Pagi hari ....
Mata sembab Shanin terbuka perlahan. Ia mengerjap berulang kali dengan perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk melalui celah jendela kamar hotelnya. Kepalanya masih berat. Nyeri dan perih masih terasa jelas di beberapa titik tubuhnya.
Perlahan, ingatan semalam kembali memenuhi ruang kepalanya. Tamparan, bentakan, serta tatapan Bravendra yang dingin dan penuh amarah masih ia ingat jelas sepenuhnya. Pecahan vas yang berserakan di lantai juga masih menjadi sisa kenangan pahit yang harus diterima dalam semalam.
Belum lagi kalimat terakhir yang sejak tadi terus menghantui pikirannya. Makian itu seperti kutukan. Mengingat semua itu, napas Shanin tercekat. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram selimutnya kuat-kuat. Ia berusaha menenangkan diri ketika tubuhnya kembali gemetar.
Tarikan dan embusan napas berulang kali ia lakukan. Barangkali hanya dengan cara itu yang bisa dilakukan untuk menekan sesuatu menyakitkan dalam dirinya. Setelah sedikit tenang, ia refleks menoleh ke samping.
Kosong. Tidak ada Bravendra di sana. Entah kenapa, ketidakhadiran suaminya di sana membuatnya makin tidak tenang. Semenjak apa yang dialami semalam, ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan. Bangun dan melihat pria itu berada di sampingnya … atau bangun lalu menyadari dirinya ditinggalkan sendiri setelah semua yang terjadi semalam.
Pelan-pelan, Shanin mengubah posisinya menjadi duduk. Tubuhnya langsung menegang saat rasa nyeri menyerang pinggang dan lengannya. Pandangannya turun perlahan ke kulit lengannya yang terhias luka memar.
Bekas cengkeraman, tekanan, dan pukulan masih menjadi tanda di kulit putihnya. Shanin meneguk ludah kasar. Tenggorokannya terasa sesak dan panas. Air matanya hampir jatuh lagi tanpa diminta. Namun, sebelum suara tangisnya pecah, derit kecil dari arah pintu kamar mandi yang terbuka membuat terenyak.
Sakit di sekujur tubuhnya makin tidak bisa ditoleransi karena rasa terkejutnya. Ekor mata hazel itu melirik singkat. Bravendra keluar dari sana dengan kemeja putih yang sudah rapi melekat di tubuhnya. Rambut pria itu masih sedikit basah.
Wajah tampan Bravendra terlihat tenang dan sempurna. Jauh berbeda dengan pria yang semalam menatapnya penuh amarah. Apa yang dilihat semalam dan pagi ini seperti dua sosok yang berbeda.
Bravendra menyadari bahwa diam-diam sang istri meliriknya. Ia menatap penuh arti ke arah Shanin. Perempuan di atas ranjang itu menunduk.
Ada sesuatu dalam diri Shanin yang mendadak takut menatap mata pria itu terlalu lama. Seakan-akan tatapan Bravendra kini mampu menghancurkan napasnya kapan saja. Mata gelap itu ... seperti ancaman yang sanggup mengambil nyawanya tanpa kenal waktu.
“Kamu sudah bangun, Sayang?”
Pertanyaan itu terdengar biasa. Namun, panggilannya justru menggetarkan hari Shanin yang sempat tenang meski beberapa detik. Nada bicaranya terlalu tenang dan manis. Meski begitu, perempuan tersebut justru meremang.
Bagaimana mungkin Bravendra bisa menghancurkanmu semalam lalu berbicara setenang ini pada pagi seperti serkarang? Shanin tertawa dalam hati. Semudah itu suaminya terjerumus dalam emosi hingga gelap mata. Semudah itu pula kini sang suami menunjukkan sisi malaikatnya.
“Sudah, Mas.” Shanin menjawabnya pelan dan singkat. Suaranya tetap lembut.
Bravendra berjalan mendekat. Ia duduk di sisi ranjang. Atensinya jatuh pada pipi istrinya yang lebam. Satu tangannya terangkat, membingkai sisi wajah Shanin. Ibu jarinya menyentuh lembut bekas lebam tersebut.
Shanin hendak menghindar. Akan tetapi, Bravendra terlalu kuat untuk menahan wajah itu supaya tidak berpaling. Perempuan tersebut akhirnya membawa pandangannya pada sang suami. Dua pasang mata itu saling bertaut.
“Masih sakit?” Bravendra bertanya tanpa menghentikan usapan hati-hati di pipi istrinya.
Perempuan itu sempat tertegun beberapa saat. Ia menggenggam pergelangan Bravendra, sebelum akhirnya menyingkirkannya pelan dari pipinya yang lebam. Tindakan Shanin membuat rahang Bravendra mengeras. Tatapannya berubah hingga sulit diartikan.
“Maaf, Mas. Aku refleks,” ucap Shanin cepat-cepat. Ia panik sendiri. “Aku nggak sengaja.”
Bravendra tersenyum kecil. Namun, senyum itu tidak sampai ke matanya. “Takut sama saya?”
Shanin tidak menjawab. Sikap diamnya sudah cukup menjelaskan segalanya. Beberapa detik dibiarkan berlalu tanpa suara. Sampai akhirnya, Bravendra berdiri dan berjalan menuju meja makan kecil di dekat jendela. Sarapan sudah tersedia lengkap di sana. Roti panggang, omelet, buah-buahan, dan kopi hangat yang masih mengepulkan asap tipis.
“Kita makan dulu, Shanin.”
Bola mata Shanin bergerak, mengelilingi tiap sisi kamar yang sudah sedikit rapi, sebelum akhirnya berhenti dan menaruh atensinya pada meja kecil itu.
“Aku belum lapar, Mas.”
“Saya tidak suka mengulang perkataan.” Bravendra berujar tanpa menoleh ke arah Shanin.
Kalimat itu membuat jemari Shanin langsung dingin. Lagi-lagi nada rendah penuh tekanan itu keluar. Tidak keras. Tidak membentak. Namun, cukup untuk membuat tubuhnya otomatis menurut.
Perlahan, Shanin turun dari ranjang. Saat melewati area lantai tempat vas pecah semalam, dadanya kembali terasa sesak. Semua pecahan kaca itu sudah dibersihkan pihak hotel. Tidak ada bekas keributan sedikit pun. Kondisi kamarnya saat ini seperti tidak pernah terjadi hal mengerikan seperti semalam.
Bravendra menarik kursi untuk Shanin. “Duduk.” Perintah itu terdengar tegas dan penuh otoritas.
Shanin tidak berani membantah. Ia duduk di kursi tersebut. Menatap nanar menu yang tersaji di sana. Bravendra bahkan begitu telaten, mengambilkan sarapan untuknya. Pria tersebut menyodorkannya pelan.
“Makan.” Bravendra kembali melayangkan perintah. Ia duduk di kursi yang ada di seberang meja Shanin.
Tidak banyak percakapan terjadi. Hanya suara denting alat makan dan keheningan yang terasa menyesakkan. Namun, dalam beberapa menit lamanya, perempuan tersebut hampir tidak menyentuh makanannya sama sekali, sementara Bravendra terlihat tenang menikmati sarapan sambil membaca sesuatu di tablet miliknya.
Pria itu tampak normal. Shanin mulai mempertanyakan kewarasannya sendiri. Apa semalam benar-benar nyata? Atau ia yang terlalu membesar-besarkan semuanya? Hanya beberapa saat, pikiran itu langsung runtuh ketika Bravendra tiba-tiba berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
“Nomor laki-laki itu sudah saya hapus dari hape kamu.” Tangan Shanin langsung mencengkeram kuat sendoknya. “Laki-laki ... siapa?” Ia bertanya ragu.
“Pratama.”
Nama itu sangat akrab di telinga Shanin. Napasnya sempat tertahan saat mendengarnya. Ketegangan itu merambat cepat, bersama dengan gugupnya yang tidak bisa dijelaskan. Nafsu makannya benar-benar hilang kali ini.
Perempuan itu menatap suaminya. “Kamu buka hape aku, Mas?”
“Kita suami istri.” Bravendra menjawab santai. Ia memasukkan potongan kecil rotinya ke dalam mulut lalu mengunyahnya pelan.
“Meskipun sudah menikah, aku tetap punya privasi.”
Kalimat itu keluar begitu saja sebelum sempat ia tahan. Dan sesaat setelah mengatakannya, Shanin langsung menyesal.
Bravendra akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya lurus, menembus mata Shanin sampai membuat napas perempuan itu sesak.
“Apa kamu bilang?”
Shanin menelan ludah susah payah, kaget melihat ekspresi suaminya. “N-nggak, Mas. A-aku cuma—”
Prang!
Suara nyaring itu muncul ketika Bravendra membanting sendoknya ke piring. Matanya berubah gelap. Amarah mulai terlihat hadir di raut wajahnya.
Belum sampai sang istri tenang dari keterkejutannya, Bravendra sudah berdiri. Ia menghampiri kursi tempat duduk Shanin dan menggenggam rambut panjang perempuan tersebut.
“Ulangi sekali lagi ucapanmu, Shanin!” Bravendra menjambak rambut istrinya. Wajah Shanin terdongak kasar.