Bab 4

1121 Kata
“Maaf kalau aku salah bicara, Mas.” Shanin berbicara susah payah. Jambakan di rambutnya terasa makin kuat. Rambutnya seperti hendak terlepas dari kulit kepalanya secara bersamaan. Bravendra tidak suka ada penghalang dalam hubungannya. Apa yang telah diklaim sebagai miliknya harus patuh dan tidak boleh merahasiakan apa pun darinya. “Privasi?” ulang Bravendra sambil terkekeh sinis. “Dalam rumah tangga ini, saya nggak suka ada sesuatu yang disembunyikan.” Kalimat itu menekan. Shanin memejam ketika rasa perih itu terasa di kulit kepalanya. Tatapan perempuan tersebut memelas, memohon supaya Bravendra memberinya sedikit hati untuk memperlakukannya kali ini. Perempuan itu menggeleng lemah. “Aku nggak nyembunyiin apa-apa dari kamu, Mas.” “Bagus.” Bravendra melepas kasar genggaman di rambut panjang Shanin. Ia kembali berdiri tegak. Kedia tangannya berkacak pinggang. Tatapannya penuh jemawa. “Berarti mulai sekarang saya bebas melihat isi ponsel kamu kapan pun saya mau.” Sejenak, Shanin berusaha mengurangi rasa sakit di rambutnya. Ia menatap pria di depannya dengan sorot keberatan. “Itu berlebihan, Mas. Bukankah kita sudah saling percaya? Itu komit kita dari awal, ‘kan?” “Menurut kamu?” Satu alis Bravendra menukik tajam. “Hubungan kita nggak seharusnya seperti ini.” Shanin meneguk ludahnya susah payah. Ia be5rusaha bernegosiasi dengan emosi Bravendra yang sudah melampaui batas. Tatapan Bravendra langsung berubah lebih dingin. “Lalu hubungan seperti apa yang kamu mau? Hm? Membiarkan istri saya dekat dengan laki-laki lain?” Shanin langsung mempertegas tatapannya. “Pratama cuma temanku. Harus berapa kali aku bilang sama kamu? Kami sebatas teman dan dekat karena proyek kuliahku.” Bravendra berdecih sinis. “Saya bosan dengar nama dia.” Satu tangannya bergerak, menampar ringan pipi kiri sang istri. “Dan alasan kamu terlalu klise untuk saya dengar.” Shanin mengusap pipinya lagi. Sosok Bravendra yang mendadak ringan tangan menjadi kejutan paling tak terduga baginya. Atmosfer ketegangan makin meningkat. Ia bisa merasakan bagaimana emosi suaminya perlahan naik hanya dari perubahan tatapan matanya saja. Dan yang paling membuatnya takut, tubuhnya mulai terbiasa membaca tanda-tanda itu. “Aku capek kalau kita harus bertengkar begini,” bisik Shanin lirih. Bravendra diam beberapa saat, sebelum akhirnya maju satu langkah. Posisinya lebih dekat dengan Shanin sekarang. Lantas, tanpa kalimat apa pun, ia menekuk kedua lututnya dan berjongkok tepat di depan istrinya. Sikapnya yang demikian perempuan tersebut membeku di tempatnya. Pria itu memegang kedua tangan Shanin perlahan. Hati-hati dan lembut. Setiap gesturnya seakan menjaga. Seolah-olah takut sang istri tersakiti. Tatapan matanya melunak. Tidak ada raut dingin. Tidak ada wajah bengis yang baru saja melukainya. Sikap Bravendra yang tiba-tiba berubah justru membuat d.a.da Shanin makin sesak. “Saya cuma nggak mau kehilangan kamu, Arshanin.” Kalimat itu terdengar tulus. Sangat tulus. Shanin makin bingung, harus membenci atau mengasihani pria di depannya. Padahal, jelas sang suami adalah pria pertama yang membuatnya jatuh cinta sekaligus trauma. “Aku paham.” Hanya jawaban singkat yang Shanin berikan karena saking bingungnya harus menjawab apa. Tenggorokannya tercekat. Terlalu sulit baginya memaafkan maupun melupakan apa yang terjadi semenjak malam pertama. Namun, di sisi lain, ia juga sangat mencintai pria tersebut. Bravendra mengusap punggung tangan istrinya lembut. “Kamu janji nggak akan tinggalkan saya?” Bola mata Shanin bergerak, meniti wajah Bravendra. Pria tersebut terlihat serius sekaligus tulus. Walau begitu, tetap saja ia ragu selama sepersekian detik. Menyaksikan bagaimana sikap Shanin, keraguan kecil perempuan itu ternyata cukup membuat sesuatu di mata Bravendra berubah lagi. Genggam di kedua tangan istrinya langsung berubah jadi cengkeraman yang langsung mengencang. “Shanin.” Suara itu tidak keras juga tanpa bentakan. Hanya ketegangan yang cukup membuat Shanin terenyak. Tatapan perempuan itu fokus. “Aku janji.” Perempuan itu menjawab cepat. Bravendra tersenyum tipis. “Good girl.” Entah kenapa, kalimat sederhana tersebut membuat Shanin merasa makin kecil. Seakan-akan dirinya bukan istri, melainkan seseorang yang sedang dilatih untuk selalu patuh. Tidak lama kemudian, ponsel Bravendra berdering. Pria itu berdiri dan menerima panggilan dengan wajah yang langsung berubah profesional dalam hitungan detik. Shanin masih bisa mendengar beberapa kata tentang rumah sakit, pasien kritis, dan operasi darurat sebelum telepon itu akhirnya ditutup. “Setelah ini kita pulang ke rumah utama,” ujar Bravendra sambil merapikan jam tangannya. “Tetap tutup mulutmu dan bersikap sewajarnya jadi seorang istri.” Jantung Shanin berdegup makin kencang. Rumah utama keluarga Mahardika. Entah sebab apa, sejak dulu rumah itu selalu membuatnya merasa tak nyaman. Terutama karena keberadaan Benny Mahardika--ayah Bravendra--yang tatapannya selalu terasa menekan dan sulit ditebak. “Mas ….” Shanin memberanikan diri membuka suara. “Aku boleh tinggal beberapa hari di rumah Papa dulu, nggak?” Hening. Bravendra perlahan menoleh. Tatapannya mendadak datar. “Untuk apa?” “Aku cuma pengen ketemu Papa.” Terakhir kali melihat sang papa saat ijab qobul kemarin. Itu pun tidak lama karena papanya perlu istirahat lebih banyak setelah sesi foto selesai. Rindu sekali rasanya Shanin dengan pria yang selama ini sudah membesarkannya sendirian. “Kamu bisa ketemu nanti.” Bravendra menjawab santai. “Aku kangen Papa, Mas. Aku pengen lihat keadaannya.” Shanin kembali berbicara. Rasa ingin tahu keadaan ayahnya benar-benar tidak bisa dibendung lagi. “Kalian baru bertemu kemarin, Shanin.” Tanggapan dengan nada rendah itu muncul lagi, membuat tenggorokan Shanin langsung mengering. Shanin menelan ludahnya dengan susah payah. Ia berusaha mencari alasna yang lebih meyakinkan lagi. Harapannya untuk bertemu papanya sangat besar. Perempuan itu ingin memeluk dan sebatas memastikan keadaannya. “Cuma beberapa hari, kok, Mas. Aku mohon ....” “Tidak.” Jawaban itu keluar singkat. Tegas. Mutlak. Perempuan itu menggenggam jemarinya sendiri di bawah meja. “Papa lagi sakit, Mas. Aku cuma pengen—” Brak! Bravendra membanting telapak tangannya ke meja hingga Shanin tersentak keras. Gelas di atas meja sampai bergetar. Napas perempuan itu langsung tercekat ketakutan. “Kenapa kamu selalu minta pergi dari saya?” desis Bravendra pelan, tetapi penuh tekanan. “A-aku nggak pergi—” “Baru semalam menikah, sekarang kamu mau pulang ke rumah ayahmu?” Napas pria itu mulai berat. “Kamu menyesal menikah sama saya?” “Bukan begitu, Mas.” “Lalu apa?!” Nada bicara Bravendra meninggi. Sesuatu yang sempat padam kini kembali membara dan lebih panas. Emosinya benar-benar terbakar. Air mata Shanin jatuh, tanpa bisa ditahan. “Aku cuma pengen ketemu Papa ….” Bravendra menatap istrinya lama. Sangat lama. Sampai akhirnya, pria itu tertawa kecil tanpa ada kehangatan sedikit pun. “Saya paham sekarang.” Shanin menggeleng, seolah tahu apa yang dipikirkan suaminya. “Nggak … kamu salah paham lagi.” “Kamu takut sama saya.” Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi. Karena kali ini … Bravendra benar. Shanin memang takut. Dan yang paling mengerikan, ketakutan itu baru saja dimulai. “Itu sebabnya kamu mau pergi ke rumah ayah kamu, sembunyi di sana. Dan ... kamu mau bertemu Pratama untuk minta perlindungan? Begitu?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN