangkal membuat Bravendra makin geram. Ia langsung menenggelamkan wajahnya ke d.a.da Shanin. Bergerak kasar dan liar untuk mencari ujung dari bagian yang penuh dan menonjol itu. Bagian kecil yang sudah menegang ia lahap dengan rakus. Ujung lidahnya menyentuh dan memutarnya berulang kali. Ia biarkan Shanin beradaptasi sebentar, sebelum akhirnya permainan itu berubah menjadi mimpi buruk istrinya. Sebab, detik berikutnya, Bravendra langsung menggigit ujung d.a.da Shanin dengan kuat. Wajah perempuan tersebut terdongak refleks. Erangan keras terdengar, menahan sakit hebat di sana. Seluruh tubuhnya berkeringat. "Sakit, Mashhh ...." Bravendra acuh tak acuh. Ia justru makin memperkecil gigitannya hingga menimbulkan sensasi perih yang makin hebat. Kedua tangan Shanin sampai mencengkeram kedua bahu suaminya. Ujung kuku yang berhias kuteks merah tersebut menancap ke kulit pria itu hingga meninggalkan jejak luka. Seolah belum puas, pria tersebut menariknya kuat tanpa melepas gigitannya. Shanin membusungkan d.a.da, berharap dengan caranya yang demikian bisa mengurangi intensitas sakitnya. Sensasi asin itu terkecap oleh lidah Bravendra. Ia melepasnya. Atensinya jatuh pada bagian yang kini mengeluarkan d.arah tersebut. Satu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum miring yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Shanin masih tergugu dalam tangisan. Tangannya yang gemetar terangkat, hendak menyentuh ujung dadanya sendiri. Namun, niatnya itu tidak terealisasi ketika Bravendra lebih dulu menyentak leher sang istri dengan kasar. Brak! Punggung Shanin menghantam lampu tidur. Benda itu terjatuh dan pecah di lantai. Wajahnya mengerut, takut. Ia menggeleng. Air matanya seolah meminta permohonan belas kasihan terhadap sang suami. Namun, Bravendra tetaplah Bravendra. Ia tidak akan peduli dengan apa pun yang dirasakan orang lain, meskipun istrinya sendiri. Egonya terlalu tinggi untuk mau mengerti. Pria tersebut menatap dalam istrinya. Ia mencium bibir Shanin yang sudah bengkak untuk kesekian kalinya. Dalam waktu bersamaan, ia menarik kedua paha Shanin supaya posisinya setengah berbaring. Kini bagian bawah tubuh keduanya bersentuhan. Bravendra memegangi miliknya yang sudah kaku semenjak beberapa menit yang lalu. Pelan, tetapi pasti, pria tersebut berusaha menembus sesuatu di bawah lipatan daging milik istrinya. Hanya dalam sekali hentakan yang keras, miliknya telah tenggelam sempurna dalam bagian pangkal paha Shanin. "Arkhhh ...." Desahan itu bercampur rintihan lirih yang dibersamai dengan air mata. Shanin merasakan miliknya seperti pecah di dalam. Sakit itu, sulit didefinisikan. Lebih hebat dari luka mana pun yang dirasakan selama ini. Bravendra tidak menunggu waktu. Pria tersebut tidak memberi kesempatan untuk Shanin bernapas walau sebentar. Ia menggerakkan brutal pinggulnya. Maju-mundur dengan ritme cepat dan kasar. Bunyi derit dari nakas itu menggema keras di kamar tersebut. "Arghhh, tubuh kamu enak banget, Shanin." Racauan liar itu keluar jelas dari mulut Bravendra. Beda halnya dengan Shanin, tubuh kecil itu terentak berulang kali. Rasa sakitnya menyebar sampai ke ubun-ubun. Tidak. Ia tidak menikmatinya sedikit pun. Hanya sakit, perih, dan nyeri hebat yang tak tertahankan. Hal yang harusnya dilakukan pelan untuk pertama kali justru sebaliknya. Tubuh Shanin dihantam berulang kali. Keras dan kasar. Ia remuk redam. Beban sakitnya tambah berat ketika Bravendra menarik rambutnya kuat. Wajah Bravendra kembali tenggelam ke sisi dadanya yang belum terjamah oleh mulut. Ia menyesapnya kuat dan mengulangi tindakannya hingga meninggalkan luka di sana. "Mendesah, Shanin! Telan semua tangisanmu!" Perintah itu terdengar penuh kendali dan otoriter. Namun, Shanin hanya bisa bungkam. Ia tidak menikmatinya sedikit pun malam pertama yang penuh kehancuran dalam dirinya. Matanya sesekali mengerjap, menitikkan air mata. Deru napasnya makin melemah. Bravendra melepas penyatuan itu. Ia menarik cepat lengan Shanin untuk diposisikan membelakanginya. Pria tersebut menyetubuhinya dari belakang. Kedua tangannya sibuk meremas bagian d.a.da sang istri yang sudah terluka. Plak! Ia memukul keras b.o.k.o.ng istrinya hingga meninggalkan bekas memerah. Satu tangannya memilin dan memutar ujung d.a.da hingga darah yang keluar makin banyak. Rintihan panjang dan tangisan itu menemani setiap pergerakan pinggul Bravendra. Tidak cukup sampai di situ saja, Bravendra kini memeluk Shanin dari belakang tanpa melepas penyatuannya. Ia masih terus bergerak. Dagunya bertumpu di bahu sang istri. Embusan napas panasnya menerpa kulit dingin itu. Tanpa segan, pria tersebut langsung menggigit kuat baju Shanin. "Hentikan, Mas! Sakittt ...." Shanin meronta. Namun, bukannya berhenti, Bravendra makin menjadi. Satu hentakan kasar membuatnya menumpahkan semua yang ada dalam dirinya ke dalam tubuh Shanin. "Ini belum selesai, Shanin. Masih banyak permainan yang harus kita lakukan malam ini." **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN