Suamiku yang Sempurna
“Ah ... lebih cepat, Jeff ...!!”
Lenguhan Marissa menggema samar di ruang kantor eksekutif lantai dua puluh tiga milik Jeff Kusuma. Tubuh indahnya bergerak tak terkendali pangkuan pria itu, Jass mahal Jeff melorot setengah di lengannya, menjadi saksi kekacauan yang terjadi. Setiap gerakannya membuat napas keduanya memburu, udara di ruangan terasa berat oleh gairah yang tak seharusnya ada.
Jeff memejamkan mata, desahan tipis lolos dari bibirnya. Bukan karena kenikmatan, melainkan hanya ingin semua dosa yang sedang mereka perbuat cepat berakhir. Di atas meja kerjanya, dua gelas wine merah berdiri berdampingan, isinya tinggal separuh, Tak jauh dari sana, sebuah cincin pernikahan emas putih tergeletak diam, menjadi saksi bisu pengkhianatan yang tak terucap.
Tubuh Marissa akhirnya lunglai, napasnya menghembus cepat saat mencapai puncak. “Hhh … hhh … sialan Jeff, itu luar biasa.” Dia menyandarkan tubuhnya ke d**a Jeff, menyapu bibirnya ke rahang pria itu. “Hmm … aku jelas lebih menggairahkan daripada istrimu yang alim dan penurut itu, kan?”
Jeff diam dengan tatapan kosong. “Jaga omonganmu,” gumamnya dingin, “istriku tidak bisa dibandingkan dengan perempuan seperti kamu, Marissa.”
Marissa tertawa pendek, getir dan sinis terdengar di suara merdunya. “Kamu bicara begitu,” ujarnya sambil duduk tegak lagi, menggulung rambutnya ke belakang bahu, “tapi tetap saja milikmu keras setiap kali aku naik di atasmu.”
Jeff membuang napas panjang, cincin pernikahan itu dia sematkan lagi di jari manisnya. “Karena aku membayangkan istriku.”
Marissa langsung mendecih. “Mau sampai kapan kamu berbohong sama dirimu sendiri, Jeff?” Dia menyentuh d**a pria itu dengan kuku-kuku panjangnya. “Kita sudah bercinta puluhan kali. Jangan bilang kamu nggak pernah ngerasa apa-apa sama aku?”
Jeff menatap Marissa. Tatapan yang, kalau dia tak sedang telanjang, mungkin bisa disebut jijik. Tapi dia menyembunyikannya cepat. Dia tahu Marissa gampang tantrum dan itu berbahaya.
“Terserahlah,” gumamnya malas.
Marissa meraih ponselnya, membuka sesuatu di galeri, dan menunjukkannya cepat ke Jeff. Banyak video dengan gerakan liar mereka. “Ingat, Jeff,” suara Marissa berubah tajam, “aku bisa kirim video ini ke istrimu kapan saja.”
Jeff mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih. Bayangan Callara, istrinya yang sedang mengandung anak mereka, duduk di sofa rumah dengan senyum lembut tadi pagi, menghantam keras relung hatinya. “Aku memang lelaki biadap! Aku bercinta di jam makan siang dengan wanita yang bahkan tak aku cintai,” batin Jeff menjerit.
Pahit itu seketika memenuhi tenggorokan, Jeff menggigit bibirnya.
Marissa tersenyum puas, meraih gelas wine-nya. “Cheers, suami orang,” bisiknya, “semoga istrimu tetap manis, penurut dan … bodoh.”
*
*
Pukul 18.17
Seperti biasa, Jeff selalu pulang tepat waktu.
ZRRSHHHH
Hujan turun sangat deras sore itu, membasahi halaman rumah megah bergaya minimalis yang selalu tampak hangat setiap senja. Di depan pintu utama, Callara sudah berdiri dengan perutnya yang sedikit bulat khas ibu hamil lima bulan. Terbalut dress rumahan lembut, rambutnya dikuncir sederhana, wajahnya cantik bersinar … seolah dunia selalu baik-baik saja padanya.
Di sampingnya, Mbok Sri, asisten rumah tangga yang sudah menemani Callara sejak kecil, sibuk memayungkan sang nyonya dengan raut khawatir. “Non, mendingan tunggu di dalam aja,” bujuk Mbok Sri lembut, “hujannya deres begini, nanti masuk angin.”
Callara menoleh, lalu tersenyum geli. “Kan ada tolak angin, Mbok,” jawabnya santai.
“Duh, Gusti …,” desah Mbok Sri, “nanti saya yang diprotes Tuan Jeff kalau Non Calla sakit.”
Callara tertawa kecil, menggeleng. “Bilang aja aku yang maksa, Mbok. Nanti aku belain Mbok. Janji.”
Mbok Sri hanya bisa pasrah, menggeleng-geleng kecil antara sayang, khawatir, dan sudah terlalu hafal dengan keras kepala majikannya itu. Lampu mobil mewah itu akhirnya menembus tirai hujan, memasuki halaman dengan mulus. Begitu mobil berhenti, Pak Selamet, sekuriti rumah, langsung sigap membuka payung besar dan mendekat.
Ketika pintu mobil terbuka, Jeff turun dengan jas rapi, wajah tenang, ekspresi yang sama persis seperti setiap hari, wajah seorang suami sempurna yang sangat mencintai istrinya. Mungkin dari segala kebiadaban Jeff, inilah yang paling tulus di hidupnya … rasa cinta kepada Callara.
Ia menyerahkan kunci mobil ke Pak Selamet. “Tolong parkirin ya, Pak. Seperti biasa.”
“Siap, Pak Boss,” jawab Pak Selamet cekatan, lalu tersenyum lebar sambil sedikit mencondongkan badan, “pasti mau gendong Nyonya ala tipi-tipi yang muter-muter itu kan, Pak?”
Jeff terkekeh singkat. “Iya dong, Pak. Ibu negara kita kan suka yang lebay-lebay.”
Namun begitu matanya menangkap sosok Callara yang berdiri menunggunya di tengah hujan, sesuatu meremas hatinya. Tanpa ragu, Jeff langsung melangkah cepat, meraih tubuh istrinya, lalu menggendongnya dengan mudah. Tawa kecil Callara menguar ketika Jeff memutar badannya sedikit, seperti kebiasaan kecil mereka yang selalu sama sejak awal pernikahan.
“Sayang,” bisik Jeff.
Callara tertawa, lalu tanpa ragu mencondongkan wajahnya dan mencium bibir Jeff. Ya, bibir yang beberapa jam lalu masih menempel di kulit wanita lain. Callara tidak tahu dan seharusnya tidak akan pernah tahu. Kepercayaan itulah yang membuat d**a Jeff terasa semakin sesak.
“Jeff~” Callara menatapnya lembut. “Capek nggak hari ini?”
“Banget, sayang.” Jeff menjawab jujur. Namun, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Tapi pas lihat kamu, rasanya energi aku penuh lagi.”
Callara tersenyum bahagia. Senyum polos yang selalu sama. Senyum seorang istri yang percaya sepenuhnya pada suaminya. Jeff menggendong Callara masuk ke dalam rumah, melewati pintu besar yang tertutup rapat dari derasnya hujan di luar.
“Sayang,” ujar Jeff sambil berjalan pelan, “kamu jangan nungguin aku di depan rumah lagi. Ini lagi musim hujan. Kalau kamu sakit gimana? Aku khawatir.”
Callara mendengus manja. “Aku nggak apa-apa, kok. Aku mau nunggu suami aku pulang, jangan larang-larang.”
Jeff tidak membalas. Ia hanya mendudukkan Callara dengan hati-hati di sofa ruang keluarga, memastikan posisi istrinya nyaman. Tangannya terulur, mengelus perut Callara yang membulat dengan penuh sayang.
Kecupan hangat mendarat dari bibir Jeff ke perut Callara. “Halo, anak Papa,” bisiknya pelan, “gimana kabarnya hari ini?”
Callara menatap pemandangan itu dengan mata berbinar. Tangannya mengusap rambut Jeff perlahan. “Tadi siang dia nendang sedikit,” katanya ceria, “sedikit banget tapi terasa, kayaknya dia kangen Papanya.”
Jeff tersenyum bahagia, senyum yang nyaris sempurna. Terlalu sempurna untuk seorang lelaki yang beberapa jam lalu mengkhianati rumahnya sendiri. Di luar, hujan masih turun deras. Dan di dalam rumah itu, kebohongan tumbuh rapi. Terbungkus cinta, perhatian, dan kepura-puraan yang begitu meyakinkan.
Callara tiba-tiba mengernyit pelan. Sejak hamil, penciumannya memang jadi jauh lebih sensitif. Ia mengendus sekali lagi, alisnya berkerut tipis.
“Jeff …,” panggilnya pelan.
Jeff yang masih berlutut di depan perut Callara mendongak. “Ya?”
Callara mencondongkan tubuh sedikit, hidungnya menghirup halus. “Kok kamu … ada bau parfum perempuan?”