Bab 8

1350 Kata
Keesokan harinya .... Setelah kemarin sempat menghadapi kecurigaan Rima, semalam Shanin bisa tidur nyenyak karena Bravendra yang tidak bertindak kasar padanya. Pria itu seperti membiarkannya beristirahat tenang tanpa kembali menunjukkan sikap implusifnya. Siang ini, Shanin sudah duduk di salah satu kursi meja makan. Meja marmer itu dikelilingi oleh mertua dan suaminya. Piring di hadapan masing-masing sudah terisi nasi dan lauk-pauk yang dimasak oleh juru masak mansion Mahardika. Di seberangnya, pria paruh baya itu mengangkat wajah perlahan. Tatapannya tajam dan penuh tekanan meski tanpa perlu berbicara banyak. Ada sesuatu dalam sorot mata itu yang membuat siapa pun enggan berlama-lama menatapnya balik, seakan setiap kata yang belum terucap sudah lebih dulu menekan ruang di sekitarnya. Wajah Bravendra yang dingin seperti langsung terlihat jelas sumbernya saat Shanin menatap pria tersebut. Dan untuk sesaat, ia merasa sedang berhadapan dengan dua versi dari orang yang sama, hanya berbeda usia. “Sudah resmi jadi nyonya Mahardika sekarang,” ucap Benny datar. “Iya, Pa,” jawab Shanin pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen. Namun, perempuan itu memaksakan diri menjaga nada bicaranya tetap stabil, seolah ketenangan permukaan bisa menutupi apa pun yang bergolak di dalam. Benny hanya mengangguk kecil lalu kembali menyesap kopinya. Namun, sesaat sebelum mengalihkan pandangan, mata Shanin menangkap sesuatu di pergelangan tangan Rima. Memar samar. Sangat samar hingga nyaris tidak terlihat, seperti sesuatu yang sengaja disembunyikan di balik gelang emas tipis yang melingkar di sana. Namun, pemandangan tersebut cukup membuat napas Shanin tercekat. Cukup untuk membuat waktu di ruang makan itu terasa berhenti sepersekian detik baginya seorang diri. Refleks, pandangannya kembali naik menatap wajah ibu mertuanya. Ia mencari jawaban dari raut yang biasanya begitu tenang itu. Sadar sedang menjadi perhatian sang menantu, Rima buru-buru menarik lengan bajunya sedikit turun sambil tetap mempertahankan senyum tenangnya. Gerakan itu sudah menjadi kebiasaan lama yang dilakukan tanpa perlu dipikirkan lagi. “Ayo, makan dulu.” Daada Shanin mendadak terasa dingin. Ada sesuatu yang runtuh perlahan di balik tulang rusuknya. Bukan karena terkejut semata, melainkan karena ia mulai memahami sesuatu yang jauh lebih besar dari luka-luka di tubuhnya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, pikiran mengerikan itu muncul jelas di kepalanya. Bravendra mungkin tidak tumbuh menjadi seperti ini sendirian. Ia besar di rumah yang penuh luka sejak awal, dan barangkali kekejaman yang ia warisi bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul semalam, melainkan sesuatu yang sudah lama tertanam jauh sebelum nama Shanin disebut dalam hidupnya. Makan siang berlangsung cukup tenang. Rima beberapa kali mencoba mengajak Shanin berbicara tentang kuliah, rumah sakit, hingga rencana bulan madu mereka. Suaranya selalu dibuat ringan, berusaha menjaga meja makan itu tetap terasa hangat meski atmosfernya sendiri terasa berat. Namun, sepanjang meja makan itu, Benny lebih sering berbicara soal pekerjaan dan bisnis dengan nada penuh tuntutan. Bangunan ini pun seperti tunduk pada jadwal dan target yang ia tetapkan sendiri. “Besok kamu langsung kembali ke rumah sakit?” tanya Benny pada Bravendra. “Iya.” Jawaban singkat itu keluar tanpa keraguan, seperti sudah menjadi kesepakatan tak tertulis antara ayah dan anak yang tidak perlu dipertanyakan lagi. “Bagus. Jangan terlalu lama meninggalkan pekerjaan hanya karena sudah menikah.” Tatapan Benny bergeser pada Shanin. Dingin dan menilai, mengukur seberapa besar ruang yang pantas diberikan pada seorang menantu baru. “Perempuan harus tahu diri kalau punya suami sibuk.” Jemari Shanin langsung menegang di bawah meja. Ia menahan diri untuk tidak menjawab, mengingat betapa cepatnya kalimat serupa bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih menyakitkan jika ia salah merespons. “Istri yang baik nggak akan jadi beban suaminya,” lanjut pria paruh baya itu tenang. Kalimat itu adalah sebuah aturan baku yang berlaku mutlak di rumah ini, tanpa ruang untuk dibantah oleh siapa pun yang duduk di meja tersebut. “Pa,” tegur Rima pelan. Ada nada waspada dalam suaranya, seperti seseorang yang sudah lama terbiasa meredam sebelum sesuatu membesar menjadi badai. “Kenapa?” Benny menoleh dingin pada istrinya. “Saya cuma bicara fakta.” Suasana mendadak hening. Bahkan suara sendok yang beradu dengan piring seperti ikut menahan diri, seakan seluruh ruangan tahu persis kapan harus diam. Dan dalam keheningan itu, sesuatu perlahan runtuh dalam diri Shanin. Cara Benny berbicara serta cara pria itu mengontrol suasana hanya dengan nada suara rendah dan tatapan tajam, tanpa perlu mengangkat tangan maupun membentak. Semuanya terasa begitu familiar, seperti cermin yang memantulkan wajah lain yang baru semalam ia kenal lebih dalam. Bravendra benar-benar tumbuh dari rumah yang tidak cukup bersahabat menurut Shanin. Pikiran itu terus berputar dalam kepala perempuan tersebut sepanjang sisa makan siang, membuatnya nyaris lupa mengunyah apa yang ada di piringnya sendiri. Beberapa jam kemudian .... Bravendra mendapat panggilan darurat dari rumah sakit dan mengharuskannya pergi saat itu juga. Sebelum keluar dari mansion, pria tersebut sempat menghampiri Shanin yang berdiri di dekat tangga. Langkahnya tenang, tetapi tetap membawa aura yang membuat perempuan itu otomatis menegakkan punggung. “Saya pergi cuma sebentar.” Shanin mengangguk kecil, berusaha menjaga wajahnya tetap datar meski hatinya diam-diam berharap kepergian itu bisa memberinya sedikit ruang untuk bernapas lega. Bravendra menatap istrinya beberapa detik, sebelum tangannya naik membelai pipi perempuan itu perlahan. Sentuhan lembut tersebut justru membuat tubuh Shanin refleks menegang tanpa sadar. Tubuhnya sendiri seperti telah belajar untuk waspada terhadap apa pun yang datang dari tangan tersebut, bahkan ketika niatnya tampak lembut sekalipun. Tatapan Bravendra seketika berubah. Sesuatu di matanya berkilat tajam. Ada kekecewaan yang bercampur dengan rasa terluka yang tidak pernah benar-benar ia akui. “Masih takut sama saya?” “Nggak,” jawab Shanin cepat, terlalu cepat hingga jawabannya sendiri terdengar rapuh di telinganya. “Sure?” Mengangguk, Shanin berusaha meyakinkan. “Aku cuma kaget.” Ia menahan getar di suaranya, juga memaksakan senyum tipis yang ia harap cukup meyakinkan. Bravendra mengusap pipinya sekali lagi sebelum mendekatkan wajah ke telinga Shanin. “Jangan membuat saya terlihat buruk di depan keluarga saya sendiri.” Bisikan itu terdengar lembut, tetapi berhasil membuat darah Shanin membeku. Sebab, ia tahu persis kalimat semanis apa pun yang keluar dari mulut pria itu selalu menyimpan ancaman di baliknya. “Iya, Mas.” Shanin akhirnya menjawab, meski mati-matian menahan gugup di wajahnya. Pria itu lantas mengecup bibir Shanin. Mempertahankannya beberapa detik, sampai akhirnya tersenyum penuh arti. “Saya pergi.” Shanin mengangguk, menatap kepergian suaminya. Mansion mendadak terasa jauh lebih sunyi. Suara langkah kaki Bravendra yang menjauh di lorong marmer seperti membawa serta seluruh ketegangan yang tadi memenuhi udara, menyisakan kekosongan yang aneh, hampir menenangkan namun tetap menyimpan kewaspadaan yang tidak sepenuhnya hilang. Perempuan itu memilih kembali ke kamar dan duduk sendirian di tepi ranjang besar yang kini terasa asing baginya, meski ranjang itu bukan hal baru bagi keluarga ini. Pandangan kosongnya menatap lantai, sementara pikirannya terus mengulang semua kejadian sejak semalam, mencoba mencari titik di mana semuanya mulai berubah menjadi begitu menakutkan. Sampai akhirnya ponselnya bergetar. Ayah. Napas Shanin langsung tertahan. Cepat-cepat ia menerima panggilan itu, sebelum air matanya lebih dulu jatuh. Mendengar suara itu adalah satu-satunya hal yang masih terasa aman baginya hari ini. “Ayah?” “Shanin.” Suara Bramastya terdengar hangat dari seberang, penuh kerinduan yang tidak berusaha ia sembunyikan. “Gimana kabarnya?” Air mata yang sejak tadi ia tahan langsung menggenang lagi hanya karena mendengar suara ayahnya. Suara itu selalu berhasil menembus pertahanan yang susah payah ia bangun sepanjang hari. “Baik, Yah.” Ia menahan getar di ujung kalimatnya, berharap ayahnya tidak menyadari apa pun dari nada suaranya. “Bravendra baik sama kamu?” Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dadanya. Untuk beberapa detik, Shanin bahkan tidak sanggup menjawab. Tenggorokannya seperti tersumbat oleh semua hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak berani ia ucapkan. Karena sebagian dirinya ingin jujur. Ingin menangis. Ingin bilang kalau semuanya tidak baik-baik saja, ingin memohon supaya ayahnya datang dan membawanya pergi jauh dari rumah besar yang penuh dinding tinggi dan mata yang mengawasi ini. Akan tetapi, bayangan wajah Bravendra langsung hadir di kepalanya. Semua pengobatan ayahnya berada di tangan pria itu. Dan Shanin tahu ayahnya terlalu sakit untuk ikut memikirkan rumah tangganya sekarang. Terlalu rapuh untuk menanggung beban kekhawatiran yang bisa saja memperburuk kondisinya. “Nak? Bravendra baik kan, sama kamu? Keluarganya memperlakukan kamu dengan layak, kan?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN