"KAVIN!" Kavin tersentak bangun dari mimpi bas- … indahnya. Dahi dan lehernya basah oleh peluhnya sendiri. Tubuh tinggi itu terangkat dari ranjang, telaanjang d**a, otot-ototnya menegang seperti baru selesai bertarung. Matanya menyapu sekeliling dengan cepat. Tidak ada Callara, tidak ada siapa-siapa. Hanya kamar bambu, dengan seprei kusut dan cahaya mengintip dari jendela yang masih tertutup tirai rotan. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menenangkan napas yang masih berat. Tapi tubuhnya masih tegang. Masih terasa sangat panas. Dan ketika matanya melirik ke bawah … celana tidur katun tipisnya basah oleh cairan putih lengket yang bersumber dari dirinya. Jejak mimpi itu masih tertinggal jelas di sana. “Fck it,” gumam Kavin dengan otot leher yang mencuat. Ia menunduk, memejamkan mata s

