Jonathan melirik ruangan Xavera ketika pimpinan perusahaan itu berjalan bersisian bersama Tezza. Tezza yang begitu peka lantas berdeham agar Jonathan mengalihkan pandangannya. “Kau—tidak berniat putus dengannya?” tanya Jonathan membuat langkah kaki Tezza berhenti begitu saja. Dengan kedua tangan di dalam kantong celana, Tezza menatap Jonathan secara terang-terangan dengan pandangan tidak suka. “Sama sekali tidak. Jadi, lupakan saja niat Uncle untuk merebutnya.” Tezza mengucapkannya dengan sangat tegas dan lugas. Jonathan terkekeh sambil menggaruk ujung dagunya. “Kau tidak cukup mengerti pemikiran orang dewasa, ah—maksudku, wanita dewasa seperti dia. Dia hanya mempermainkanmu, aku hanya tidak ingin kau terluka pada akhirnya.” Jonathan menepuk bahu Tezza dengan senyum lebar di wajahnya.