Bab 7

3379 Kata
Rumah utama keluarga Mahardika berdiri megah dengan halaman luas yang tertata rapi. Dari luar, bangunan itu terlihat seperti tempat pulang yang hangat dan penuh martabat. Pilar-pilar tinggi, taman yang dirawat sempurna dan diisi berbagai tanaman hias mahal, serta suara gemericik air dari kolam kecil di sisi halaman memberi kesan tenang bagi siapa pun yang datang. Namun, ketenangan itu tidak berlaku bagi Shanin. Perempuan itu duduk di kursi penumpang dengan tubuh menegang sejak mobil Bravendra memasuki gerbang utama. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan. Matanya sesekali menatap keluar jendela, tetapi pikirannya justru tertinggal jauh di kamar hotel yang meninggalkan terlalu banyak luka. “Kita turun, Shanin,” ucap Bravendra. Nadanya jauh lebih lembut, sangat berbeda saat berada di hotel tadi. Shanin tersentak kecil. Ia menoleh ke arah suaminya yang sudah lebih dulu membuka pintu mobil. Wajah Bravendra terlihat tenang, begitu rapi dengan kemeja putih dan jas gelap yang membuatnya tampak seperti pria paling sempurna di mata orang lain. “Iya, Mas.” Suara Shanin terdengar nyaris berbisik. Ia membuka pintu mobil dengan hati-hati, kemudian turun perlahan. Tubuhnya masih terasa nyeri ketika bergerak, tetapi perempuan itu menahannya dalam diam karena tidak ingin Bravendra melihatnya meringis terlalu jelas. Bravendra berjalan memutar ke arahnya. Di depan para pelayan yang menyambut kedatangan mereka, pria itu meraih tangan Shanin dengan lembut. Genggaman itu terlihat manis bagi mata orang lain, tetapi bagi Shanin ... sentuhan itu seperti peringatan yang tidak perlu diucapkan. “Bersikap sewajarnya,” bisik Bravendra rendah, tepat sebelum mereka melangkah masuk. “Sekali saja kamu bicara macam-macam, saya bisa melakukan sesuatu di luar dugaan kamu.” Shanin meneguk ludahnya susah payah. “Iya, Mas.” Begitu pintu utama terbuka, aroma kayu mahal dan bunga segar langsung menyambutnya. Beberapa pelayan menunduk sopan, sementara langkah Bravendra terdengar mantap di lantai marmer. Shanin berjalan di sisinya dengan kepala sedikit tertunduk, menjaga napasnya tetap teratur meskipun dadanya terasa penuh. “Bravendra.” Suara berat itu membuat Shanin refleks mengangkat wajah. Benny Mahardika berdiri di dekat ruang tengah dengan setelan rumah yang tetap tampak berkelas. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh kendali seakan semua yang ada di rumah ini bergerak atas izinnya. “Pa,” jawab Bravendra singkat. Benny menatap putranya sebentar, kemudian pandangannya beralih pada Shanin. Perempuan itu lantas menunduk sopan. Ada sesuatu dari tatapan pria paruh baya itu yang sejak dulu membuatnya tidak nyaman. Rasanya Benny mampu membaca kelemahan seseorang hanya dari cara orang itu berdiri. “Selamat datang di rumah keluarga Mahardika, Shanin.” Shanin memaksakan senyum kecil terbit di bibirnya. “Terima kasih, Pa.” Tidak lama kemudian, Rima Maheswari muncul dari arah ruang makan. Wajahnya lembut, teduh, dan hangat. Berbeda jauh dari Benny yang selalu terlihat seperti dinding tinggi, Rima justru seperti ruang kecil yang memberi sedikit udara untuk bernapas. “Shanin, Sayang.” Rima mendekat dengan senyum penuh kasih. “Akhirnya, kamu resmi jadi bagian dari keluarga ini.” Shanin berusaha membalas senyum hangat itu. “Iya, Ma.” Rima menggenggam kedua tangan Shanin, lalu menatap wajah menantunya lebih lama. Ada jeda kecil di sana. Mata lembut wanita itu seolah menangkap sesuatu yang tidak semestinya ada di wajah pengantin baru. “Kamu pucat sekali, Nak,” ucap Rima pelan. “Lagi nggak enak badan?” Tubuh Shanin menegang. Bola matanya melirik ke segala arah, berusaha untuk emncari jawaban paling valid dan meyakinkan. Bravendra yang berdiri di sampingnya langsung menjawab, sebelum Shanin sempat membuka mulut. “Dia kelelahan, Ma. Acara kemarin cukup panjang durasinya.” Rima menoleh pada putranya. “Wajar. Pengantin baru biasanya memang kurang tidur.” Kalimat itu terdengar ringan. Bahkan Benny sempat tersenyum tipis mendengarnya. Namun, Shanin justru merasakan seluruh tubuhnya mendingin. Ia menunduk makin dalam, menyembunyikan wajahnya yang perlahan terasa panas oleh rasa malu dan takut. Bravendra merengkuh pinggang istrinya. Gerakan itu terlihat penuh perhatian. Meski tanpa ada yang tahu, tekanan jemarinya di sisi tubuh Shanin membuat perempuan itu paham bahwa dirinya tidak boleh mengatakan apa pun. “Masuk dulu, Nak. Kita bicara di meja makan.” Mereka berjalan menuju ruang makan besar yang sudah tertata sempurna. Meja panjang dari kayu gelap dipenuhi berbagai hidangan. Sup hangat, ayam panggang, tumisan sayur, ikan saus madu, serta beberapa makanan lain tersaji dengan rapi, seakan rumah ini selalu siap menerima tamu penting kapan saja. Shanin duduk di samping Bravendra. Di seberang mereka, Benny mengambil tempat duduk dengan sikap tenang dan berwibawa. Rima duduk di sisi lain, masih sesekali memperhatikan Shanin dengan sorot mata lembut yang membuat hati perempuan itu makin tidak karuan. “Bagaimana kamar hotelnya?” tanya Rima sambil mengambilkan sup untuk Shanin. “Nyaman?” Shanin menatap mangkuk kecil yang disodorkan ke arahnya. “Nyaman, Ma.” “Brave memang selalu memilih yang terbaik,” ujar Rima sambil tersenyum. “Dari dulu kalau sudah menyangkut orang yang disayang, dia tidak pernah setengah-setengah.” Bravendra tersenyum kecil. “Mama terlalu memuji.” “Memang begitu kenyataannya.” Rima menatap putranya dengan bangga. “Kamu selalu serius menjaga apa yang kamu punya.” Shanin menunduk. Kalimat itu harusnya membuatnya senang. Kenyataannya, kata itu justru menusuk sesuatu di dalam dirinya. Semalam, bahkan sampai pagi tadi, Bravendra berulang kali membuatnya sadar bahwa dirinya bukan lagi perempuan bebas, melainkan sesuatu yang diklaim penuh oleh pria itu. “Shanin,” panggil Benny. Perempuan itu segera mengangkat wajah. “Iya, Pa?” “Mulai hari ini, kamu tinggal di rumah ini dulu sampai rumah kalian siap ditempati.” Shanin terdiam sesaat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tinggal di rumah ini berarti ia harus jauh dari ayahnya, jauh dari tempat yang selama ini membuatnya merasa aman. Rumah ini membuatnya terlalu dekat dengan Bravendra yang seperti tidak memberi ruang untuknya bernapas bebas. “Shanin pasti setuju, Pa,” jawab Bravendra lebih dulu. “Dia memang butuh banyak belajar menyesuaikan diri di keluarga kita.” Benny mengangguk pelan. “Bagus. Istri keluarga Mahardika harus tahu cara membawa diri.” Perempuan itu menggenggam sendoknya lebih kuat. “Iya, Pa.” “Hanya itu?” Benny bertanya datar. Shanin tersentak kecil. Dahinya mengernyit bingung. “Maksud Papa?” Benny menaruh gelasnya perlahan. “Kamu sekarang bukan lagi anak gadis yang bisa pulang pergi sesukamu. Nama suamimu melekat di belakang setiap tindakanmu. Kamu paham?” Punggung Shanin menegak. Sekujur tubuhnya mendadak panas dingin. “Paham, Pa.” Rima menatap suaminya sebentar. “Mas, biarkan Shanin makan dulu. Dia kan, baru sampai.” Tidak ada bantahan dari Benny. Ia kembali menyantap makanannya dengan tenang. Namun, keheningan yang tersisa membuat Shanin makin sulit menelan makanannya sendiri. Bravendra mengambilkan potongan ayam dan meletakkannya ke piring Shanin. “Makan yang banyak. Dari tadi kamu belum makan dengan benar.” Perhatian itu terdengar begitu manis. Jika orang lain menyaksikannya, mereka pasti akan mengira Bravendra adalah suami yang sangat peduli pada istrinya. Shanin pun dulu akan berpikir begitu, sebelum ia tahu bahwa kelembutan pria itu bisa berubah menjadi sesuatu yang membuatnya hancur dalam waktu singkat. “Iya, Mas. Makasih.” “Kamu suka masakan rumah ini?” tanya Rima, mencoba mencairkan suasana. Shanin mengangguk pelan. “Suka, Ma. Semua masakannya enak.” “Nanti kalau ada yang tidak cocok, bilang saja sama Mama. Jangan sungkan.” Rima tersenyum lembut. “Di rumah ini, kamu bukan tamu.” Kalimat yang seharusnya membuat Shanin lega justru menghadirkan rasa sesak yang diam-diam naik ke dadanya. Ia memang bukan tamu, tetapi belum tentu diterima sebagai menantu yang selalu memilih apa adanya. Perempuan itu adalah istri Bravendra, menantu Mahardika, dan mulai hari ini setiap kata yang keluar dari mulutnya harus dipikirkan berulang kali. Rima memperhatikan Shanin yang hanya menyentuh sedikit makanannya. Naluri keibuannya seperti menangkap keganjilan yang berusaha disembunyikan. Perempuan paruh baya itu mencondongkan tubuhnya sedikit, kemudian berbicara dengan suara lebih hangat. “Kamu ada yang sakit, Sayang?” Shanin cepat-cepat menggeleng. “Nggak, Ma. Shanin cuma masih capek.” “Semalam tidurmu cukup?” Napas Shanin tertahan sesaat. Sendok di tangannya nyaris terlepas. Ia menatap piringnya lebih dalam, seolah jawaban bisa ditemukan di antara nasi dan lauk yang belum banyak perempuan tersebut sentuh. “Cukup, Ma.” Jawaban Shanin keluar dengan suara lirih. Bravendra menoleh. Tatapannya singkat, tetapi cukup untuk membuat Shanin tahu bahwa jawabannya sudah tepat. Rima tersenyum, meski sorot matanya belum sepenuhnya tenang. “Nanti setelah makan, istirahat saja. Mama sudah minta pelayan siapkan kamar kalian.” “Kamar lama saya?” tanya Bravendra, memastikan. “Iya. Mama pikir kamu lebih nyaman di sana.” Bravendra mengangguk. “Terima kasih, Ma.” Shanin diam. Ia tidak berani bertanya apakah ia boleh punya kamar sendiri. Bahkan memikirkan kalimat itu saja sudah membuat tenggorokannya terasa kering. Di bawah meja, jemarinya saling bertaut erat, menahan gemetar yang sejak tadi tidak benar-benar hilang. Percakapan makan siang itu terus berjalan dengan wajar. Benny membahas pekerjaan, Rima menanyakan rencana bulan madu, dan Bravendra menjawab semuanya dengan tenang. Sesekali pria itu tersenyum, bahkan tertawa kecil saat Rima mengenang masa kecilnya. Shanin menyaksikan semua itu seperti orang asing. Di meja ini, keluarga Bravendra terlihat hangat. Rima beberapa kali menggoda putranya dengan cerita kecil. Benny menanggapi dengan komentar datar yang membuat suasana terasa akrab. Sementara Bravendra tampak begitu tenang dan sopan. Tidak ada jejak pria yang semalam membentaknya, melukainya, dan membuatnya takut berbicara terlalu keras. “Dulu Brave ini kalau sakit paling susah minum obat,” terang Rima dengan tawa kecil. “Padahal sekarang jadi dokter.” Benny berdecih pelan. “Keras kepala dari kecil.” Bravendra tersenyum tipis. “Saya tidak keras kepala. Saya hanya tahu apa yang saya mau.” Rima kembali menguraikan tawa kecilnya. “Nah, itu namanya keras kepala.” Untuk sesaat, Shanin hampir lupa bahwa tubuhnya penuh luka. Hampir. Karena detik berikutnya, Bravendra menyentuh punggung tangannya di bawah meja. Sentuhan itu membuatnya kembali sadar bahwa setiap geraknya masih berada dalam pengawasan. “Kamu dari tadi diam, Sayang,” ucap Bravendra pelan, “kenap?” Shanin menoleh dengan hati-hati. “Aku cuma lagi mendengarkan cerita Mama dan Papa soal kamu, Mas.” “Bagus.” Satu kata itu terdengar seperti pujian. Namun, Shanin tahu ada perintah yang tersembunyi di baliknya. Ia harus tetap diam, tetap patuh, dan tidak menunjukkan apa pun yang bisa membuat keluarga Bravendra curiga. Rima yang melihat Shanin kembali menunduk merasa iba. Ia mengira menantunya hanya canggung berada di tengah keluarga baru. Dengan gerakan lembut, perempuan itu berdiri dari kursinya dan menghampiri Shanin. “Tidak apa-apa, Sayang.” Rima mengusap punggung Shanin pelan. “Awal-awal memang terasa asing. Lama-lama kamu akan terbiasa.” Sentuhan itu datang begitu lembut. Namun, tubuh Shanin langsung tersentak. Napasnya tercekat. Sendok yang ia pegang jatuh ke piring dan menimbulkan suara denting kecil. Wajahnya memucat seketika. Satu tangannya refleks menahan sisi tubuhnya yang terasa nyeri karena sentuhan Rima tanpa sengaja mengenai bagian yang masih sakit akibat pukulan Bravendra semalam. Rima membeku. “Shanin?” Bravendra yang menyadari sikap Shanin lantas menatap perempuan itu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di antara meja makan yang mendadak sunyi. Shanin menyadari semua mata kini tertuju padanya. “Aku ….” Suaranya tertahan. “Maaf, Ma. Aku cuma kaget.” Rima menatap menantunya cemas. “Mama menyentuh kamu terlalu keras, ya, Nak?” “Nggak, Ma.” Shanin menggeleng cepat, menyangkal dugaan itu. “Nggak. Shanin beneran cuma kaget.” Benny menaruh pisau makannya perlahan. Tatapannya menyipit tajam, memperhatikan wajah menantunya yang terlalu pucat untuk sekadar terkejut. “Kamu sakit?” Lagi-lagi dugaan itu keluar. Shanin membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Bravendra meraih tangan istrinya dan menggenggamnya di atas meja. “Dia masih sangat lelah, Pa. Pengantin baru.” Pria itu mengisyaratkan sesuatu yang jelas orang tuanya paham. Rima masih belum melepaskan pandangannya dari Shanin. “Tapi reaksinya tadi—” “Ma,” potong Bravendra halus, tetapi cukup tegas. “Shanin memang gampang kaget kalau tubuhnya sedang kelelahan.” Shanin menunduk. Genggaman Bravendra di tangannya mengencang sedikit. Tidak sampai menyakiti di depan orang lain, tetapi cukup untuk menjadi peringatan yang hanya mereka berdua pahami. “Iya, Ma,” ucap Shanin pelan. “Aku memang kurang enak badan.” Rima menghela napasnya panjang. Ia kembali mengusap kepala Shanin, kali ini jauh lebih hati-hati. “Kasihan sekali. Setelah ini langsung istirahat, ya?” Shanin mengangguk. “Iya, Ma.” Benny menatap Bravendra. “Pastikan istrimu sehat. Jangan sampai orang luar melihat keluarga ini tidak bisa menjaga menantunya sendiri.” “Tenang, Pa,” jawab Bravendra. “Saya pasti jaga Shanin.” Kalimat itu membuat jantung Shanin terasa mencelos. Jaga? Dahulu, kata itu selalu terdengar indah ketika keluar dari mulut Bravendra. Dahulu, Shanin percaya bahwa dijaga berarti dilindungi, dipeluk, dan diberi ruang untuk merasa aman. Namun, sekarang kata itu berubah makna menjadi sesuatu yang sempit, gelap, dan menakutkan. Rima akhirnya kembali duduk. Makan siang dilanjutkan, tetapi kehangatan tadi tidak sepenuhnya kembali. Ada sesuatu yang berubah setelah reaksi Shanin. Sesuatu yang mungkin tidak langsung diucapkan, tetapi tertinggal jelas di mata Rima. Shanin berusaha menghabiskan beberapa suap lagi. Tenggorokannya terasa sakit setiap kali menelan. Ia takut terlihat mencurigakan ataupun membuat Rima bertanya lebih jauh. Ketakutannya kembali mengarah kepada Bravendra jika nanti mereka hanya tinggal berdua. Setelah makan siang selesai, Rima meminta pelayan menyiapkan teh hangat di ruang keluarga. Benny memilih kembali ke ruang kerjanya setelah menerima telepon bisnis. Kepergiannya membuat udara sedikit lebih ringan. Hanya saja bagi Shanin, rumah itu tetap terasa seperti ruang besar yang penuh mata untuk mengawasi tiap gerak-geriknya. “Brave, kamu nanti ke rumah sakit?” Rima bertanya penuh perhatian pada sang anak. Bravendra mengangguk. “Ada operasi darurat. Itu sebabnya saya antar Shanin dulu ke sini.” “Kalau begitu, biarkan Shanin istirahat. Mama temani dia sebentar.” Shanin menoleh ke arah Bravendra. Ada kepanikan kecil di matanya. Ia tidak tahu apakah ditinggal bersama Rima lebih aman atau justru lebih berbahaya. Sebab, makin lama Rima memperhatikannya, makin besar kemungkinan perempuan itu menyadari ada yang salah. Bravendra membaca ketakutan itu dengan mudah. Ia tersenyum, lalu mengusap kepala Shanin di depan ibunya. “Tidak apa-apa. Mama itu orangnya lembut dan pengertian. Kamu istirahat saja.” Shanin hanya memberi senyum tipis. “Iya, Mas.” Rima lantas menggandeng Shanin menuju kamar yang sudah disiapkan. Langkah perempuan itu lembut dan tidak tergesa. Di sepanjang lorong, beberapa foto keluarga terpajang rapi di dinding. Shanin melihat Bravendra kecil berdiri di antara Benny dan Rima. Wajahnya datar, tetapi matanya terlihat tajam bahkan sejak usia muda. “Brave dari kecil memang bawaannya sudah cuek dan dingin, Shanin,” ujar Rima, seolah menangkap arah pandang Shanin. “Tapi hatinya baik. Dia hanya tidak pandai menunjukkan perasaan dan bicara terlalu banyak.” Shanin menatap foto itu sebentar. “Bener, Ma. Mas Brave memang irit bicara.” “Tapi dia sangat mencintaimu.” Langkah Shanin melambat mendengar ucapan Rima. Rima menoleh dan menunjukkan senyum hangatnya. “Mama bisa lihat dari caranya memperhatikan kamu.” Shanin tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk pelan, membiarkan kalimat itu masuk dan menetap seperti beban baru di dadanya. Mungkin benar Bravendra mencintainya. Namun, jika cinta itu membuatnya takut disentuh, tidak memiliki kebebasan bicara, dan mempunyai batas untuk pulang ke rumah ayahnya sendiri, Shanin tidak tahu bagian mana yang masih bisa disebut cinta. Mereka akhirnya sampai di depan kamar Bravendra. Pintu kayu besar itu terbuka setelah seorang pelayan menunduk dan mempersilakan mereka masuk. Kamar itu luas, rapi, dan maskulin. Aroma khas Bravendra samar-samar tertinggal di sana, membuat napas Shanin kembali terasa berat. “Ini kamar Brave sejak remaja.” Ia memandang menantunya. “Sekarang jadi kamar kalian.” Kamar kalian. Kata itu membuat Shanin menatap ranjang besar di tengah ruangan. Ingatan tentang kamar hotel kembali menyergap tanpa ampun. Tangannya mencengkeram ujung bajunya sendiri. Ia berusaha berdiri tegak, tetapi lututnya terasa lemah. Rima memperhatikan perubahan itu. “Shanin?” Cepat, Shanin akhirnya menoleh. “Iya, Ma?” “Kamu yakin nggak apa-apa?” Shanin memaksa bibirnya tersenyum. “Iya, Ma. Shanin cuma lelah.” Rima mendekat perlahan. Kali ini ia tidak langsung menyentuh Shanin. Kejadian di meja makan tadi membuatnya lebih berhati-hati. Tatapan lembutnya jatuh pada wajah menantunya yang terlalu muda untuk menyimpan ketakutan sebesar itu. “Kalau ada apa-apa, kamu boleh cerita sama Mama.” Kehangatan Rima hampir membuat pertahanan Shanin runtuh. Matanya memanas. Untuk sepersekian detik, ia ingin mengatakan semuanya. Ingin bilang bahwa tubuhnya sakit, perasaannya selalu gelisah, dan pernikahan yang baru berjalan sehari sudah membuatnya merasa terperangkap. Namun, bayangan wajah Bravendra yang kejam senantiasa muncul di kepalanya. “Tetap tutup mulutmu dan bersikap sewajarnya jadi seorang istri.” Peringatan Bravendra membuat Shanin terpaksa menelan tangisnya sendiri. “Terima kasih, Ma.” Rima tersenyum, meski ada kecemasan yang belum sepenuhnya hilang. “Istirahat, Nak. Mama turun dulu. Nanti kalau butuh apa pun, panggil pelayan atau langsung cari Mama.” “Baik, Ma. Terima kasih banyak.” Rima mengangguk lalu meninggalkan kamar tersebut. Setelah wanita paruh baya tersebut keluar, pintu kamar tertutup perlahan. Shanin berdiri sendirian di tengah ruangan besar itu. Sunyi langsung menyergapnya dari segala arah. Ia menoleh ke ranjang, ke pintu, kemudian ke jendela tinggi yang tertutup tirai tipis. Semuanya tampak indah dan mahal. Namun, tidak ada satu pun yang membuatnya merasa aman. Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka. Bravendra masuk. Tubuh Shanin membeku. Pria itu menutup pintu di belakangnya, kemudian berjalan mendekat dengan wajah tenang. Langkahnya tidak terburu, tetapi cukup membuat napas Shanin tertahan. “Kamu hampir membuat Mama curiga, Shanin.” Nada bicara Bravendra terdengar dingin. Shanin menunduk, menghindari pandangan suaminya. “Aku nggak sengaja, Mas. Mama menyentuh punggungku yang sakit dan aku kaget.” Bravendra berhenti di depannya. “Sakit?” Tidak ada jawaban. Shanin sepenuhnya membisu. Pria itu mengangkat dagu istrinya dengan satu jari. “Jawab.” Ia menekankan katanya, seakan mendesak. “Iya,” bisik Shanin, tidak lagi ragu mengakui. Bravendra menatapnya lama. Ada sesuatu yang bergerak di wajah pria itu. Bukan amarah. Bukan pula kelembutan sepenuhnya. Mungkin rasa bersalah yang lagi-lagi terlalu cepat ia sembunyikan. “Saya akan panggil dokter pribadi untuk memeriksa kamu nanti malam.” Shanin menggeleng cepat. “Nggak usah, Mas.” “Kenapa?” “Aku cuma butuh istirahat.” Bravendra menyipitkan mata. “Atau kamu takut dokter itu tahu sesuatu?” Napas Shanin tercekat. Pria itu menyeringai tipis. “Tenang. Dia orang saya.” Kalimat itu membuat Shanin makin lemas. Bahkan luka di tubuhnya pun berada dalam sistem kendali Bravendra. Tidak ada ruang yang benar-benar menjadi miliknya. Tidak ada tempat yang bisa ia gunakan untuk meminta tolong tanpa lebih dulu melewati izin suaminya. Bravendra mengusap pipi perempuan itu. Kali ini sentuhannya lembut, tetapi Shanin tidak bisa lagi membedakan mana kelembutan dan mana ancaman. Semua terasa sama menakutkannya. “Saya harus ke rumah sakit.” Bravendra menunduk, mencium kening Shanin perlahan. “Jangan keluar kamar tanpa izin saya.” Shanin mengangkat wajah. “Aku bahkan nggak boleh turun menemui Mama?” “Kalau Mama memanggil, kamu boleh turun.” Tatapan Bravendra menajam perlahan. “Tapi jangan mengatakan hal yang tidak perlu.” “Aku ngerti, Mas.” “Good girl.” Bravendra melepaskan sentuhannya. Ia merapikan jas yang melekat di tubuhnya, kemudian berjalan ke arah pintu. Namun, sebelum keluar, pria itu berhenti dan menoleh kembali kepada Shanin. “Satu lagi, Shanin.” Perempuan itu menatapnya dengan daada berdebar. “Jangan coba-coba menghubungi ayahmu atau Pratama selama saya pergi.” Wajah Shanin memucat. Ia benar-benar ketakutan. Bravendra tersenyum kecil, seakan sudah tahu apa yang baru saja dipikirkan istrinya. “Hape kamu ada di tangan saya.” Setelah mengatakan itu, ia keluar dan menutup pintu dari luar. Shanin berdiri mematung. Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak sama sekali. Kakinya terasa terpaku pada lantai. Dadanya sesak, matanya panas, dan seluruh tubuhnya bergetar ketika kesadaran itu menghantamnya lebih keras dari sebelumnya. Ia sendirian di rumah keluarga Mahardika. Tanpa ponsel dan tanpa tahu kabar ayahnya. Tanpa siapa pun yang tahu bahwa pengantin baru yang tampak sempurna di mata dunia itu sedang belajar bernapas di dalam rumah yang pelan-pelan berubah menjadi sangkar. Dan di balik pintu kamar itu, Shanin baru menyadari satu hal paling menakutkan--Bravendra tidak perlu menguncinya dengan rantai. Nama Mahardika saja sudah cukup membuatnya terkurung. “Aku kangen sama Ayah ....” Shanin bergumam, kemudian menangis di tengah luasnya kamar tersebut. Tidak berselang lama, suara ketukan pintu terdengar. “Shanin, buka pintunya, Nak. Ini Mama.” Sontak Shanin mengusap air matanya cepat. Ia segera memegang gagang pintu dan menarik napasnya dalam, sebelum akhirnya membukanya. “Iya, Ma?” Shanin menunduk, tidak berani menatap mama mertuanya. Rima menelisik wajah Shanin. “Kamu kenapa, Nak? Brave menyakiti kamu?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN