DEG!!
Detik itu juga, jantung Jeff seperti berhenti berdetak. Tangannya yang tadi mengusap perut Callara secara refleks berhenti, panik mulai merayap ke tengkuknya. Aroma manis itu, parfum Marissa. Ia pikir sudah tertutup oleh aroma hujan, udara malam, dan parfum maskulin yang ia semprotkan berulang-ulang tadi sebelum pulang.
Ternyata tidak!
“Marissa sialan!” batin Jeff menggeram, “dia sengaja pakai jasku tadi, ya? Atau memang dari awal dia niat ninggalin bau ini buat bikin Callara curiga dan tidak tenang?”
Namun, raut wajahnya tetap tenang. Jeff kembali mengelus perut Callara dengan lembut, lalu terkekeh kecil, seolah tidak ada yang perlu dicurigai darinya.
“Oh, ini?” katanya ringan, “tadi Marissa sempat datang ke kantor.”
Callara mengangkat alis. “Marissa?”
“Iya,” lanjut Jeff cepat tanpa ragu sedikit pun, “ada meeting mendadak soal proyek joint antara perusahaan papanya dan perusahaan kita. Kamu tahu sendiri sahabat kamu itu kalau pakai parfum segambreng.” Ia tersenyum, nada suaranya dibuat sesantai mungkin. “Sekretaris aku aja kayaknya bakal diinterogasi istrinya pas pulang nanti gara-gara wangi ini.”
“Ohhh! Haha kasihan banget, sih, sekretaris kamu!” Callara manggut-manggut, sama sekali tak curiga. Lalu wajah Callara tiba-tiba cerah, seperti teringat sesuatu yang menyenangkan. “Eh, ngomong-ngomong … Marissa juga chat aku tadi.”
Jeff menahan napas.
“Katanya dia mau ke rumah kita weekend ini,” lanjut Callara ceria, “udah lama nggak baking bareng! Aku kangen juga.”
Jeff melotot sesaat, cukup singkat untuk tak terlihat Callara.
“b******k! Ngapain perempuan sialan itu mau datang ke rumahku?!” batinnya mengumpat kasar. Namun, yang keluar dari mulut Jeff hanyalah senyum tipis, penuh pertimbangan. Ia berdiri, duduk di samping Callara, lalu meraih tangan istrinya dengan lembut.
“Ah, sayang …,” katanya pelan, “boleh nggak kalau dibatalin dulu?”
“Hah? Kenapa?” Callara tampak sedikit heran dan kecewa.
Jeff mengusap punggung tangan Callara. “Weekend ini aku sebenarnya sudah booking villa di Labuan Bajo buat kita. Aku sudah ambil cuti juga, lho, Sayang.”
“Labuan Bajo?”
“Iya.” Jeff tersenyum. “Yang resort villa langsung akses ke laut itu. Ingat nggak? Beberapa minggu lalu kamu bilang pengin coba nginep di sana.”
Callara terdiam beberapa detik, lalu matanya berbinar. “Oh iya! Yang aku simpan di i********: itu?”
Jeff mengangguk. “Nah, kebetulan minggu depan long weekend. Aku pikir … pas banget buat kamu istirahat, cari udara segar dan quality time kita.”
Wajah Callara langsung melunak, tangannya refleks mengelus perutnya sendiri. “Liburan bertiga sama anak kita?”
“Bertiga,” Jeff mengiyakan, “kamu, aku dan calon bayi kita.”
Callara tersenyum lebar. “Ya ampun, Jeff … kamu bikin aku deg-degan,” katanya tulus, “ya udah, aku chat Marissa sekarang.”
Jeff mengangguk pelan. Ia kembali menggendong Callara, membawanya menyusuri lorong menuju kamar tidur mereka. Kamar hangat yang penuh foto pernikahan, aroma lavender jasmine lembut favorit Callara, dan ranjang yang selalu terasa aman bagi Jeff … oasisnya. Jeff membaringkannya perlahan, memastikan punggung dan perut istrinya nyaman di atas bantal.
“Aku mandi dulu ya …,” katanya sambil tersenyum tipis, “tubuh aku rasanya lengket. Kotor banget hari ini.” Ia mengecup kening Callara singkat. “Nanti aku buatin s**u hangat. Terus kita ngobrol bareng calon bayi kita.”
Callara tersenyum lembut. “Iya. Jangan lama-lama.”
Jeff berbalik dan masuk ke kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi itu tertutup rapat, Jeff langsung melepas jasnya dengan kasar, melemparkannya ke lantai. Tangannya gemetar dan pandangannya mengeras.
“b*****t!!” umpatnya lirih.
Air mata mengalir pelan di pipinya, tanpa suara. Ia menunduk, kedua telapak tangan menahan wastafel. “Sampai kapan? Sampai kapan wanita j*****m itu akan terus ada di hidupku … dan di hidup Callara?”
Jantung Jeff terasa diremas dari dalam. Rasa bersalah menumpuk, bercampur ketakutan kehilangan Callara, cinta seumur hidupnya. Apalagi dia akan menjadi seorang ayah dari benih cinta yang dia tanamkan di rahim istrinya. Rasa jijik menyelinap setiap kali ia mengingat dirinya sendiri bersama Marissa.
Ia menyalakan keran, mencipratkan air ke wajahnya berkali-kali. Menggosok gigi keras … sangat keras. Berulang-ulang, sampai gusinya perih, sampai rasa mint menyengat, seolah bisa menghapus bau perempuan itu, menghapus juga dirinya yang kotor.
Namun pantulan di cermin tetap sama.
Seorang suami sempurna, dengan kebohongan yang retak perlahan dari dalam.
*
*
Weekend itu akhirnya tiba.
Hampir beberapa hari penuh Jeff menghindari Marissa setengah mati. Setiap pesan diabaikan. Setiap panggilan diredam. Ia ingin setidaknya satu hal, yaitu merasa bersih—atau berpura-pura bersih—sampai akhir pekan ini. Untuk Callara, untuk bayi mereka, untuk kejutan yang sudah ia siapkan dengan rapi.
Villa itu berdiri tenang di tepi laut lepas, akses langsung ke air berwarna turquoise yang berkilau di bawah matahari. Angin laut berembus lembut, membawa aroma asin yang segar khas Labuan Bajo. Langit cerah, seolah alam pun sedang berbaik hati.
Callara berdiri di teras kayu, topi putih besar elegan dengan pita beige terpasang manis di kepalanya. Dress putihnya melambai mengikuti angin. Wajahnya berbinar, tawa kecilnya pecah tanpa beban.
“Jeff! Oh my God!” serunya riang. “Cantik banget tempat ini!”
Jeff berhenti sejenak, memandangi istrinya. Perempuan yang dicintainya, yang sedang mengandung anak mereka. Tawa itu, cahaya itu, semuanya terasa terlalu berharga.
Ia melangkah mendekat dan memeluk Callara dari belakang, dagunya bertumpu ringan di bahu istrinya. Tangannya mengelus perut Callara yang mulai membesar, gerakan refleks yang selalu sama, selalu lembut.
“Kamu suka?” tanyanya pelan.
“Banget!” jawab Callara tanpa ragu.
Jeff tersenyum tipis. “Kamu bahagia, Calla?”
Callara menoleh sedikit ke belakang, pipinya menyentuh pipi Jeff. Tatapannya hangat dan jujur. “Sama kamu? Aku bahagia, Jeff.” Ia tersenyum lembut. “Terima kasih, ya.”
Jeff mengernyit kecil, nada suaranya nyaris berbisik. “Untuk?”
“Sudah jadi suami aku,” jawab Callara pelan, “lalu ayah dari anak kita.”
Kalimat itu menghantam Jeff seperti sembilu.
Ia mengeratkan pelukannya, terlalu erat untuk sesaat. Jantungnya berdenyut tidak teratur. Mengamuk antara rasa syukur yang memeluk, dan rasa bersalah yang menyayat. Di hadapannya ada kebahagiaan yang nyata. Di dalam dirinya, ada rahasia yang tak kalah nyata.
Jeff memejamkan mata.
Untuk sesaat … hanya sesaat, ia berharap waktu berhenti di sini. Di villa tepi laut ini. Di pelukan istrinya. Di antara angin, cahaya, dan janji yang ingin ia tepati … meski kebohongan sudah terlanjur berakar.